Monday, October 10, 2016

[Sinopsis] On The Way to The Airport Episode 6

Kenapa kita bersembunyi? Tanya Do woo, “Kita harus” jawab Soo A, kenapa, kita punya 3 hal tidak? Apa yang kita lakukan? Tanya Do woo heran, membuat Soo A tercenungu sesaat ia lalu balik bertanya, Kenapa kita harus bersembunyi? Membuat Do woo tersenyum mendengarnya, Do woo masih tidak percaya, ia bertanya, apa mereka kebetulan bertemu? Tapi dielak Soo A, ia menjelaskan kalau ia sengaja datang mencari Do woo.


Do woo masih penasaran, ia bertanya kenapa ia harus ada disini? Soo A menjawab untuk bekerja karena Do woo pernah bercerita kalau ia bekerja sebagai arsitektur. Do woo memotong kenapa harus disini? Itu terlihat Soo A yang tak masuk akal, Sambil tersenyum lebar membuat Soo A semakin terpojok.

Do woo minta penjelasan lagi, kenapa dirinya minum sambil bekerja? Soo A mulai berfikir lalu menjawab, mungkin saat Do woo bekerja ia ingin minum karena cuacanya bagus, dan mungkin Do woo juga sedang memikirkan 3 hal tidak jadi dia ingin minum. (intinya Soo A tidak mau kalau pertemuan mereka itu secara kebetulan alias takdir), Do woo mengangguk-angguk sambil tersenyum, Soo A menekankan lagi kalau ia pergi mencari Do woo, dan meminta Do woo untuk tidak berfikir ini takdir.

Do woo lalu bertanya lagi, kalau memang Soo A mencarinya lalu kenapa ia menggandeng tangannya? (*doenk), Soo A terbata-bata menjelaskan kalau itu tidak sengaja, membuat Do woo bergumam kalau itu sengaja atau tidak tergantung situasi, ya jadi dia mencoba mengerti dan memgingatnya.

Soo A menghela nafas, bercerita kalau ia ingat Do woo ceritanya ibunya melakukan pekerjaan tradisonal, jadi ia berfikir mungkin Do woo ada ditempat ini, jadi dia pergi dan berharap Do woo ada dan ternyata memang aja jadi membuatnya sedikit terkejut. Membuat Do woo terharu, ia tak mengira kalau Soo A sungguh-sungguh pergi mencarinya.


Soo A melihat sekeliling ruangan itu menghindari tatapan Do woo, ia bertanya ruangan apa itu? Do wooo menjawab kalau ruangan itu kedap suara, orang luar tidak akan mendengar percekapan mereka. Soo a bertanya lagi, apa Do woo diijinkan berada disini? Do woo mengangguk walau ia harus minta ijin, karena tempat ini sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Soo A mengangguk-anguk mengerti, lalu keduanya berdiam diri, Do woo terus menatap Soo A membuatnya merasa tak nyaman, Soo A pura-pura tidak melihat kearah Do woo sambil sesekali menghela nafas. Do woo lalu memutuskan membuka jendela diantara mereka, membuat Soo A menoleh dan langsung terpesona dengan pemandangan diluar.

Episode 6

Sementara, Hye won sedang berbincang dengan Ji eun lewat telepon, awalanya mereka membicarakan masalah pencabutan dana dari keluarga Ji Eun ke bisnis Do woo. Lalu Hye won lebih tertarik bertanya apa yang Ji eun lakukan di Sidney, Ji eun menjawab kalau ia hanya menghadiri beberapa designer eksterior dan interior dari berbagai dunia.

Hye won lalu meminta Ji eun untuk menuruti perkataan ibunya dan memberitahu dia kalau ada kabar terbaru. Pas saat itu, Paman Seok tergesa-gesa pergi melewatinya, Hye won memanggilnya dan bertanya apa Do woo ada dirumah lama? Sesaat Paman Seok berfikir lalu ia menjawab tidak ada lalu bergegas jalan pergi.

Hye won kembali berbicara dengan Ji eun, kali ini menanyakan apa Ji eun tahu dengan Ibunya Hyo Eun? Langsung membuat Ji eun ketakutan. Selesai berbicara dengan Hye won, Ji eun buru-buru menelpon Hyun Woo yang sedang mempersiapkan caffe barnya.

Ji Eun bertanya apa wanita yang ditemui Do woo waktu itu, ibunya Hyo eun, ia ketakutan karena ia merasa Hye won menakutkan dengan cepat mengetahui hal itu, ia sangat gugup sekarang. Tapi, Hyun woo malah memarahi dan meminta Ji eun tidak berfikiran seperti itu, karena Do woo punya banyak teman wanita dan tak pernah mendapatkan masalah dengan mereka.

Ji eun menyesal seharusnya dulu ia menghentikan Do woo saat akan menikah, karena ia merasa Hye won benar-benar menakutkan, ia langsung bisa menangkap hal-hal seperti itu. Hyun woo kesal dan meminta Ji eun bicara sendiri ke Do woo, tapi Ji eun tak mau kalah, ia balik berteriak menyuruh Hyun woo yang bicara dan tidak memberitahu Do woo kalau ia telepon.


Sementara Do woo masih asyik memandangi Soo A yang asyik memandangi pemandangan diluar ruangan itu tadi. Dan keduanya terganggu suara panggilan Pama Seok, membuat Soo A bergegas menyembunyikan diri membuat Do woo tersenyum, ia bergegas bergeser duduk didepan Soo A untuk menutupinya, sambil ia bertanya apa Soo A akan menyapanya, tapi Soo A menolaknya.

Sampai akhirnya paman Seok berhasil menemukannya, sambil menduga kalau Do woo pasti ada ditempat itu, ia lalu bercerita tentang Young ji pegawai magang sebelum Hye won, Young ji tadi menelponnya. Mendengar itu, membuat Do woo memotongnya, ia meminta Seok menunggu diluar, ia akan menyusulnya dan berbicara disana nanti, yang diiyakan Seok.


Setelah Seok pergi, Do woo buru-buru menutup jendela lalu mendekati Soo A sambil tersenyum ia berkata kalau Soo A bisa tinggal disini lebih lama, ia bisa pergi setelah Do woo pergi, dan Soo A bisa menggunakan jalan saat mereka datang tadi, dan sebelum benar-benar pergi Do woo meminta Soo A memikirkan kembali kenapa ia ada disini?

Setelah beberapa menit kemudian, Soo A keluar dari ruangan itu, saat akan turun dia terhenyak melihat sepatunya sudah berubah arah, ternyata sebelum pergi tadi Do woo sempat merapikan sepatunya dan memutar arahnya agar Soo A bisa langsung memakainya. (*iyuh so sweet? Gimana kagak goyah tuh hati, eaaa).


Soo A perlahan-lahan jalan keluar, sampai diluar ternyata ada Nenek Go dibelakangnya, tapi ia malah fokus ke bajunya yang ternyata kancingnya lepas satu, ia tak sadar bicara sendiri kapan kancingnya terlepas. Mendnegar itu nenek Go langsung menghampirinya, dan meminta Soo A menunggu sebentar, ia mengeluarkan sebuah tali lalu membuat simpul, Soo A tidak enak ia meminta Nenek Go tidak perlu melakukan itu, tapi nenek Go meminta Soo A menunggu sebentar.

Soo A akhirnya menunggu sambil takjub melihat hasil karya Nenek Go, yang sesaat saja simpul tadi berbentu kancing bulat. Nenek Go lalu menjahitkannya kebaju Soo A, membuat Soo A semakin takjub dan senang, Nenek Go juga tertawa dia bercerita kalau dulu semua wanita bisa melakukan hal ini. Soo A lalu berterimakasih dan pamit pulang, lalu ia jalan keluar pintu gerbang.

Setelah Soo  A pergi, Nenek Go menoleh kembali ia seperti ingat sesuatu, ia menatap pintu itu, dan sebuah bayangan muncul. Dulu, saat ia membuka pintu itu, nampak seorang gadis kebingungan mencari kancing bajunya yang lepas, dan ternyata gadis itu Annie. Ia lalu membuatkan kancing dan menjahitkannya sama persis yang ia lakukan ke Soo A tadi.


Setelah membuatkan kancing, Nenek Go samar-samar melihat seorang pria dibalik tembok luar yang saat ditoleh ia bergegas pergi. Lalu, Annie bertanya ke nenek Go, apa ia mengenal wanita yang bernama Kim Hye Won, lalu Annie pergi keorang yang ditunjuk nenek Go tadi, dari jauh Nenek Go memperhatikan gadis itu berbicara dengan Hye won.

Lalu, ingatannya berputar kembali, saat pertama kali Do woo memperkenalkan Annie sebagai anaknya Hye won, samar-samar Nenenk go seperti mengenal Annie, ia bertanya apa mereka pernah bertemu. Tapi, Annie menjawab kalau ia baru pertama kali datang kesini, Nenek Go tak mempersalahkannya, dengan ceria ia mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Annie. Kembali ke saat ini, Nenek Go duduk termenung didepan kamarnya, sambil mencerna apa yang diingatnya tadi.


Ditempat Do woo, Seok sedang menunjukan curiculum vitae milik Hye Won, disana dijelaskan kalau Hye won belum menikah dan didalam Kknya dia kepala keluarganya, dan tak ada nama Eun Woo didalam daftar keluarganya. Do woo membacanya sambil menjawab mungkin Hye won sengaja tidak menulisnya, Seok menjawab karena itu ia menelpon Young Ji untuk menanyakannya.

Tapi kata Young Ji, ia tidak tahu kalau Hye won punya anak, membuat Do woo terhenyak, lalu Seok bertanya lagi apa Young Ji tahu Hye won ibu tunggal, tapi reaksi Young ji malah lebih terkejut daripada mendengar berita pernikah Hye won dengan Do woo. Membuat Do woo semakin dilema, ia bertanya bagaimana kalau menurut Seok? Tapi seok malah balik bertanya, Apa Do woo mempercayai Hye won? Karena Do woo type orang yang tak pernah mau mempercayai perkataan orang, jadi kalau Do woo percaya dengan Hye won, semuanya itu tidak jadi masalah. Seok menegaskan lagi, apa Do woo percaya pada Hye won? Tapi Do woo diam tak bisa menjawab.

Selesai bicara dengan Seok, Do woo bergegas kembali ke ruangan tadi, tapi saat ia membuka jendela dari luar dan melongok kedalam, Soo A sudah tidak ada disana.


Kita tinggalan keluarga Do woo yang rumit, kita santai melihat Hyo eun sedang asyik bermain sepakbola tanpa beban dengan anak-anak cowok. Sementara neneknya yang gahol akhirnya mau menemainya itupun karena disogok pake uang gaji bulanan (*wkk). Neneknya sesekali mengecek ponsel untuk melihat jam, ia berteriak-teriak meminta Hyo eun bergegas pergi belajar, tapi Hyo eun minta waktu lima menit lagi. Membuat neneknya emosi karena dari tadi Hyo eun minta nambah waktu terus, saat itu bolanya menggelinding ke arah neneknya, Hyo eun minta neneknya itu menendang bola kearahnya, Neneknya itu menurut ia berdiri langsung menendang tapi karena ia sudah tua dan pakai highheels akhirnya ia malah jatuh dan terkilir kakinya.

Akhirnya Hyo eun duduk sambil belajar juga, tapi dirumah sakit, karena neneknya dirawat disana. Hyo eun mencoba serius belajar yang sesekali dipantau neneknya, sementara Soo A hanya bisa berdiri mematung melihat keduanya. Mertuanya meminta Soo A tak perlu cemas karena ia akan cepat sembuh, ia juga bercerita kalau hari ini ia bersenang-senang dengan cucunya, dan karena cucunya merasa bersalah jadi ia belajar sendiri tanpa ia perintah. Soo A hanya bisa menunduk sambil meminta maaf, mertuanya menjawab kalau itu bukan masalah (*tumben?), lalu hati-hati ia bertanya apa Soo A sudah mentransfer gaji bulanannya (*LoL, ternyata eh ternyata) membuat Soo A mengernyit takut ia malah baru ingat (*wkk).


Soo A meminta maaf lagi karena ia lupa, membuat mertuanya langsung emosi ia langsung berujar kalau seluruh tubuhnya sakit, dan menyuruh Hyo eun pergi ketempat les. Akhirnya, Soo A pulang dengan Hyo eun dengan jalan kaki, Hyo eun menolak pergi ketempat les karena ia tahu sudah sangat terlambat, tapi ibunya memaksanya pergi.

Soo A bertanya apa Hyo eun tidak mau minta maaf ke neneknya? Tapi Hyo eun malah balik bertanya, seharusnya ibunya yang minta maaf, ia tahu kalau ibunya berbohong kalau ia pergi untuk bermalas-malasan disuatu tempat bukannya kerja. Soo A terbata-bata dan menjawab kalau ia memang pergi untuk bekerja, Hyo eun tak percaya kalau ibunya pergi kerja tanpa menggunakan seragamnya, membuat Soo A sadar langsung menoleh baju yang ia pakai.

Hyo eun malah menasehati ibunya, kalau harus pintar berbohong agar tidak ketahuan, orang-orang akan tahu ibunya itu berbohong kalau hanya diam saja. Membuat ibunya itu termenung mendengar perkataan anaknya, sementara Hyo eun sudah jalan mendahuluinya.


Di studio kerja, wanita semalam (sepertinya saudaranya Ji eun) sedang berbicara dengan Do woo dan juga Hyun woo mengenai rencana keluarga mereka menghentikan aliran dana ke bisnis Do woo sekarang. Ia mewakili Ji eun untuk minta maaf, Do woo tersenyum dan menjawab kalau dia tak perlu melakukan hal ini. Wanita itu lalu terus terang mengatakan maksud lain yaitu mengajak Do woo kerjasama proyek lain, tapi Do woo memotong dengan mengatakan kalau ia saja belum memutuskan untuk apa studi kerjanya nanti, dia tidak ingin memikirkan bisnis lain. Membuat wanita itu langsung menelan ludah tak berani bertanya lebih lanjut.


Sepeninggal wanita tadi, Do woo berdiri dibalkon memandang pemandang diluar, Hyun woo datang mendekat sambil bertanya apa yang akan Do woo lakukan, Do woo menjawab akan bicara dengan Ji eun terlebih dahulu. Tapi Hyun woo mengatakan kalau Ji eun tidak lagi sama dengan waktu ia SMA dulu sekarang semua keinginannya tidak bisa ia putuskan sendiri, Do woo mengangguk membenarkan perkataan temannya.

Hyun woo lalu hati-hati cerita kalau Ji eun tadi menelpon tadi bukan tentang pekerjaan, membuat Do woo menoleh heran kenapa Ji eun tidak menelponya, Hyun woo menjawab kalau ibu Ji eun melarangnya. Hyun woo melanjutkan ceritanya, Ji eun bertanya apa wanita yang datang waktu itu ibunya Hyo eun? Membuat kening Do woo berkerut, Ji eun berkata kalau Hye won bertanya apa ia mengenal ibunya Hyo Eun? Mendengar itu membuat Do woo terdiam berfikir.


Sementara di Sidney, Kapten Park berpapasan dengan Mijin saat akan menaiki lift, dengan sopan biasanya Kapten Park mempersilahkan Mijin masuk dahulu, yang diiyakan Mijin, setelah didalam keduanya makin nampak canggung. Beberapa saat keduanya berdiam diri, Kapten Park bertanya sudah berapa lama Mijin tidak ke Sidney, Mijin menjawab 2 tahun yang lalu. Kapten Park bertanya lagi, apa Sidney mengingatkan Mijin dengan kenangan masa lalu? Yang dielak Mijin dengan menjawab kalau ia tidak punya kenangan apapun di Sidney. Lalu pintu terbuka ternyata crew yang lain masuk lalu membuat keduanya berdiam diri, sampai di lantai yang mereka maksud semuanya keluar, tinggal mereka berdua refleks keduanya mengangkat tangan saling mempersilahkan terlebih dahulu, akhirnya Kapten Park yang pergi keluar dulu.

Sampai dipesawat, seorang penumpang berteriak marah-marah meminta selimut tapi pesawat belum terbang. Mijin meminta maaf berkali-kali dan meminta penumpang itu mematuhi prosedur, tapi penumpang itu tidak terima dan minta dipanggilan Kapten pesawat. Seorang pramugari menelpon ke kokpit untuk memberitahu masalahnya, tentu Kapten Park enggan pergi dari Kokpit, membuat Kevin Oh co-Pilot memutuskan akan pergi kesana menyelesaikan masalah.


Mijin sudah berusaha sopan, dan meminta penumpang tenang atau ia akan memanggil polisi, tapi penumpang itu malah menantang. Akhirnya Kapten Park keluar juga, ia minta maaf dan membuat penumpang itu tenang katanya ia hanya ingin bertemu Kapten penerbangannya. Membuat semua crew keheranan, baru kali ini ia melihat Kapten Park mau keluar dari kokpit.

Didapur, Mijin diam saja saat mendengar ocehan sesama crewnya, ia sibuk membuatkan 2 cup coffe. 2 orang crew tadi masih dibelakang Mijin sambil mengeluh tentang penumpang yang marah-marah hanya karena selimut. Mijin kali ini berbicara, penerbangan mereka terpaksa tertunda karena mereka punya penumpang dengan kelainan emosi, jadi mereka menunggu pemeriksaan penumpang itu dahulu, yang diiyakan kedua crew tadi.

Selesai membuat coffe, Mijin mengambil telepon menghubungi ruang kokpit minta ijin untuk masuk. Dari ruang kokpit mereka melihat dari layar cctv (*iya yak wkk eke gak ngeh bagian-bagain pesawat) Kevin oh mengatakan kalau Mijin minta ijin masuk, dengan pede Kapten Park menjawab kalau Mijin mau berterima kasih kepadanya, karena ia menyelesaikan masalah dengan sempurna (*hueeee).

Akhirnya Mijin masuk kedalam kokpit, ia memberikan coffe sambil berterima kasih ke Kapten Park dan sisanya ia yang akan mengurus. Kapten Park malah mengatai Mijin tidak punya kecakapan, sampai ia harus keluar dari kokpit, dan baru kali ini ia keluar selama 15 tahun ia bekerja sebagai pilot, membuat Mijin manyun mendengarnya. Tapi Mijin mencoba sabar, ia bertanya dengan lembut apa Kapten Park butuh sesuatu, eh Kevin oh yang menjawab kalau ia minta ramen. (*LoL)

Dirumahnya, Do woo berpapasan dengan Hye Won yang langsung bertanya apa tadi Do woo bertemu dengan Hyun Jung (wanita yang saudaranya Ji eun, sepertinya) yang sepertinya mereka sedang memulai bisnis baru? Do woo menjawab kalau ia harus bertanya dengan ibunya dahulu. Hye won mengangguk mengerti, ia lalu menyarankan agar Do woo tidak melanjutkan bisnisnya dengan Ji eun.


Hye won merasa kalau pameran dan galeri merupakan sumber pengeluaran mereka... belum selesai bicara Do woo memotong kata-katanya, ia bertanya apa Hye won masih ingat kenapa ia membuka bisnis ini dengan Ji eun? Karena Do woo tumbuh besar bersama mereka (keluarganya Ji eun) dulu mereka bukan apa-apa, tapi mereka tetap melakukan pekerjaan ini, sebagian dari mereka hidup layak, sebagian lagi tidak...

Tapi Hye won memotong meminta Do woo tidak melanjutkan ceritanya, ia sudah tahu semua, ia juga perduli pada mereka. Do woo lalu bertanya, mengapa dulu Hye won mau bekerja ditempatnya? Membuat Hye won terdiam, Do woo ingat pertanyaan Seok apa ia mempercayai Hye won?. Sekali lagi Do woo mengatakan kalau ia tidak bisa mengabaikan mereka, setelah berkata itu Do woo lalu jalan pergi melalui Hye won yang diam memikirkan pertanyaan Do woo tadi.

Dirumah Sakit, mertua Soo A menelponya, memberitahu kalau Hyo eun tidak masuk les, Soo A kaget ia menjawab akan memeriksanya sambil jalan keluar dapur, tapi mertuanya bertanya lagi apa Soo A sedang mengupas bawang? Yang diiyakan Soo A, mertuanya ngomel lagi dan meminta Soo A meletakan kupasan bawang diberanda belakang.


Mertuanya juga memberitahu kalau ia sudah mengosongkan tempat kimchi untuk bawang, Soo A kebingungan ia bertanya dimana tempat itu, membuat mertuanya gemas ia menjawab tempat itu didapur, Soo A tidak jadi pergi melihat Hyo Eun, ia kembali ke dapur mengambil tempat bawang dan juga semangkuk besar kupasan bawang, ia bawa ke beranda belakang. Sepertinya Soo A kebingungan, dan meminta mertuanya mengulang lagi, dengan mencoba sabar mertuanya menjelaskan lagi, selesai menjelaskan mertuanya itu memberitahu kalau ia sudah meletakan buku rekeningnya dilaci meja kamarnya.

Soo A bergegas pergi kekamarnya, mengambil buku rekening yang diletakan tepat diatas photo, ia terhenyak sesaat dan memilih mengambil photo itu dan melihat-lihat, photo dirinya saat menikah,lalu ada photo Hyo Eun waktu bayi dan batita membuatnya tersenyum melihat photo anaknya itu. Setelah itu, Soo A menunggu diluar apartemen dari jauh nampak Hyo eun jalan kearahnya, ia langsung tersenyum menyambut anaknya, Hyo eun mempraktekan trik-trik sepakbola sambil tertawa ceria, Soo A ikut tertawa tak sedikitpun ia menyinggung les Hyo eun, ia lalu merangkul putrinya dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


Do woo ada distudio kerjanya, sedang sibuk mencocokan photo ditangannya dengan dilaptop, entah photo apa itu tidak kelihatan. Ia teringat perkataan Soo A apakah ada hubungan seperti mereka ini didunia ini? sementara Soo A selesai memasukan bawang ketempat kimchi lalu memasukannya kedalam kulkas.

Keduanya memikirkan hal sama sambil melakukan aktivitas masing-masing, “apakah ada hubungan antara wanita dan pria yang sudah menikah, kalau ada dan tidak apa-apa, kenapa Soo A merasa bersalah? Do woo bertanya kenapa Soo A merasa seperti itu? Melihat, menyentuh, menunggu dan menginginkan.


Do woo sudah sampai rumahnya, sementara Soo A masih melamun sambil mengangkat jemuran, lamunan buyar ketika ponselnya berdenting, itu dari Do woo, isi pesannya “selamat malam” membuat Soo A tersenyum, ia lalu membalasnya “Selamat malam” dan kali ini Do woo yang tersenyum sesaat, keduanya lalu buru-buru menghapus sms mereka. (*kompak)


Keesokan harinya, seperti biasa Hye won menyiapkan roti panggang beserta telur, sementara Do woo membuatkan coffe untuk mereka berdua. Lalu keduanya duduk sambil menikmati sarapan mereka tapi tanpa obrolan sedikitpun. Selesai sarapan, keduanya berbicara dengan Nenek Go dan juga Paman Seok diruang tamu.

Sepertinya mereka sudah mengatakan tentang rencana bisnis keluarga Ji eun yang baru, Nenek Go menolaknya ia beralasan sudah tua dan enggan mendapat gelar apapun, ia juga ingin bebas dan melakukan apapun yang ia inginkan tanpa beban. Menurutnya ia masih punya banyak hal penting lain yang harus ia lindungi didalam keluarganya. Karena itu, Nenek Go meminta mereka mengakhiri bisnis yang diajukan Nyonya Hong (ibunya Ji eun).

Hye won bertanya bagaimana jika Do woo menjadi bagian dari bisnis Nyonya Hong? Membuat Do woo langsung menoleh kearahnya, Nenek Go bertanya apa Do woo mau melakukannya? Do woo menoleh ke arahnya ibunya sambil menjelaskan kalau ia butuh waktu untuk menghentikan apa yang sedang ia kerjakan. Tapi, ia berfikir mungkin Hye won bisa melakukannya, karena ia mengenal baik keluarganya dan juga keluarga Hong.Lalu Nenek Go bertanya ke Hye won, apa ia mau melakukannya dan tidak apa-apa baginya.


Sambil meletakan gelas minumnya, Nenek Go dengan hati-hati bertanya apa Annie pernah cerita kalau ia pernah bertemu denganya sebelum masuk kedalam keluarga mereka? Membuat semuanya terperangah, terutama Hye won sangat cemas. Nenek Go meralat ucapannya, ia merasa akhir-akhir ini sering memikirkan Annie jadi tiba-tiba itu muncul didalam pikirannya. Ia merasa, dulu ia pernah membuatkan kancing baju untuk Annie, saat itu Annie memakai baju warna terang.

Hye won menjawab, kalau Nenek Go membuatkan Annie kancng tentu ia sudah merawatnya sampai sekarang. Yang dibenarkan nenek Go sesaat, tapi ia ingat lagi kalau ia melihat seorang pria menyuruhnya masuk kedalam, apa itu ayahnya? Mendengar itu membuat Hye won semakin cemas, sementara Do woo dan Paman Seok nampak terkejut mendengarnya.

Tapi disangkal Hye won dan mengatakan kalau itu pasti bukan Annie, Do woo menjadi kecewa mendengar ucapan Hye won, begitu juga Nenek Go yang menjawab mungkin ia terlalu berharap kalau gadis yang pernah dilihatnya itu Annie. Nenek Go hanya merasa cemas akhir-akhir ini.


Selesai bicara, keduanya lalu pergi ke sebuah ruang kerja sepertinya, Hye won berkata kalau Keluagar Hong tidak membutuhkannya, mereka hanya mau bekerjasama dengan Do woo atau Nenek Go saja. Ia lalu menjawab pertanyaan Do woo, mengenai mengapa ia mau bekerja dirumah Do woo dahulu? Itu karena ia sangat tertarik dengan hasil karya Nenek Go. Karena itu ia tidak ingin hasil Karya Nenek Go dilihat sembarang orang yang tidak bisa menghargainya.

Hye won emosi, ia bertanya apa ia kelihatannya ingin membuat bisnis yang besar? (*kelihatannya sih begitu mba -_-) Do woo hanya diam saja dengan raut wajah tak percaya. Hye won bertanya lagi, apa Do woo tidak mempercayainya? Do woo menjawab kalau ia percaya, ia percaya Hye won tulus dengan ibunya itu saja. Kalau ia tidak bisa percaya itu, ia tidak akan percaya Hye won dalam hal apapun.  Hye won tak percaya mendengarnya, ia bertanya lagi apa ada hal lain? Apa tentang ayah Annie? Hye won menyeringai tak percaya Do woo masih memikirkannya.

Do woo berkata kalau Annie punya ayah, kalau tidak mana mungkin Annie pergi menemuinya dan ia mengantarkannya. Tapi kata Hye won kalau ayah Annie sudah meninggal, dan Annie hanya mengkhayal tentan ayahnya, lalu siapa Annie sesungguhnya? Membuat Hye won tak bisa menjawab ia memilih memalingkan wajahnya, Do woo berkata lagi kalau hal itu membuatnya merasa ia kehilangan Annie dua kali, walau merasa seperti itu, ia tetap berusaha percaya pada Hye Won. Jadi Do woo meminta waktu untuk mereka berdua masing-masing.

Dirumah Soo A sedang ada didapur dengan satu karung bawang bombay, Hyo eun berteriak kalau ia sudah pulang sambil lari masuk kamarnya. Soo A berteriak apa Hyo eun mau dibuatkan nasi goreng? Tapi Hyo Eun tak menjawab ia bergegas lari keluar rumah lagi.

Do woo sedang berada di gazebo, sambil mengecek sesuatu (sepertinya kertas Cvnya Hye won) setelah membacanya berulang kali, ia lalu memasukannya kedalam tas. Lalu mengambil ponselnya dan melihat daftar kontak ia mencari id ibunya Hyo Eun. Sedangkan Soo A masih mengupas bawang bombay didapur, saat ponselnya berdenting ia buru-buru melihatnya.

Pesan itu dari Do woo yang bertanya apa Soo A mau nama panggilan? Dia juga bertanya apa nama id dia diponsel Soo A? Do woo masuk kedalam mobil sambil berfikir, ia ingat balasan Soo A kalau nama panggilannya Bandara karena mereka bertemu dibandara, Do woo lalu mengedit id ibunya Hyo Eun menjadi nama sebuah tempat.

Ia lalu sms Soo A memintanya menebak apa nama panggilan untuknya, ia juga menamani Soo A sebuah tempat. Soo A sedang ada di swalayan berbelanja sayuran, ia membalas pesan Do woo bertanya tempat apa itu? Do woo membalas kalau tempat itu merupakan tempat dimana mereka sering bertemu secara tidak sengaja, dan ia sedang menuju kesana.

Soo A berfikir sesaat, lalu ia bergegas pergi sambil membalas sms kalau ia juga pergi ketempat itu. Do woo membalas lagi, kalau begitu mereka bisa bertemu secara tidak sengaja lagi.


Nenek Go mencari Seok diruangannya, tapi tak ada disana, saat akan keluar tanpa sengaja ia melihat CV Hye Won, ia lalu mengambil dan membacanya, dan membuatnya kaget langsung ia merasa nyeri lagi dilambungnya. Sementara Soo A sudah sampai dirumah lamanya Do woo, dibagian pameran tempat itu sepi tak ada siapa-siapa.

Lalu keluar seseorang karyawan sambil mempersilahkan Soo A melihat-lihat, sesaat Soo A menlihat-lihat ia lalu jalan keluar bertepatan Hye won datang keduanya berpapasan. Soo A jalan keluar, sementara Hye won masuk, Hye won langsung ke karyawan yang sedang menghadap ke laptop, ia meminta karyawan itu mengedit photo hasil Nenek Go dan mengurutkannya sesuai dengan tanggal pembuatannya.

Soo A memilih jalan-jalan ketempat yang kemarin ia datangi, ia merasa rumah itu bukan tempatnya dan mereka tidak selalu bisa bertemu secara kebetulan. Soo A sms Do woo bertanya dimana Do woo sekarang, dan ternyata Do woo ada tepian Sungai Han. Do woo memberi nama panggil Soo A “tepian Sungai Han”, Do woo lalu bertanya Soo A ada dimana sekarang? Soo A menjawab kalau ia ada dirumah lama, itu bearti kebetulan tidak selalu terjadi.


Do woo menyayangkan, ia lalu menyarankan Soo A agar duduk diteras yang luas dirumah itu, Soo A menurut saja ia lalu duduk di salah satu teras bagian rumah yang paling luas. Lalu keduanya duduk sendiri-sendiri sambil menikmati pemandangan disekitar mereka. Ditempat Do woo dari jauh tanpa sengaja ia malah melihat Hyo eun sedang asyik bermain sepak bola. Ia tersenyum senang melihat ekpresi ceria Hyo eun, ia bergumam dulu di Malaysia ia melihat Hyo eun nampak terpaksa bermain bola dengannya.

Terlihat Hyo eun ceria sekali sampai tertawa cekikikan, membuat Do woo ikut tersenyum lebar, ia sudah lama tidak mendengar suara tawa itu. Tapi senyumnya perlahan menghilang ia malah teringat Annie saat disungai yang mirip sungai Han, ia teringat tawa Annie untuk terakhir kalinya. Kembali ke saat ini, Hyo eun memanggil teman bermainnya itu paman, membuat Do woo berfikir lalu ia menduga kalau laki-laki itu adikknya Soo A.


Tiba-tiba angin berhembus menerpa wajahnya, membuat menoleh menatap kearah dedahanan yang bergoyang tertiup angin juga. Ditempat Soo A juga terjadi hal sama, angin berhembus sedikit kencang sehingga gantungan ikan berbunyi karena diterpa angin, membuat Soo A menoleh menatap keatas, angin itu juga membuat jendela dibelakangnya membuka, refleks Soo A menoleh kearah jendela itu dan nampak siapa yang didalamnya, ternyata itu Nenek Go yang menolek juga keluar Jendela, membuat keduanya beradu pandang.

Soo A minta maaf dan akan menutup jendela, tapi Nenek Go menyuruhnya masuk, Soo A ingat kalau nenek Go itu nenek kancing, Nenek Go senang Soo A masih ingat. Nenek Go sedang menulis sesuatu, ia membalikan kertasnya saat Soo A masuk kedalam dan duduk didepannya. Nenek Go menatapa Soo A lekat-lekat, membuat Soo A berkata kalau cara menatap nenek Go mirip sekali dengan orang yang ia kenal.


Nenek Go tertawa, ia lalu bertanya namanya, Soo A lalu menjawab kalau namanya “Choi Soo A” nenek Go mengulangnya sambil menggerak-gerakan jarinya menerka arti nama. Lalu Nenek Go memanggil nama Soo A, ia minta tolong saat Soo A pulang nanti ia titip dibelika patjuk untuknya (*Patjuk= Bubur kacang merah korea).

Membuat Soo A heran mendengarnya, seakan mengerti Nenek Go memperjelas kalau itu sebagai ucapan terimakasih Soo A karena ia sudah membuatkan kancing untuknya, dan karena ada Patjuk enak didekat rumahnya. Nenek Go lalu mengeluarkan uang dan memberikannya ke Soo A, ia memintanya untuk membelikan sekarang karena ia terlalu lelah bekerja hari ini jadi dia ingin makan Patjuknya sekarang, Soo A mengangguk mengerti ia segera pergi.

Do woo masih disana ditepian sungai Han sambil menatap langit, ia berkata sendiri, kalau ia yakin Annie berbohong dan lebih percaya ke ibunya sendiri. Apa Annie marah? Kalau begitu ia meminta Annie untuk menendangnya, dan pas sekali bola Hyo eun menggelinding kearahnya. Jae A berteriak-teriak meminta Do woo melempar bolanya, Hyo eun terhenyak ia menatap lekat-lekat Do woo yang sedang mengambil bola lalu berdiri jalan kearah mereka.


Hyo eun ingat lalu memanggilnya paman, akhirnya Jae a main bola sendirian, Hyo eun duduk mengobrol dengan Do woo. Do woo bertanya apa Hyo eun bahagia? Yang diiyakan Hyo eun, Do woo mengusap kepala Hyo eun (sepertinya ini Do woo sayang sama anak kecil ya?) dan berkata kalau tak ada tempat senyaman rumah. Yang dielak Hyo eun, kalau ia sekarang ada dirumah neneknya bukan rumahnya sendiri.

Do woo tersenyum mendengarnya,Hyo eun lalu menunduk sedih, ia merasa bersalah karena tidak bisa mengucapkan selamat tinggal ke Annie, karena Annie bilang tidak akan pergi ke Korea tapi nyatanya ia pergi. Do woo bertanya apa Annie tidak pamit ke Hyo eun kalau ia akan pergi ke Korea? Hyo eun menjawab kalau Annie ingin pergi, tapi dia tidak diijinkan pergi? Perkataan Hyo eun membuat Do woo terkejut.

Ia mengulang perkataan Hyo eun, apa Annie ingin pergi tapi dia tidak diijinkan? Hyo eun menjawab kalau Annie ingin sekali pergi ke korea, dia selalu melihat photo Do woo yang ditempel dilangit-langit kamarnya, dan juga selalu pergi kepameran neneknya. Lalu bayangan saat Hyo eun di Malaysia muncul, saat ia dan Annie pergi mengunjungi pameran Nenek Go, Annie nampak ceria mengelilingi satu persatu pameran itu sambil sesekali menyapa nenek dan juga paman Seok.


Do woo menjawab kalau ia tidak tahu,Hyo eun tak percaya bagaimana bisa Do woo tidak tahu? Hyo eun mengira kalau Annie takut pada seseorang, atau dikorea ada yang membullynya. Tapi Annie bilang, ia tidak bisa pergi karena ia harus melindungi sesuatu, Hyo eun mengingat-ingat apa yang dikatakan Annie waktu itu.

Annie menjawab, kalau hal paling menakutkan adalah tidak bisa melindungi sesuatu yang berharga. Do woo ingat saat Videocall dengan Annie yang meminta maaf tidak bisa datang saat ulang tahun Nenek Go. Lalu saat Annie meminta ayahnya menunjukan matahari terbit padanya, lalu ingatan saat photo yang diphoto Annie sebelum kemalaysia.


Bayangan demi bayangan dan juga potongan-potongan kenyataan yang ia terima, membuat Do woo berjalan pulang sambil memikirkan semua itu, Do woo sadar sesuatu, ia bertekad mencaritahu hal yang sangat ingin dilindungi Annie itu?

Soo A kembali kerumah Nenek Go dengan paper bag berisi Patjuk, sampai dikamar Nenek Go langsung menikmati patjuk itu dengan lahap. Selesai makan, Nenek Go bercerita kalau dulu neneknya makan Patjuk sebelum meninggal, entah bagaimana neneknya tahu kalau ada semangkuk Patjuk, neneknya itu menyuruhnya membawakan kedirinya waktu itu.


Nenek Go lalu berkata tentang pepatah lama yaitu “Sebelum seseorang meninggal, mereka akan melakukan hal spesial untuk orang yang mereka sayangi, karena mereka menyanyangi orang itu” mendengar itu membuat Soo A terhenyak ia ingat Do woo pernah mengatakan hal yang sama persis. Membuat Soo A tersenyum, lalu ia berkata kalau ia pernah mendengar kata itu dari seseorang yang ia kenal. Nenek Go menanggapinya kalau itu memang pepatah yang selalu dikatakan orang tua jaman dahulu.

Nenek Go lalu berterimakasih Patjuknya, yang diangguki Soo A sambil bertanya apa Nenek Go tinggal disini, yang diiyakan Nenek Go. Membuat Soo A minta maaf karena merasa sudah melewati batas, tapi Nenek Go tak mempermasalahkannya. (sepertinya Nenek Go Eun He ini orang yang terbuka, dia mau menerima entah siapapun itu dengan suka cita)

Nenek Go lalu mengeluarkan sesuatu sepertinya gelang, dan ia akan memberikannya ke Soo A yang refleks mengulurkan tangannya. Tapi nenek Go menggeleng kepala dan meminta Soo A berdiri mendekatinya, Soo A menurut saja jalan kesisi samping Nenek Go, yang ternyata gelang itu dipasangkan kepergelangan kaki Soo A.


Sambil memakaiakan gelang itu dikaki Soo A, Nenek Go berkata kalau kaki melakukan semua pekerjaan berat saat Soo A bekerja, jadi biarkan mereka beristirahat sekarang. Selesai memakaikan gelang itu tiba-tiba Nenek Go dengan jelas bisa mengingat saat pertama kali ia melihat Annie yang mencari Hye Won waktu itu, dengan jelas ia melihat gerak bibir Hye won. Tanpa sadar Nenek Go berujar kalau sekarang ia merasa semua yang terjadi menjadi masuk akal.

Membuat Soo A langsung menunduk cemas menanyai Nenek Go yang tersadar dan meminta Soo A untuk tidak mencemaskannya. Ia lalu meminta Soo A pergi keruang kerja dan memanggilkan pria yang berwajah sangar namanya Seok. Yang diiyakan Soo A, lalu Nenek Go juga berpesan jika Soo A nanti bertemu dengan anaknya, ia berpesan kalau ia menuliskan surat untuknya dan diletakan diatas lemari dibelakangnya. Soo A bingung, ia bertanya siapa anak Nenek Go, tapi Nenek Go tidak menjawab, ia menyuruh Soo A memanggilkan Seok terlebih dahulu.

Soo A menurut, ia bergegas pergi tapi sampai didekat pintu keluar langkahnya terhenti karena lonceng ikan itu berbunyi lagi . Didalam kamar, Nenek Go memandang jauh kedepan, sambil berkata kalau ia melihat semua orang (sambil ia membayangkan saat pertama kali ia melihat Annie datang diantar seorang pria) lalu Nenek Go memejamkan mata perlahan, lalu ia berkata kalau ia mendengar berbagai hal. (lalu ia membayangkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Hye won dan juga Annie waktu itu) ia mengikuti gerak bibir mereka yang bunyinya “Kau? Eun Woo?...” lalu perlahan Nenek Go benar-benar memejamkan matanya.

Diluar Soo A masih disana memandang lonceng ikan yang masih berbunyi dengan kencang, ia lalu menundukan kepala menghormat lalu jalan pergi. Sampai diruangan pameran tadi ada Seok didepan laptop, Soo A datang dan bertanya tentang seseorang yang bernama Seok, yang dijawab Seok kalau itu dirinya. Soo A berkata lagi kalau ia dicari Nenek kancing, Seok bingung siapa Nenek kancing, lalu keduanya jalan tergesa-gesa, Soo A menjelaskan kalau ia panda membuat simpul dari tali, Seok paham kalau memang itu Nenek Go.


Sampai didepan pintu gerbang kamar Nenek Go mereka berpapasan dengan Hye won yang langsung bertanya ke Seok apa ia sudah bertemu dengan Do woo? Mendengar nama Do woo membuat langkah Soo A terhenti. Ia menatap Hye won dan ia jadi ingat saat berpapasan dengan Hye won sesaat saat ia memberikan beernya waktu itu.

Membuat Soo A langsung memilih jalan mundur, lalu bergegas lari keluar, ia berpegangan tembok sambil menenangkan diri. Ia teringat pertanyaan Do woo untuk memikirkan kenapa ia ada disini? Waktu mereka berdua bersembunyi disalah satu ruangan rumah itu kemarin. Membuat Soo A tersadar lalu membodohi diri sendiri, kenapa baru sadar sekarang.

Lonceng ikan itu sudah tenang, bebarengan dengan suara dering telepon, karyawan tadi bergegas keluar dan mengangkat telepon yang ternyata dari Soo A yang sudah sampai dirumahnya. Soo A bertanya apa Nenek yang tinggal disana adalah Ibu Seo Do Woo, tapi belum sempat karyawan tadi menjawab, seseorang datang mengucapkan salam dan itu terdengar dari ponsel Soo A.

Ternyata yang datang itu Marie, karyawan tadi menanggapi Marie terlebih dahulu, yang memperkenalkan diri sebagai ibu asrama dimana Annie dulu tinggal di Malaysia, ia bertanya apa benar ini rumah Seo Do Woo, karena ia sudah punya janji dengannya tapi hari ini ia tak bisa menghubunginya, dan ia baru pertama ini kembali ke Korea setelah 10 tahun tinggal di Malaysia jadi dia anggak tidak tahu jalan.

Karyawan itu menjawab, kalau Do woo sekarang sedang bingung karena tiba-tiba ibunya dibawa kerumah sakit, ibunya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Mendengar itu membuat Soo A tercengung, karyawan tadi meminta ijin untuk menjawab telepon Soo A terlebih dahulu, ia lalu menanyai Soo A yang ragu-ragu bertanya apa benar itu rumah Seo Do woo? Yang diiyakan karyawan tadi, Soo A lalu bertanya lagi tentang rumah sakit.


Dirumah sakit, Do woo jalan keluar dari kamar ibunya, diluar ia melihat Hye won sedang menelpon seseorang. Melihat Hye won, kenangan saat Hye won kesal karena ia menanyai ayah Annie bermunculan, kenangan saat Hye won marah ia membawa abu Annie pulang ke korea dan juga barang-barang Annie, Hye won marah dan ingin sekali menghapus semua kenangan Annie dari hidupnya.

Lalu ia ingat isi CV Hye won, lalu ingatannya mundur kembali saat Annie Videocall minta maaf tidak bisa datang diulang tahun Nenek Go, lalu Hye won yang begitu yakin kalau Annie tidak akan datang diulang tahun Nenek Go, lalu ia ingat perkataan Hyo Eun kalau Annie ingin pulang tapi ia tidak diijinkan pulang ke Korea.

Lalu saat Hye won begitu cemas mencari barang-barang Annie, karena ia takut Annie menuliskan sesuatu tentang dirinya. Lalu saat Hye won mengatakan kalau Annie tidak punya ayah, dan ia hanya mengkhayal tentang ayahnya, dan Hye won tidak ingin mengingat ayah Annie yang menurutunya tidak pantas diceritakan karena ia pergi begitu Annie dilahirkan.

Lalu ia ingat pembicaraanya dengan Annie, kalau matanya mirip dengan ayahnya saat ia marah, lalu hidungnya juga mirip ayah. Dan ayahnya juga sangat suka nasi goreng kimchi, jadi ayahnya memasakannya setiap minggu, kapanpun mereka pergi keluar, mereka selalu memilih berbaring disebuah taman, melihat awan dan menghitungnya lalu bermain.

Lalu ia ingat cerita Hyo Eun lagi, kalau Annie pernah berkata kalau hal yang menakutkan didunia ini tidak bisa melindungi sesuatu yang berharga, dan terakhir Do woo mengingat pertanyaan Seok, apa iya percaya dengan Hye Won? Lamunan Do woo sampai Hye won selesai menelpon. Hye won lalu jalan mendekatinya dan berkata kalau Nyonya Hong ingin datang mengunjunginya, yang diangguki Do Woo tanda mengiyakan.


Hye Won lalu bertanya ke Do woo lagi, apa mereka bisa menanyakan satu kali lagi ke ibunya? Do woo heran tanya apa maksudnya?, Hye won menjawab tentang pembuatan merek (*Heol, Hye won egois banget, terlalu ambisius) Do woo menjawab kalau ibunya sedang tidak sadar, tapi Hye won menjawab kalau ibunya masih bisa mendengarnya, ia memohon bahkan satu gerakan saja cukup baginya. Membuat Do woo emosi (*eh bang kalau mau nampar eke siap mewakili nampar nih orang kekeke) langsung membuka pintu dan menunjukan ibunya yang terbaring tak sadarkan diri. Hye won diam tak berani berkata lagi.

Semalaman Do woo duduk menunggui ibunya, Seok yang tidur dibelakang bangun, lalu jalan mendekati Do woo meminta Do woo istirahat karena ia yang akan ganti jaga. Tapi Do woo enggan, ia berkata kalau ia sudah senang melihat Seok mau menemaninya. Seok menghela nafas, lalu bercerita kalau beberapa hari yang lalu Nenek Go memintanya untuk pindah kerumahnya dan membantu Do woo. Seok sedih karena ia merasa tidak melakukan apa-apa untuk Nenek Go.


Do woo mengeleng, ia merasa Seok sudah banyak melakukan hal untuk semunya, bahkan Seok orang yang terakhir kali dilihat Nenek Go sebelum ia kehilangan kesadarannya dan juga Patjuknya. Seok menjawab kalau itu bukan dirinya, ada seorang wanita yang memberitahunya kalau Nenek Go makan Patjuk lalu wanita itu pergi memanggilnya karena Nenek Go mencarinya.

Do woo berfikir, lalu ia ingat menyuruh Soo A duduk diteras yang paling luas dirumah lama. Lalu ia membayangkan (*lagi? Eh ini drama banyak pengulangannya, kalau Ufo pengulangannya se apik ini, mungkin tidak begitu terlalu dicerca waktu itu) bayangan saat Soo A duduk diteras itu, lalu angin bertiup dan ia melihat Nenek Go, lalu keduanya mengobrol.

Lalu bayangan, saat Do Woo dan Soo A dibandara menunggu barang-barang Annie, lalu saat Do woo menabur segenggam abu Annie kesungai Han. Lalu ia ingat perkataan ibunya tentang “Seseorang yang akan meninggal, mereka meninggalkan sesuatu untuk orang yang dia sayangi, karena mereka menyayangi orang itu” lalu Do woo ingat cerita Soo A saat ia menabrak Annie sebelum kecelakaan itu, dan Annie menjatuhkan kelereng kearah Soo A, lalu ia ingat ia duduk bersembunyi diruangan kemarin bersama Soo A. Kembali ke saat ini, Do woo menatap ibunya lalu ia bertanya “ibu, siapa dia?”  tapi ibunya diam saja.


Dirumah Soo A, nampak Hyo Eun sudah tidur lelap, sementara Soo A masih terjaga duduk disamping tempat tidur Hyo Eun sambil memegang ponsel, ia hanya bisa memandangi ponsel tanpa punya keberanian untuk melakukan sesuatu.

Dirumah sakit keesokan harinya, Soo A membereskan administrasi mertuanya yang keluar dari rumah sakit. Selesai membayar, ia mengajak ibu mertuanya pulang, tapi mertuanya itu asyik main ponsel ia langsung berdiri tapi saat melangkah ia terjatuh dan kakinya terkilir lagi, membuat Soo A dan semua orang kaget dan mencemaskannya. (nek ngapain pakai highheels?)


Akhirnya mertuanya kembali dirawat lagi, membuat Soo A duduk termenung disamping tempat tidur mertuanya. Ia tiba-tiba teringat pesan terakhir Nenek Go, “kalau ia bertemu anaknya, ia meminta menunjukan kalau ia menulis surat untuknya” Soo A langsung berdiri lalu berlari pergi keluar tanpa pamit. Mertuanya tidak tahu ia pergi, ia minta Soo A menelpon Park Jin Seok untuk memberitahunya kalau ia dirawat lagi. Tapi saat menoleh ia melotot kaget karena menantunya sudah tidak ada ditempat (hahaha).


Soo A berlari dikoridor rumah sakit, bertepatan saat itu Dokter melepas alat bantu pernapasan Nenek Go, itu berarti Nenek Go sudah meninggal. Paman Seok menangis meraung-raung memanggil nama Nenek Go Eun Hee, Hye Won juga ikut menitikan airmata (tapi aku merasa  Hye won sedih, karena ia belum sempat mendapat ijin dari Nenek Go untuk sebuah merek), sementara Do woo mencoba tegar, ia mengulurkan tangan menggenggam erat tangan ibunya.

Soo A berlari sampai diruangan pemakaman, ia menatap layar didepan tertulisan ruang 1 kamar Nenek Go Eun He/ Seo Do Woo. Membuatnya menahan sedih sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.  Soo A memilih pergi jalan perlahan keluar dari ruang pemakaman itu, saat Soo A keluar, nampak Marie dibelakangnya yang kebingungan, ia lalu membaca layar monitor yang sama dengan Soo A tadi, ia lalu menoleh kebaju yang ia pakai, ia merasa tak pantas masuk dengan pakaian seperti itu, tapi ia juga tidak bisa pergi karena hujan sedang turun sekarang.

Hye won sudah memakai baju berkabung, ia duduk disuatu tempat sambil menelpon seseorang tapi orang yang ditelponnya enggan menerima panggilannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan, ternyata ia mencari Do woo yang tiba-tiba menghilang, dan sekarang semua orang sedang mencarinya.


Soo A sudah sampai diluar ruang khusus pemakaman, ia berhenti melangkah padahal ia menggenggam payung ditangannya. Sesaat melamun, ia tersadar ponselnya berdering, ia melihat kalau bandara memanggilnya, walau sedikit ragu tapi ia menjawab panggilan itu. Do woo bertanya apa yang sedang Soo A lakukan saat disana sedang hujan? Mendengar itu membuat Soo A langsung menoleh sekitar tempat ia berdiri, dan akhirnya ia melihat Do woo duduk didekat sebuah pohon dan sedang menatap dirinya.


Keduanya saling menatap dalam, saat itu Marie keluar dari ruang pemakaman dan melihat Soo A berdiri mematung, tapi saat akan memanggilnya mendadak Soo A langsung lari, membuat Marie kaget ia langsung berteriak memanggil “Ibu Hyo Eun?” dan tak jauh dari sana ada Hye won yang langsung menoleh mendengar seseorang memanggil “ibu Hyo Eun”..

Ternyata Soo A lari kearah Do woo, sampai didekat Do woo ia mencoba menahan airmatanya sambil mengatur nafasnya. Do woo bertanya apa yang membelikan ibunya Patjuk itu Soo A? Soo A mengangguk mengiiyakan sambil airmatanya menetes, Soo A bertanya apa itu ibunya? Do woo mengangguk, membuat Soo A semakin terisak-isak, apalagi Do woo berterima kasih padanya.


Soo A ditengah-tengah tangisnya berkata kalau ia tidak tahu harus berkata apa saat ini? tanpa berkata lagi Do woo langsung menarik lengan Soo A lalu ia memeluknya dan menangis, Soo A membalas memeluknya dan ikut menangis bersama-sama.

Next : On The Way to the Airport Episode 7

NB : Maaf sepertinya saya memutuskan tidak meneruskan menulis sinopsisnya, rasanya konfliknya makin berat untuk diikuti >_< kyaa

Komen :
Aku pikir paling Marie bertemu dengan Hye won dan langsung diinterogasi Hye won apa yang ingin Do woo tanyakan pada dirinya. Jadi Hye won tidak akan melihat, suaminya memeluk wanita lain, tapi kemungkinan rahasia yang akan dikatakan Marie jadi tidak sampai ke Do woo.

Lalu Annie? Aku jadi tidak yakin kalau itu anaknya Hye won, mungkin keponakannya? Dan ia sangat benci ayah Annie, atau ia memanfaatkan Annie saat tahu kalau Do woo suka anak kecil, dia punya kesempatan untuk masuk kekeluarga Do woo?

No comments:

Post a Comment