Saturday, October 8, 2016

[Sinopsis] On The Way to the Airport Episode 5

Kesibukan dini hari di bandara, Soo A dan crewnya sudah bersiap-siap diatas pesawat untuk melakukan pengecekan dan persiapan pesawat sebelum para penumpang siap masuk kedalam pesawat.


Pramugari Junior yang suka Kapten Park (*aih aku lupa namanya :D) menyapa Soo A dan memperkenalkan diri, dan ia minta maaf ketidaksopanannya karena membicarakan istri Kapten Park waktu itu. Soo A menanggapinya santai, ia memaafkan junironya itu dan lagipula ia tidak mengingatnya, lalu ia meminta juniornya itu kembali bekerja.

Selesai memeriksa, Soo A pergi keruangannya, ia membuka lokernya untuk mengambil ponsel didalam tasnya. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Do Woo yang ingin bertemu dengannya, ia menggelengkan kepala lalu memilih mematikan ponselnya.


Sementara Do woo sudah ada di bandara, ia sedang duduk dikursi tunggu, ia menutup mata sambil mengingat perkataan Soo A tentang Annie yang sedang menunggu seseorang untuk datang ditempat yang sama, dalam bayangannya ia juga bisa berasumsi kalau Soo A juga sedang menunggu seseorang untuk datang ditempat yang sama.

Episode 5

Selesai memeriksa persiapan pesawat, Soo A keluar untuk menerima daftar penumpang dari petugas. Ia langsung membuka dan membaca daftar itu dan nampak ada nama Seo Do Woo didaftar penumpang itu.

Ia dan juga pramugari juniornya bertugas didepan pintu pesawat untuk menyambut para penumpang satu persatu. Sampai semua penumpang sepertinya sudah masuk kedalam pesawat, tapi Soo A jalan keluar ia merasa yakin masih ada satu penumpang lagi, walau heran juniornya itu ikut menunggu diluar.


Sampai terlintas bayangan Do Woo datang berlari kearahnya sambil tersenyum tapi itu hanya sekedar ilusi. Pramugari Juniornya itu melihat jam dan merasa waktunya, tapi pas saat itu muncul Do Woo jalan perlahan kearah mereka, membuat Soo A terhenyak, membuat pramugari juniornya yang menanyai tiket Do Woo, akhirnya Soo A tersadar lalu tersenyum sopan menyambut Do Woo.

Sementara dirumah, ternyata sedang ada tamu, seorang wanita datang mencari Do Woo, tapi ternyata Do Woo tidak ada, kelihatanya Hye Won sangat menghormatinya ia merasa bersalah karena tidak bisa menghubungi Do Woo (*Nah loh mba, suamimu kemane :P). Hye Won juga nampak cemas, kenapa wanita itu tiba-tiba datang mencari Do Woo ia bertanya apa ada masalah? Tapi wanita itu tidak ingin mengatakannya.


Lalu sampai diluar ruangan Hye Won mereka pergi keluar halaman, dan ada wanita paruh baya menunggu diluar sana. Hye Won lalu datang menyapanya dengan ramah, wanita itu tersenyum sambil berkata kalau ia sangat menyukai rumah itu.

Wanita paruh baya itu lalu mengunjungi Nenek Go yang sedang terbaring, ia berbincang masa lalunya sambil memijit kaki nenek Go.  Setelah berbincang masa lalu, wanita itu lalu berbicara maksud kedatangannya, yang ternyata ia ingin menghentikan kerjasa sama bisnis antara Ji Eun dengan Do Woo, dan ia ingin merubah bisnis mereka menjadi waralaba. (*mungkin dia ibunya Ji Eun?). Tapi kelihatannya, nenek Go sepertinya membela Do Woo, ia merasa mereka harus memberi waktu ke mereka lagi.


Diluar wanita satunya juga berbicara hal yang sama ke Hye won, wanita itu ingin membuat sebuah merek dan Do Woo menjadi sutradaranya, karena itu ia megirim Ji Eun ke Sidney untuk mengamati pameran yang ada disana. Hye Won masih tidak mengerti, ia bertanya lalu apa hubungannya dengan ibunya? Wanita itu berkata kalau ia ingin menggunakan nama Go Eun hee untuk bisnisnya, dan membuat nama ibu Hye Won itu terkenal, ia akan memberi tahu lebih rinci setelah ia bertemu Do Woo sendiri.

Sementara orang yang sedang dibicarakan keluarganya itu, sedang ada dalam pesawat terbang ke Cebu dan dia berada dikelas exe, duduk menatap Soo A yang sibuk mengerjakan tugas. Dan nampak canggung melakukan pekerjaannya karena ditatap terus, sesekali ia melirik tapi ia langsung memalingkan pandangannya. (*LoL, aku juga canggung kalau diliati gitu eaa)

Setelah menenangkan diri, Soo A jalan mengecek penumpang sampai didekat Do Woo, pria itu mengangkat tangan tanda minta bantuan, dengan ramah Soo A mengiyakan. Ternyata Do Woo minta segelas wine, perlaha Soo A menuangkan botol Wine kedalam gelas yang masih ditatap Do Woo membuatnya semakin gugup.


Perlahan-lahan Soo A menuangkan Wine itu, sementara Do Woo tak sedetikpun lepas memandanginya, sembari ia bertanya jika ia membutuhkan sesuatu disaat darurat apa Soo A mau membantunya, yang diiyakan Soo A dengan ramah, sementara penumpang lain sudah tertidur nyenyak. Selesai berbicara, Soo A melanjutkan menuangkan wine itu, sementara Do Woo perlahan-lahan menaikan tangannya dari bawah gelas sampai keatas bibi gelas, membuat jari-jemarinya bersentuhan dengan jari-jemari Soo A.

Saat jarinya bersentuhan membuat Soo A teringat saat Do Woo memegang pundaknya saat turun hujan waktu itu. Membuat Soo A langsung menarik tangannya dan tepat waktu saat Wine itu cukup dituangkan. Selesai, Soo A buru-buru berlari keruangan makanan, ia langsung membuka loker berisi ice batu, ia segera memasukan kedua tangannya disana, lalu ia menempelkan tangannya ke pipi yang rasanya terbakar.

Setelah itu, ia kembali bertugas mengecek para penumpang, ia mematikan lampu saat penumpanya sudah tertidur nyenyak. Lalu ia jalan lagi merapikan buku yang berserakan, sesekali ia melirik ke Do Woo yang masih saja menatapnya, ia memalingkan pandangannya saat akan jalan seorang ibu memanggilnya, Soo A langsung mendekat dan agak merunduk untuk mendengarkan perkataan si ibu tadi, tepat waktu itu Do Woo berdiri ia jalan melewati Soo A, dan tangannya sengaja menyentuh punggung Soo A saat jalan melewatinya kelihatanya tidak sengaja karena jalan sempit, tapi hal itu membuat Soo A tersadar sesuatu.

Soo A lalu meminta ibu itu menunggu sebentar, ia lalu jalan tapi Do Woo yang merasa diabaikan Soo A memanggilnya dengan alasan ia minta bantuan. Akhirnya Soo A mengiyakan dan perlahan jalan masuk kesana, pas saat itu pramugari juniro tadi tak sengaja melihat keanehan keduanya saat masuk keruangan sama dan langsung menutup kordennya.


Sampai diruangan dekat Toilet, Do Woo lagi-lagi menutup kedua sisi tirai korden membuat Soo A kebingungan, dia lalu berkata kalau hal ini bisa menimbulkan masalah.

Tapi, Do Woo hanya berdiam diri sambil terus menatap Soo A sambil perlahan ia mengangkat tangannya sampai kedekat wajah Soo A yang sudah panas dingin berada disituasi seperti itu. Tapi Do Woo menarik kembali tangannya, sambil menghela nafas ia tak percaya ke dirinya sendiri seraya berkata kalau ia tak percaya kalau ia bisa berlari sampai kesini ditengah-tengah apa yang sedang terjadi hanya untuk menemui Soo A.


Do Woo lalu bertanya berapa lama Soo A tinggal di Cebu? Soo A menjawab kalau ia langsung pulang, Do Woo bertanya jam berapa pesawat untuk pulang, tapi Soo A seperti kebingungan dan tidak bisa mengambil keputusan, ia memilih menjawab kalau ia tak bisa berfikir saat ini. Do Woo mengerti, ia lalu berkata kalau mereka sedang berjalan di atas es tipis? Membuat Soo A tersentak, Do Woo tersenyum lalu meminta mereka harus pulang bersama-sama.

Lalu keduanya berdiam diri, sampai seseorang membuka tirai membuat keduanya kaget terutama Soo A karena yang masuk si pramugari junirnya yang langsung curiga melihat keduanya. Do Woo langsung pamit ke Soo A dengan sopan lalu pergi, begitu juga yang langsung pergi lewat sisi satunya, membuat si junior itu semakin curiga.

Selesai bertugas, si pramugari junior itu pergi keruang khusus pramugari (*maybe aku gak tahu bagian-bagian pesawat) disana ada Soo A yang sedang membaca daftar penumpang. Si junior itu berpura-pura ingin melihat daftar penumpang karena suatu alasan, Soo A tanpa menjawab langsung memberikannya. Si junior langsung mengecek nama dan berhenti dinama Seo Do Woo.

Ia lalu bertanya apa Soo A mengenalnya, walau mencoba bersikap wajar tapi tetap saja ketegangan Soo A nampak jelas, ia menjawab kalau orang yang dimaksud juniornya itu ayah teman anaknya. Junior itu masih curiga, ia bertanya lagi apa terjadi sesuatu karena kelihatanya mereka serius, Soo A malah meminta juniornya pergi dengan kereta makanan bebas bea, yang diiyakan juniornya tanpa bertanya lagi.


Sampai di cebu, nampak Do Woo langsung mengantri mendapatkan tiket pesawat yang sama dengan Soo A, ia tak sabar sesekali mengecek jam ditangannya lalu mendongak keatas nampak kegelisahan diwajahnya. Dan akhirnya, saat pesawat terbang, Soo A mengecek semua kursi penumpangnya dan ia tak bisa menemukan Do Woo disalah satu kursi tersebut.

Itu berarti, Do Woo tidak bisa memesan tiket yang sama dengan pesawat Soo A, Do Woo hanya bisa memandang pesawat Soo A terbang meninggalkannya. Sesampainya di Korea, Soo A sudah jalan dengan kopernya, dijalan ia ingat perkataan Do woo yang mengajaknya pulang bersama, tapi kenyataannya dia pulang sendirian.


Ditempat lain bandara, Mi Jin sedang bersiap-siap melakukan pekerjaannya, saat ia memesan coffe disebuah caffe tanpa sengaja ia melihat Ji Eun duduk sendirian disebuah meja. Ia langsung pergi menghampirinya, ia lalu menanyainya yang ternyata Ji Eun akan pergi ke Sidney.

MiJin bertanya kenapa Ji Eun pergi sendirian, lalu dimana pasangan Ji Eun apa mereka akan bertemu dipesawat? Godanya membuat Ji Eun cemberut dan meminta temannya itu menjaga rahasia, Ji Eun berbisik berkata kalau ia pergi sendirian. Ibunya meminta ia menjalankan bisnis di Sidney.

Mijin mengangguk mengerti, ia lalu mengganti topik lain dan bertanya tentang Do Woo perihal kematian Annie. Ji Eun sedih lalu bercerita kalau Do Woo sangat menyayangi Annie walau mereka tidak memiliki hubungan darah, mendengar itu membuat Mijin terbelalak.

Sementara Soo A masih duduk menunggu diruang tunggu sendirian, ia menerima pesan dari Mijin yang isinya mengatakan kalau Annie bukan anak kandung Do Woo, jadi dugaan Mijin waktu itu benar kalau ia mengira Do Woo itu pria lajang, lalu Mijin meminta Soo A untuk tidak terlalu merasa bersalah.

Sesaat Soo A terdiam, ia lalu menelpon seseorang sepertinya Do Woo, tapi nomor Do woo tidak bisa dihubungi. Akhirnya ia perlahan jalan keluar bandara, sampai diluar Do Woo menelponya, ia langsung menerima panggilan itu dan bertanya dimana Do Woo sekarang? Dia sudah tiba dibandara, dari seberang Do Woo menjawab kalau ia juga sudah sampai dibandara.

Soo A lalu melihat sekeliling dan akhirnya ia menemukan Do Woo berdiri menatap kedepan tak jauh darinya. Soo A lalu berdiri menghadap Do Woo yang tidak melihatnya, Soo A lalu berkata kalau ada sesuatu yang ingin ia katakan, Do Woo malah bertanya dimana Soo A sekarang, ia ingin menemuinya?

Tapi Soo A tak memberitahu, ia malah berkata kalau saat Do Woo mengajaknya pergi dan ia menolaknya, rasanya ia sedang mengingkari janji, rasanya semua terasa berantakan, dan ia merasa sudah terlalu tua untuk hal ini. Ia tidak bisa menangani semua ini dengan emosinya, sementara Do Woo diam mendengarkan perkataan Soo A.

Soo A berkata sambil menahan tangis, kalau ia merasa semua ini salah semua ini tidak benar, Do Woo memotongnya apa Soo A sudah selesai bicara, tapi Soo A menjawba belum, Do Woo lalu menoleh akan pergi tapi ia malah melihat Soo A. Do Woo lalu memilih jalan mendekat baru beberapa langkah, Soo A meminta Do Woo untuk tidak mendekat, membuat langkah Do Woo terhenti.

Soo A lalu berkata lagi, kalau ia melihat Annie, membuat Do Woo terhenyak. Soo A berkata lagi kalau ia melihat Annie setelah ia bertemu Hyo Eun, ia melihat Annie dibandara. Dan kenangan itu berputar kembali. Soo A lalu bercerita, kalau sebelum terjadi kecelakaan itu, ia bertabrakan dengan Annie, dan Annie menjatuhkan sebuah kelereng yang menggelinding kearahnya. Dan Soo A tidak bisa menghentikannya, ia melihat Annie berlari kekerumunan orang lalu terjadi kecelakaan itu, Do Woo mengernyit merasakan apa yang diceritakan Soo A.

Soo A melanjutkan ceritanya, kalau sampai diatas pesawat ia melihat daftar nama Eun Woo, andai saja ia bisa menghentikan Annie waktu itu, mungkin saja ia bisa menyelamatkan nyawa Annie. Karena pikiran itu membuatnya merasa sengsara selama ini, tapi setelah ia tahu kalau Annie bukan anak kandung Do woo, didalam hatinya ia berfikir “mungkin tidak apa-apa, untuk tidak merasa begitu bersalah, mungkin aku bisa memberitahunya kalau aku melihatnya” itulah yang ada dipikiran Soo A.

Mata Soo A sudah berkaca-kaca, ia lanjut berkata kalau ia hanya mencari-cari alasan tentang kematian Annie, membuat mereka akhirnya bertemu. Ia sadar dan sudah mencoba mengatakan kedirinya sendiri tentang semua ini. Tapi, seharusnya tidak seperti ini, karena sejak awal Do Woo lah yang tidak bisa ia hadapi dengan semua ini, Soo A lalu minta maaf.

Lalu ia cepat memalingkan wajah dan jalan kearah bus bandara yang sudah menunggu penumpang, Do Woo hanya diam mengernyitkan keningnya dan hanya bisa menatap Soo A jalan pergi. Didalam mobil perjalanan pulang, Do Woo diam berfikir, sepertinya ia memikirkan perkataan Soo A tadi. Ia melihat sekeliling langit, dan ia teringat perkataan Annie kalau melihat matahari terbit itu sebuah keberuntungan.


Annie ingin melihatnya sekali lagi nanti dengan ayahnya, kenangan itulah akhirnya membuat Do Woo berhenti dipinggir jalan tepat saat perlahan matahari menampakan dirinya dan langit mulai terang. Do Woo berdiri ditepi jalan mengangkat ponselnya untuk merekam momen itu, sambil didalam hatinya ia berkata “apa kau melihat matahari terbit itu?”.

Sampai dirumah mertuanya, Soo A terkejut melihat ibu mertuanya sudah bangun dan sudah rapi duduk dimeja makan. Ia menyapa ibu mertuanya yang kelihatan sedang tidak senang, ia meminta menantunya itu untuk duduk berbicara. Sampai didepan ibu mertuanya, ia langsung diberi tahu nilai-nilai ulangan Hyo Eun yang begitu buruk hasilnya 25 untuk bahasa, 48 untuk matematika, dan 77 untuk Bahasa Inggris.

Mertuanya itu menggelengkan kepala, ia mengomel kalau ia membesarkan dua orang anak tapi tak pernah melihat anak-anaknya mendapatkan nilai seperti itu. Soo A hanya bisa diam, mertuanya masih lanjut mengomel tapi berhenti saat melihat Soo A menguap. Soo A langsung menutup mulutnya dengan tangan, mertuanya itu meminta Soo A membasuh mukanya dahulu baru mereka lanjut bicara.

Soo A minta maaf, karena ia semalaman bekerja... tapi kata-katanya terhenti sekilas ia mengingat kejadian semalam saat Do Woo akan menyentuhnya dan perkataan Do Woo kalau sekarang mereka sedang berjalan diatas es yang tipis. Ingatan itu membuat Soo A seketika sadar dari rasa kantuknya, ia langsung mengatakan kalau ia tidak lelah sama sekali dan meminta mertuanya lanjut bicara.

Mertuanya langsung ke inti pembicaraan, ia menyinggung tentang gaji bulanan Soo A. Ia senang melihat Soo A bekerja, dan mendapat gaji bulanan, yang merupakan impiannya mendapat gaji bulanan. Soo A diam berfikir sambil menatap mertuanya, akhirnya mertuanya berkata lagi kalau pendidikan anak itu kewajiban ibunya, ia ingin Soo A lebih memperhatikan nilai-nilai Hyo Eun.

Soo A menjawab kalau ia akan melakukan yang terbaik, tapi.. lagi-lagi ia ingat kejadian semalam saat ia menuangkan wine untuk Do Woo. Membuatnya kebingungan, ia lalu bertanya lagi apa keinginan yang dikatakan mertuanya tadi (*Heol aku pikir Soo A tadi diam berfikir mendengar perkataan mertuanya, ternyata pikirannya kemana-mana).

Dengan hati-hati mertuanya berkata tentang gaji bulanan, belum selesai bicara Soo A langsung menjawab kalau ia akan memberikannya, membuat mertuanya melongo, Soo A akan memberikan gaji bulanan selama 6 bulan, ia juga meminta nomor rekening mertuanya ia akan mentrasnfernya. sesaat mertuanya itu tersenyum tapi pura-pura jaim lagi, dan berkata kalau ia akan menaikan nilai cucunya, bagaimanapun dia itu lulus kuliah *LoL.

Selesai berbicara, Soo A pergi kekamar anaknya yang masih tertidur, ia mengusap lembut wajah Hyo Eun sesaat, ia lalu duduk merenung dipinggir tempat tidur sambil sesekali menghela nafas. Sementara ditempat lain, Seok sedang membantu Nenek Go minum obatnya. Selesai minum obat, Seok bertanya apa kebetulan Nenek Go pernah mendengar tentang siapa ayah kandung Annie.


Nenek Go tersenyum dan berkata kalau ia pernah bertanya tentang tangan Annie yang terampil, dan Annie menjawab kalau ia mirip sekali dengan ayahnya. Nenek Go bertanya emangnya kenapa? Seok menjawab kalau Do Woo pergi menemui ayah kandung Annie, membuat Nenek Go heran, bagaimana Do Woo tahu dimana tempat ayah Annie berada?

Seok lalu bercerita kalau Annie sering membatalkan liburannya beberapa kali dan ingin pergi menemui ayahnya, tapi Hye Won tidak ingin bertemu, jadi Annie tidak bisa menemukan ayahnya. Nenek Go menduga kalau pasti tempat dimana Annie pergi menemui ayahnya itu tempat yang salah. Tapi, tiba-tiba saat ia merasakan nyeri ia malah mengingat sebuah kejadian, kenangan itu berlalu begitu cepat dikepala, kenangan saat pertama kali Annie datang dan juga ada bayangan seorang pria juga disana.

Nenek Go langsung melap keringat dingin yang keluar, Seok merasa tidak enak ia lalu memutus perkataannya kalau ucapan Nenek Go tadi benar, mungkin Annie pergi ketempat yang salah. Nenek Go mengiyakan sambil tersenyum, lalu ia meminta Seok untuk menetap disini daripada bolak-balik kerumahnya, tapi ditolak Seok dengan alasan kalau ia tidak akur dengan Hye Won.

Nenek Go lalu berbaring kembali, dibantu Seok merapikan selimutnya. Nenek Go berkata kalau ia rindu dengan rumah yang penuh suara, jadi ia ingin Seok kembali dan membantu Do Woo. Membuat Seok menghela nafas berat untuk mengiyakan permintaan Nenek Go. (*oh asumsiku salah, ternyata Do Woo anaknya nenek Go, jadi Hye Won yang menantu disini)


Sementara itu Do Woo sedang duduk menatap anak-anak yang sedang bermain bola basket disebuah lapangan terbuka. Do Woo berfikir tentang perkataan Soo A tadi, ia ingat saat diMalaysia, Annie menunjukan kelereng pemberian Nenek Go yang disimpannya.

Tepat saat itu sebuah bola memantul kearahnya, ia sadar dan menangkap bola itu lalu berdiri saat mendengar anak-anak memintanya melempar kembali bola itu. Do Woo memandang bola itu sesaat, lalu ia berdiri dan mendribel bola basket sebelum melemparnya dan tepat masuk kedalam keranjang, semua anak-anak disana bersorak sambil bertepuk tangan. Melihat apa yang baru saja terjadi membuat Do Woo seperti menemukan sebuah jawaban atas pikirannya.

Dirumah, Soo A masuk kedalam kamar Hyo eun sambil membawa segelas susu, tapi terlihat Hyo Eun tertidur diatas meja belajarnya. Soo A memanggil putrinya sambil menggoncang tubuhnya, membuat Hyo eun kaget dan langsung bangun dan mencoba sadar kembali belajar, membuat ibunya tersenyum melihatnya. Akhirnya Soo A tak tega dan meminta putrinya itu tidur ditempat tidur saja dan tak usah memaksakan diri, membuat Hyo Eun gembira langsung berjalan lalu merebahkan diri diatas tempat tidur dan langsung jatuh tertidur.

Saat akan keluar kamar, ponselnya berdering dan ternyata itu dari “bandara” alias Do Woo, Soo A hanya memandangi saja sambil menghela nafas dan dia memilih untuk tidak mengangkatnya. Do Woo akhirnya memilih jalan pulang, sampai dibawah studi kerjanya ia mendongak kelantai atas disana lampunya menyala, dan saat masuk kedalam, ternyata ada Hye won.

Do woo bertanya ada apa Hye won datang, dengan manis Hye won menjawab karena ia sulit menghubungi Do woo jadi ia menebak Do woo pasti akan datang ke studio kerja jadi ia datang dan menunggunya disana. Ia juga khawatir kalau Do woo bingung saat tahu Ji eun menghilang, dan sepertinya Do woo baru tahu Ji eun pergi ia malah balik bertanya memangnya ada apa dengan Ji Eun?

Sambil tersenyum, Hye won menjawab kalau Ji eun melakukan itu karena ia sedang berada disituasi yang tidak menguntungkan. Jadi, Hye won ingin berbicara sesuatu dengan Do woo, membuat Do Woo heran apa Hye won sampai datang kesini hanya ingin bicara dengannya? Hye won senyam-senyum sambil berkata kalau biasanya ia tidak melakukan hal ini tapi ia akan berusaha yang terbaik.


Membuat Do woo sedikit penasaran, ia lalu duduk diseberang Hye Won duduk, Hye won lalu berkata kalau malam ini ia memutuskan untuk tidur disana malam itu, sembari ia merubah tempat duduk menjadi tempat tidur. Tapi, Do woo seperti tidak ingin, dan ia meminta Hye won mengatakan terlebih dahulu apa yang Hye Won ingin katakan.

Hye won tidak mau mengatakannya karena ia mengira Do woo pasti tidak suka mendengarnya, Hye won lalu berdiri pergi kesuatu tempat. Do woo menghela nafas dan bergumam kalau saat ini waktu yang tidak tepat. Sesaat, Hye won kembali dengan membawa bantal dan selimut, dan Do woo juga sudah pindah tempat ketempat yang disiapkan Hye Won tadi.

Hye Won lalu duduk disampingnya, ia meminta Do woo mengulurkan tangannya, dan dituruti Do woo, Hye won lalu menggenggam tangan suaminya. (*kok eke sebel liatnya *eaa padahal secara waras no problem toh dia istrinya wkk). Hye Won lalu berkata, kalau suaminya itu tidak lupa tentang mimpinya kan, yaitu membawa kembali “mongyudowondo” kembali ke Korea.

Do woo tersenyum mendengarnya, Hye won lalu melanjutkan keinginannya yaitu melindungi nilai-nilai lama dan membuatnya menjadi lebih berharga. Ia meminta Do woo untuk tidak melupakan hal itu, karena suatu hari ia akan memahami dirinya. Membuat Do woo sedikit tidak suka mendengarnya, ia memanggil nama istrinya tapi, Hye won langsung menciumnya, walau begitu sepertinya Do woo tidak punya hasrat untuk membalas ciuman istirnya, ia hanya diam saja.


Sementara, Soo A mengambil sekaleng beer didalam kulkas lalu keluar ke balkon favoritnya setelah mematikan lampu dapur. Didalam kegelapan malam, ia duduk sambil meminum beer itu sendirian, memandang pemandang dari balik kaca jendela.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ia langsung mengangkatnya karena itu dari suaminya. Kapten Park langsung meminta istirnya untuk menjauhkan nilai-nilai Hyo eun dari ibunya. Suaminya menebak kalau istrinya Cuma tidur saja dirumah, dan tidak bisa menyembunyikan satu lembar nilaipun dari ibunya. (*tepat sekali kapten), Soo A mengakuinya, lalu ia berkata kalau ia akan menyembunyikan nilai Hyo eun sebisanya mulai sekarang.

Kapten Park juga berkata kalau ia sudah sampai, membuat Soo A heran maksudnya, membuat Kapten Park kikuk, ia mengulang perkataannya kalau ia sudah sampai, dan balik bertanya memangnya aneh? (*LoL, lucu kalau liat mereka berdua ngomong kek bukan suami istri *garuk-garuk kepala). Soo A terhenyak, lalu ia berkata kalau biasanya suaminya tak pernah berbicara mengenai hal-hal seperti itu jadi aneh, suaminya berkata lagi kalau ia sudah sampai, lalu mematikan teleponya. (*Heol, mereka kok kek canggung gitu yak, bahkan Soo A manggil suaminya kapten park, menghormati sekali)

Selesai menelpon istrinya, eh dia malah menelpon Song Mijin (*bwah ini suami istri cocok sekali ckckck).  Ternyata yang ditelpon sedang berbincang santai dengan Ji eun, dia sibuk memandangi ponselnya yang tersu berdering, dan tidak mendengar Ji eun yang mengoceh masalahnya. Ji eun merasa bersalah mengakhiri bisnisnya dengan Do woo dengan cara seperti ini, ia juga pergi ke sidney tanpa memberitahunya, semua ini karena ibunya.


Merasa tidak didengarkan, ia lalu memangil Mijin yang kaget ia langsung menutup ponselnya dan serius mendengar perkataannya Ji eun. Baru saja duduk, suara bel berbunyi membuat Mi jin yang baru minum hampir tersedak, Ji eun langsung berdiri dan bertanya siapa yang datang, tapi Mijin langsung berteriak dan meminta Ji eun untuk tidak membuka, ia bergumam dasar gila.

Saat bertanya siapa itu dengan hati-hati, ternyata itu teman-teman Mijin lebih tepat juniornya, langsung membuat Mijin tersenyum lega dan menyuruh Ji eun membuka pintu. Junironya itu bertanya tentang tempat beer yang terkenal di Sidney, tapi Mijin kesal dan memberi saran mereka untuk tidak pergi kesana karena hidup mereka akan berantakan, membuat ketiganya yang mendengar bengong sesaat, lalu kedua Juniornya itu memilih langsung pamit pergi.

Ji eun menutup pintu, lalu jalan kembali ketempat duduknya sambil tertawa, membuat Mijin tersinggung dan bertanya kenapa ia tertawa. Ji eun bertanya apa yang dimaksud tadi Mijin sendiri? Ia ingat perkataan Mijin saat mabuk, Mijin bertanya apa yang ia katakan? Ji en berkata kalau Mijin bertemu mantan pacarnya ditempat minum beer.

Mijin menyangkalnya, tapi Ji eun yakin, kalau Mijin cerita kalau mantan pacarnya tinggal sepertiga tahun dirumah Mijin, sepertinya dinegara lain, dan sepertiga akhir dengan gadis-gadis diseluruh dunia, dan terakhir ia menikahi teman Mijin. (*kita semua tahu kan siapa yang dimaksud? Jadi hubungan antara Mijin dan Kapten Park dulu itu mereka pacaran, iyuuh)

Mijin dulu mengumpat dan mengatakan laki-laki itu berengsek, karena mendapatkan kepercayaan diri dari memanfaatkan wanita. Mijin memotong perkataan Ji eun dan memintanya untuk melupakan masa lalunya yang mengerikan. Ji eun mengiyakan dan ia juga tidak akan mengatakan kepada siapapun, tapi Ji eun menebak apa orang itu seorang pramugari? Yang tentu disangkal Mijin. Kapten Park sudah berada di caffe biasanya minum beer sendirian, sesekali ia mengecek ponselnya tapi tak ada pesan yang diharapkannya. 


Kita kembali ke korea, distudio kerja Do woo, terlihat Hye won sudah tidur (*eh mereka habis ngapain LoL, abaikan pertanyaanku). Do woo belum tidur ia berdiri menghadap dinding kaca melihat pemandang luar, ia bertanya apa istrinya itu sudah tidur.

Tapi Hye won diam tak menjawab, Do woo lanjut berkata kalau hari sebelum kemarin ia pergi menemui ayah kandung Annie. Mendengar itu langsung membuat mata Hye won terbuka, Do woo berkata lagi kalau mereka mengatakan kalau tidak ada orang seperti itu. Membuat Hye won langsung panik, ia langsung bertanya bagaimana Do woo tahu tempat itu?

Membuat Do Woo menoleh sementara Hye won bergegas bangun dan duduk menatap suaminya, ia mengulang pertanyaanya bagaimana Do Woo tahu? Do woo lalu bercerita kalau ia pernah mengantar Annie pergi menemui ayahnya, Hye won bertanya kapan itu? Tahun berapa dan berapa kali? Tanya Hye won kesal ia langsung berdiri.

Dan apa lagi yang Do woo rahasiakan darinya, Do woo minta maaf karena merahasiakannya, karena Annie tak minta banyak, dan Do woo juga menghormati hubungan Annie dan ayahnya. Hye won berteriak marah, kenapa Do woo melakukan itu, kenapa Do Woo memberi harapan palsu? Do woo ikut menaikan nadanya heran kenapa itu disebut harapan palsu? Tapi Hye won bertanya lagi apa Do woo tahu kebenarannya?

Do woo mengangguk, membuat Hye won panik, ia berkata kalau Annie sesungguhnya tak tahu apa-apa, ia berhenti sejenak lalu berkata lagi kalau sebenarnya ayah Annie sudah meninggal. Membuat Do woo tersentak kaget, Hye won menelan ludah lalu berkata kalau ini sudah lama, ia sengaja menyembunyikan kematiannya dan pura-pura masih ada.  Karena Hye won sadar, ia punya hubungan buruk dengan ayah Annie. Tapi ia tidak pernah mengatakan hal buruk tentang ayah Annie. Dia mengatakan kalau ayahnya orang baik, dan seniman yang baik.

Do woo bertanya apa Annie tidak tahu kalau ayahnya sudah meninggal? Hye won menjawab kalau Annie bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Hye won berkata kalau ayahnya pergi setelah Annie lahir. Do woo bingung, ia setengah bergumam, kalau Annie tidak tahu? Lalu kenapa ia pergi ketempat itu?

Hye won menjawab kalau itu tempat khayalan Annie, ia selalu membayangkan ayahnya datang ketempat itu. Do woo bertanya lagi, kenapa Hye won tak cerita hal itu kedirinya? Hye won menjawab kalau ia sudah cerita kalau ia sekarang sudah tidak bersama-sama lagi, dan jika ia memberitahu Do woo ia takut Do woo menganggap dirinya masih perduli pada ayah Annie.

Tapi Do woo masih gigih, ia bertanya lagi kapan ayah Annie meninggal? Membuat Hye won tersudut ia marah apa sekarang Do woo sedang menanyainya, memangnya kenapa Annie adalah anaknya, ia ingin menjadi lebih baik, lalu kenapa Do woo tidak bisa melakukan hal sama? Untuk siapa Do woo melakukan semua ini, apa baiknya Do woo mengetahui semua ini? perkataan Hye won membuat Do woo tak habis pikir dengan pikiran Hye Won.


Apa Do woo melakukan ini untuk Annie? Dirinya? Atau untuk Do woo sendiri? Atau untuk siapa? Ia hanya ingin Do woo menjadi ayah Annie, karena itu ia tidak ingin Annie membicarakan ayah kandungnya ke Do woo, walau ia tahu Annie tidak suka hal itu, tapi ia melakukannya karena ia mencintai Do woo, dan ia akan tetap begitu. Hye won tak bisa menahan lagi ia lalu menangis juga, Do woo bimbang ia jalan mendekat, tapi ditahan Hye won dengan mengangkat tangannya.

Hye won berkata kalau ia lari dari masalah yang tak bisa ia tangani, ia lari ayahnya Annie, karena itu ia juga ingin lari dari Annie. Ia tidak bisa hidup dengan mengingat mereka berdua, ia bisa menahan emosinya dan tidak jadi menangis, ia bisa mendongakan kepala kembali menatap Do woo. Ia meminta agar Do woo tidak menyebutkan nama Annie lagi.

Hye won sudah mengatakannya berkali-kali sebelum mereka menikah, kalau ia tidak ada... didunia ini lagi (*ambigu ini terjemahannya?). Hye won lalu jalan berpaling, dan agak tergopoh-gopoh, Do woo terburu-buru lari menghampirinya dan memeganginya, tapi ditolak Hye won yang memilih jalan pergi sendiri, meninggalkan Do woo yang galau berat.

Ternyata , Hye won ada dibawah ditempat caffe bar, ia duduk didepan meja bar, sambil mengetuk-ngetuk meja untuk berfikir, sesaat ia menoleh kebelakang. Diatas, Do woo duduk merenung berfikir, ia teringat saat pertama kali bertemu Annie. Dirumahnya waktu itu, ia melihat Annie dengan Hye won, ia menyapanya dan menanyakan siapa dia ke Hye won yang sulit memberitahunya.


Beberapa waktu, terlihat keduanya sudah akrab selepas dari hari pertama mereka bertemu, didalam mobil, Annie bercerita kalau matanya mirip sekali dengan ayahnya, dan terlihat Annie sungguh-sungguh bercerita. Kembali ke saat ini, mengingat dan mencocokan kembali dengan ucapan Hye won membuatnya sakit kepala.

Ia berfikir dan menyimpulkan kalau salah satu diantara mereka berbohong. Saat Do woo mandi, Hye won perlahan-lahan kembali keruang atas, ia mengambil kunci mobil Do woo, dan langsung mengecek tempat-tempat tujuan Do woo melalui gps, tapi sepertinya ia tak menemukan tempat yang ia maksud.

Tiba-tiba ia merasa suaminya hampir selesai mandi, ia buru-buru mematikan mobil dan keluar, ia mengembalikan kunci mobil ketempatnya, saat itu ia melihat ponsel Do woo. Perlahan-lahan, ia mengambil ponselnya dan memasukan kata sandi, tapi berkali-kali salah, ia cemas sambil berfikir apa kata sandinya? (*huwee ini suami istri masak gak tahu kata sandi hp pasangannya?).

Sementara Hye won masih mencoba, Soo A jalan-jalan kelorong waktu itu sampai ketepia sungai Han, ia lalu mengeluarkan ponsel dan memandanginya (*eke ikut deg-degan ._.). akhirnya Hye Won menyerah, ia meletakan kembali ponsel kemeja, tapi belum melangkah ia mendengar ponsel Do woo berdering, ia segera mengambil dan membaca dari siapa, ia mengkerutkan kening saat membaca “Hyo Eun Omma” ia berfikir sesaat lalu mengangkatnya, diseberang Soo A yang merasa panggilanya tidak direspon ia akan menutupnya tapi sadar panggilnya dijawab, ia menempelkan kembali kedekat telinganya.


Keduanya sama-sama diam, saat Soo A akan bicara, tiba-tiba Hye won mendengar suaminya keluar, ia langsung mematikan teleponya membuat Soo A bingung. Hye won segera lari menuruni anak tangga, tapi tertahan melihat ponselnya Do woo masih ia bawa, akhirnya ia memutuskan pergi ke caffe untuk minum.

Do woo selesai mandi, heran melihat Hye won masih disana, dia berkata kalau ia mengira Hye won sudah pergi. Hye won menjawab kalau ia ingin minum coffe, ia lalu berdiri sambil menjelaskan kalau besuk ia akan pergi ketempat gym dan akan mulai bekerja setelah dari tempat itu. Ia merapikan mantelnya sambil melirik ponsel Do woo yang tergeletak dimeja, ia lalu berkata kalau ada panggilan untuk Do woo, ia bertanya siapa yang malam-malam begini menelponya, dari nama kontaknya menunjukan ibu seseorang.


Langsung membuat Do woo terbelalak, sesaat Do woo berfikir lalu berkata kalau ia berkomunikasi dengan para ibu di Malaysia, setelah mereka mendengar tentang Annie. Mendengar nama Annie membuat Hye won tidak senang (*heol mas.e daebak pinter cari alesan). Hye Won berkata lagi, kalau dulu Do woo tak memperhatikannya saat ia masih magang, dan Do woo mulai tertarik dengannya setelah melihat Annie dengannya?.

Do Woo kesal, ia lalu bertanya, apa Hye won mengira dirinya menikah dengannya karena Annie? Padahal menurut Do woo, ia sudah memperhatikan Hye won cukup lama, dan mengetahui kalau Hye won membesarkan Annie sendirian itu menjadi nilai tambah saja. Ia tidak akan menikah dengan seseorang hanya karena simpati semata. Ia mengerti kalau semuanya terasa semakin sulit, tapi ia minta jangan pertanyaakan cintanya. (*aih yang bener bang?)

Hye won akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembicaraan mereka tentang Annie, dan ia akan jalan pergi, tapi Do woo menahannya, dan mengatakan kalau Annie selalu berterima kasih pada Hye won, ia tahu kalau Hye won menyerahkan hidupnya untuk membesarkan Annie. Ia tidak ingin menempatkan Hye won dalam masalah, jadi karena itu mereka berdua merahasiakan pertemuan itu ke Hye won, jadi Do woo meminta Hye won untuk tidak terlalu tersinggung. Hye won malah berkata, kalau sebenarnya tujuanya kesini untuk memberitahu Do woo kalau Ji eun mengundurkan diri dari bisnis, jadi Hye won berharap mereka bisa bertahan, lalu ia pamit pergi.  


Soo A masih ditempatnya, setelah merasa lega ia berbalik akan jalan pulang, tapi ponselnya berdering, itu dari Do woo, yang langsung bertanya apa tadi Soo A menelponya? Soo A lalu balik bertanya apa ia mengganggunya atau membangunkannya? Do woo jail menjawab kalau Soo A menelpon pria yang sudah menikah ditengah malam, apa Soo A tidak tahu kalau itu waktu ia dan istrinya sedang sibuk. (*kalau enggak paham berarti kalian belum dewasa wkkabur)

Soo A merasa bersalah, ia minta maaf dan meminta Do woo melanjutkannya, mendengar itu membuat Do woo tertawa, ditengah tawanya ia bertanya melanjutkan apa? *LoL, Do woo lalu bercerita kalau kemarin malam ia pergi jalan-jalan, melihat anak-anak bermain basket, tiba-tiba bola itu menggelinding ke arahnya, ia heran padahal jaraknya cukup jauh tapi ia berhasil memasukan bola itu tepat kedalam keranjang. Karena itu ia menelponya kemarin? Apa itu salah?

Soo A tersenyum sambil berkata tidak, Do woo lalu bertanya Soo A ada dimana sekarang, tanpa sadar Soo A menjawab kalau ia ada di Han Kang (sungai Han) tapi ia meralatnya kembali, ia berkata kalau ia sedang berada di beranda, dia bisa melihat sungai Han dari sana. Do Woo heran kenapa Soo A ada disana, Soo a menjelaskan kalau beranda rumah sudah seperti kamarnya, Do woo lalu bertanya apa ia bisa bicara langsung, ia bisa datang sekarang. (*istrinya sendiri dibiarkan pulang sendiri, eh ini istri orang mau disamperin?).

Tapi ditolak Soo a beralasan ia harus mengawasi Hyo Eun, Do woo mencoba mengerti ia lalu berbalik menatap pemandang seol dari balkonya, ia mengira-ngira dimana tempat sungai han berada, dan beramsusi ia sedang melihat kearah sungai han jadi mereka sedang berhadap-hadapan sekarang (*terserah lu bang)

Do woo lalu berkata lagi, kalau ia ingin serius setelah mendengar pengakuan Soo A kemarin, ia merasa hal itu tidak bisa ditangani sendiri, apa itu sulit? Tapi tak ada jawaban dari Soo A. Do woo berkata lagi, kalau mereka sering berbicara tentang hal-hal yang berguna, atau mereka berdua sering saling menatap? Apa itu juga sulit bagi Soo A? Keberadaan Soo A sendiri sudah ia anggap sebagai bantuan terbesar baginya.

Membuat Soo A terhenyak, Do woo lalu jalan ketempat duduk sambil bercerita kalau ia tidak pernah tahu sebelumnya, kalau keberadaan seseorang bisa sangat menghibur. Karena sebelumnya, ia selalu berhasil menghibur dirinya sendiri sampai sekarang, bukankah itu sangat sombong? Do woo juga ingat, ibunya pernah berkata sesuatu pada dirinya.

Kalau seseorang sebelum ia meninggal, ia selalu meninggal sesuatu untuk seseorang yang sangat ia cintai untuk melepaskan kerinduannya. Entah bagaimana mereka menemukan caranya untuk meninggalkan sesuatu itu, mereka tahu kalau orang yang ia tinggalkan membutuhkan hal itu. Mereka merasakan sesuatu dengan bantuan kekuatan misterius.

Do woo merasa Annie seperti dirinya, dan ketika ia jatuh cinta kepada seseorang, ia akan melakukanya secara habis-habisan. Soo A mengangguk-angguk saja, Do woo melanjutkan perkataannya, kalau tepat sebelum Annie meninggal, ia membawa mereka berdua untuk bersama-sama. Dengan kekuatan misterius bagaimana ini bisa terjadi? Emosi yang terlalu banyak yang pernah diceritakan Soo a waktu itu, ia meminta maaf. Tapi ia sangat membutuhkannya, ia tidak bisa kalau tanpa mereka.

Membuat Soo A terisak-isak emosional, Do woo merasa semua itu adalah hadiah dari putrinya. Soo a tak bisa mengendalikan diri, ia berkata kalau angin dari sungai han terlalu kuat, ia minta maaf dan akan menelponya lagi nanti, lalu ia menutup teleponya. Do woo mengkerutkan keningnya sambil bergumam Han Kang (sungai Han)? Baram (angin)?, lalu ia bergegas pergi keluar.


Setelah tenang, Soo A memutuskan pindah ketempat dekat terowongan, ia duduk dibawah pohon sambil menelpon Do woo kembali. Sementara Do woo sudah ada didalam mobil yang berjalan, Do woo mengangkat teleponya sambil bertanya apa Soo A masih disana? Di beranda? Yang diiyakan Soo A, membuat Do woo tersenyum. Soo A lalu berkata tentang Annie, ia berterima kasih karena Do woo menganggapnya seperti apa yang diceritakan tadi.

Do woo bertanya, apa Soo A merasa baikan? Yang diiyakan Soo A, membuat Do woo tersenyum lega juga. Soo A lalu berkata saat emosinya meledak-ledak dan merasa kalau semua itu sudah berakhir? Do woo memotong apa yang harus berakhir? Soo A lalu bertanya apakah ada hubungan seperti itu? Apakah itu mungkin? Antara seorang pria dan wanita yang sudah menikah? Yang diiyakan Do woo. Tapi, Soo A merasa itu tidak mungkin, Do woo menjawab lagi kalau mereka tidak ditakdirkan untuk melakukan hal itu, semua ini terjadi secara alami.

Dan mereka berdua membutuhkannya, jadi sekarang ini mereka berfikir bagaimana caranya ini menjadi mungkin. (*huwee, eke mencoba berfikir jernih, disini eke merasa mereka tahu salah, dan mencoba mencari alasan agar apa yang mereka lakukan ini benar?). Tapi, kedengangarannya baik dalam kata-kata, tapi emosi mereka...

Soo A merasa bersalah, ia tidak yakin bisa mengatakan itu semua baik-baik saja. Do woo bertanya apa yang membuatnya merasa bersalah? Soo A menjawab, Mencari dan menyentuh, menginginkan dan menunggu. Do woo bertanya, apa itu semua karena ia berkata akan terbang bersama Soo A waktu itu? Soo A langsung memotong dan berkata bagaimana dengan 3 hal tidak, bagaimana hubungan dengan 3 hal tidak ini?

Do woo bertanya, apa 3 hal tidak itu? Menginginkan, menyentuh, dan meninggalkan. Do woo bertanya apa dengan 3 hal tidak itu, membuat Soo A merasa lebih baik? Tapi Soo A diam saja, Do woo lalu menjawab kalau ia akan memikirkannya, Soo A berkata kalau ada satu hal lagi, membuat Do woo teridam. Soo A meminta Do woo untuk tidak menentukan hubungan seperti apa mereka ini, karena ia merasa tidak yakin. “Aku menyukaimu”, “Aku mencintaimu” dan “Aku membencimu”, jika mereka merasakan semua itu, ia meminta untuk tidak mengatakanya agar semuanya terlihat dengan jelas.

Do woo bertanya, kenapa? Soo A menjawab kalau dengan begitu maka hubungan ini akan berlangsung lebih lama. Do woo menjawab kalau itulah anehnya motif, tapi ia akan mencoba memikirkannya, ia mengajak Soo A berbicara lagi nanti sambil mematikan teleponnya. Soo A seperti bisa bernafas karena rasanya sejak tadi ia menahannya, ia bergumam sendiri, sebenarnya apa yang sedang ia bicarakan? (*lah apa mba?)

Beberapa saat, Soo A masih duduk disana, sampai teleponya berdering lagi, dari Do woo lagi yang bertanya sedang apa Soo A duduk disana? Mengagetkan Soo A yang langsung berdiri dan berbalik dan tadaa dilihatnya dari terowongan Do woo jalan kearahnya. Do woo mengajak Soo A melakukan hal itu, keduanya lalu jalan mendekat, setelah cukup dekat keduanya mematikan ponsel masing-masing.

Do woo berkata lagi, 3 hal tidak ia ingin melakukan hal itu, hubungan seperti apa itu? Dan kenapa ia harus melakukannya? Untuk terus melihatnya? Ia ingin mencari tahu.  Keesokan harinya, Soo A mencoba mencari tempat pas untuk meletakan hadiah pemberian ibu Do woo yang sudah ia ber pigura. Ia mencoba memajang didinding, lalu ia merubahnya kedekat dapur tapi ia merasa kurang pas, dan akhirnya ia meletakannya dibawah didekat mesin cuci.


Sambil memandang hiasan itu, ia ingat pembicaraan semalam, Do woo mengatakan untuk mereka tidak ingin atau membuat janji? Lalu bagaimana mereka bisa bertemu? Soo A menjawab, entah bagaimana caranya, mungkin saja saat berpapasan. Do woo tidak yakin bagaimana bisa mereka berpapasan, ia jadi penasaran. Bagaimana kalau mereka melanggar, 3 hal tidak ini? ia ingin mencari tahu sambil tersenyum, ia memandangi Soo A dari atas sampai bawah, lalu bertanya apa itu cara berpakaian Soo A saat dirumah, refleks Soo A langsung menutupinya dengan jaket mantel yang ia kenakan. *LoL

Dan Soo A kembali ke beranda favoritnya minum-minum beer lagi, masih diotaknya terngiang-ngiang perkataan Do woo semalam.


Malam hari dirumah mertuanya Soo A, akhirnya aku melihat keluarga Park berkumpul untuk makan bersama, mereka makan tapi diam-diaman, dan suasanya aneh sekali. Hyo eun sampai berkata kalau rasanya canggung sekali, membuat ketiga orang dewasa itu hanya bisa saling melirik (*LoL). Selesai makan, Hyo eun dan Soo a mengantar Kapten park keluar apartemen menuju mobilnya, Soo A bertanya apa ia harus membeli beberapa pakaian, agar Kapten Park bisa beristirahat disini.

Langsung dipelototi suaminya, dan berkata kalau Soo A tidak usah melakukan hal itu? Karena ia tak bisa beristirahat sama sekali dirumah ibunya (*Heol) setelah ngomong begitu, ia langsung jalan kemobilnya, terlihat Hyo Eun sangat bahagian melihat ayahnya tak jadi menginap dengan cerita ia mengucapkan sampai jumpa ke ayahnya, yang dijawab Good Night ayahnya sambil melambai tangan. (*wkk, aku type anak yang lebih akrab ke ayahku drpd ibu, jadi rasanya aneh aja melihat ada anak yg agak kurang akrab dengan ayahnya) Sementara Soo A diam saja, seperti sudah hapal dengan watak suaminya itu.

Keesokan harinya, Do woo pergi kesebuah ruangan dideretan rumah lamanya, ia merebahkan diri disana sambil merenung menatap langit-langit. Sementara ditempat lain, Soo A dan ibu mertuanya pergi mengunjungi Hyun Joo (*haduh aku lupa namanya?:P). Untuk membicarakan nilai-nilai Hyo Eun, ia merasa itu akan sulit, saat ia bicara dengan mertua Soo A, eh Soo A malah diam melamun.


Hyun Joo bertanya apa Soo A masih tidur, mertuanya menjawab kalau Soo A sangat sibuk bekerja jadi ia tak punya waktu mengurusi anaknya. Jadi mertua Soo a yang akan mengambil alih, Hyun Joo bertanya ke Soo A lewat gerak-gerik matanya, yang dijawab Soo A dengan gerakan mata yang sepertinya hanya dipahami mereka berdua.

Lalu Hyun Joo serius memberitahu mertua Soo A kiat-kiat memberi les kepada anak-anak, yang didengar serius mertua Soo A, sementara Soo A sendiri diam sambil memikirkan sesuatu hal lain. Dan Hyun joo ini pintar memuji mertua Soo A yang langsung kesenangan dan terus bicara tentang dirinya sendiri, cara ia merawat dirinya sendiri (*wkk), sementara Soo A tiba-tiba ia melihat brosur yang dibawa mertuanya dan ia merasa tertarik untuk melihatnya.

Ia bertanya kemertuanya itu apa, mertuanya menjelasakan kalau ia dan teman-temannya sering bertemu diistana tua itu, disana sering ada pelajaran tentang kebudataan dan juga makanan dan pemandangan indah yang gratis.


Ditempat Do woo, ia sudah duduk disebuah Gasebo dengan Paman Seok sambil minum arak beras, Paman Seok berkata kalau Do woo selalu mengurung diri diruangan itu saat ia sedang banyak masalah. Jadi ia mengajaknya bicara, pertama-tama ia mengira-ngira kalau Hye won bercerai setelah ia melahirkan anaknya, lalu ia membesarkan sendiri ditengah kesulitan.

Lalu, Ayah Eun Woo meninggal beberapa tahun yang lalu, itu menurut Hye Won dan semuanya rasanya benar. Tapi, Eun Woo mendapat hadiah dari ayahnya saat ia berusia 7 tahun, mereka sering bertukar surat, dan Eun Woo menemukan dimana ayahnya bekerja, lalu ia meminta Do woo membawanya kesana beberapa kali, dan itu semua menurut Eun Woo.

Lalu, Paman Seok bertanya, mana yang benar? Do woo menjawab, entah Annie yang berbohong tentang ayahnya yang tidak ada, atau Hye Won yang berbohong tentang seorang pria yang masih hidup. Atau tidak ada satupun yang berbohong diantara mereka berdua? Paman Seok berfikir lagi, Eun Woo benar-benar berencana bertemu ayahnya ditempa itu, dan ayahnya benar-benar mati beberapa tahun yang lalu, dan Eun Woo benar-benar tidak tahu tentang hal itu.

Tapi mereka berjanji untuk... tapi dengan siapa Eun Woo membuat janji? Membuat paman Seok frustasi (eke aja ikut kliyengan dengernya) Paman Seok sampai berteriak, kalau semua itu akan masuk akal kalau salah satu dari mereka berbohong. Do Woo menjawab, daripada ia tahu siapa yang berbohong, akan lebih menyedihkan jika ia harus mencoba untuk mencari tahu?


Akhirnya tanpa sepengatahuan Do woo, Paman Seok mengirim surat ke Young Ji, karyawan yang kerja magang dirumah itu sebelum Hye Won. Ia bertanya, sebelum Young ji mengundurkan diri, ia merekomendasikan Hye won sebagai karyawan magang selanjutnya, ia ingin melihat formulir pendaftarannya, apa kah Young Ji bisa mengirimkan formulir itu?

Sementara, Soo A sudah ada dalam bis sambil melihat brosur pameran seni Nona Go, ia lalu mengingat pertanyaan Do woo bagaimana ia bisa bertemu secara kebetulan. Akhirnya Soo A sampai disana, dan terlihat Hye won sedang merapikan karya yang akan dipamerkan, ia menoleh saat Soo A datang, ia ramah bertanya apa ada sesuatu yang ditanyakan Soo A, yang dijawab tidak Soo A, ia hanya ingin melihat-lihat saja.


Setelah menoleh keseluruh ruangan, dengan hati-hati Soo A bertanya sesuatu, tapi ponsel Hye won berdering, dengan sopan Hye won meminta Soo A kembali lagi setelah 30 menit karena ia sedang mempersiapkan semuanya, yang diiyakan Soo A.

Setelah Soo A pergi, Hye won mengangkat teleponya yang ternyata dari Marie, ia meminta Marrie untuk menyingkirkan semua barang Annie dari kepolisian. Yang diiyakan Marrie, tapi kenyataan berkata lain, barang itu masih tergeletak diatas meja rumah Marrie.


Paman Seok menelpon Young Ji, untuk memastikan Young ji membaca emailnya, yang ternyata Young ji sedang belajar keluar negeri. Dan ternyata, Young Ji sudah lama tidak berhubungan dengan Hye won bahkan ia tidak tahu kalau Hye won sudah menikah sekarang, tapi sebelum Paman Seok memebritahu, ia bertanya dimana formulir pendaftaran itu, dan Young ji mengatakan sesuatu yang ternyata formulir itu ada diruangan dekat Paman Seok berdiri sekarang.

Soo A memilih jalan-jalan mengitari rumah kuno tersebut, dan sampai diatas ia melihat Do woo duduk merenung disebuah Gasebo membuatnya terhenyak, Do woo juga tanpa sengaja menoleh dan melihat Soo A berdiri menatapnya, membuat keduanya terhenyak dan berfikir apa ini sebuah kebetulan?


Soo A jalan mendekat, dia bertanya sedang apa Do woo disini? Do woo menjawab kalau ia kadang-kadang kerja disini dan juga minum, sambil menunjukan mangkuk berisi arak beras. Tapi Do woo kelihatan masih tidak percaya melihat Soo A disini, wanita 3 hal tidak, ia lalu turun dari gasebo dan jalan mendekati Soo A tapi Soo A segera mundur.

Saat itu, tiba-tiba Paman Seok berteriak memanggil nama Do Woo, Soo A langsung mengajak Do woo lari, membuat Do woo heran kenapa mereka harus lari, tapi Soo A langsung menarik tangan Do woo mengajak lari, membuat Do Woo tersenyum senang.


Sampai dipersimpangan jalan, Soo A berhenti kebingungan, Do woo bertanya apa Soo A tahu jalannya? Soo A menjawab ia tak perduli, membuat Do woo tersenyum lalu ia menarik tangannya, kini ia yang menggenggam tangan Soo A lalu mengajak Soo A lari mengikutinya. (*aku mencoba sadar mereka itu salah, tapi saat melihat mereka bergandengan tangan aku tersenyum senang, aih anehnya sebuah perasaan mereka akan merasa benar ketika itu menyenangkan)

Mereka sampai ke deretan rumah tadi, dan Do woo mengajak Soo A masuk keruangan favortinya tadi. Lalu keduanya bergegas masuk dan menutup pintunya. Soo A langsung duduk disisi jendela, sementara Do woo duduk disisi lainnya.


Do woo menahan senyum bertanya, kenapa mereka harus bersembunyi?

Next : On the Way To The Airport Episode 6

NB : Maaf kalau banyak gambar yg belum ke upload, keburu mati listrik jatah giliran padam dari PLN :P

No comments:

Post a Comment