Monday, October 3, 2016

[Sinopsis] On the Way to the Airport Episode 4

Akhirnya Do Woo mengantar Hye won pulang dengan mobil, didalam perjalanan pulang, Hye Won berkata kalau Do Woo tak perlu mengantarnya jika ia ada pekerjaan dan juga ia bisa menunggunya, ia berbicara sambil minum beer digelasnya tadi, sementara Do Woo hanya menoleh sesekali dan tak berkata sedikitpun.


Dan ternyata didalam pikiran Do Woo memikirkan perbincangannya dengan Soo A tadi, dia juga membayangkan saat Soo A memberikan gelas beernya ke Hye Won yang langsung diambil Hye Won begitu saja tanpa terima kasih. Do Woo masih menatap punggung Soo A dan teringat saat dibandara waktu itu, saat Soo A mengambil bagasi yang berisi barang Annie, lalu saat mereka pulang dalam guyuran hujan, dan akhirnya ia sadar lalu berbalik jalan pergi mengikuti Hye Won yang sudah keluar duluan. (*jadi didalam bayangan ada bayangan huft kompleks)


Episode 4


Entah sudah berapa lama, Soo A duduk termenung disana, sampai Hyun Woo datang menyadarkannya kalau ia akan tutup sekarang. Soo A tersadar dan bertanya berapa yang harus ia bayar sambil memberikan kartu kreditnya, nampak tangan Soo A masih gemetar, Hyun Woo menghela nafas melihatnya, sambil meraih kartu kredit lalu sambil memasukan kedalam mesin kasir. Hyun Woo menasehati Soo A untuk tidak melupakan apa yang terjadi hari ini, karena ia merasa Soo A punya perasaan tetapi mencoba menutupinya, ya walau Hyun Woo juga merasa tidak paham seluruhnya. Soo A berfikir lalu ia menjawab kalau ia tak akan melupakannya sambil pamit pulang.


Sampai dirumah, keduanya turun, Hye won menawarkan Do woo untuk memakai mobilnya, tapi Do Woo menolak beralasan kalau mobilnya masih di caffe dan akhirnya Do Woo pergi. Sementara itu, Soo A sudah diluar dan menyetop taxi, saat akan masuk ponselnya berdering ternyata Do Woo yang menelphone, Soo A ragu ia menoleh keatas nampak Hyun Woo masih sibuk membersihkan caffe, akhirnya Soo A memilih masuk kedalam taxi lalu pergi baru menjawab telpon.

Do Woo menelpon sambil jalan kaki, ia bertanya dimana Soo A sekarang, yang dijawab kalau ia sedang dalam diperjalanan pulang. Do Woo bertanya apa ia bisa bertemu sekarang? Tapi Soo A menjawab kalau ia sudah menyeberangi sungai Han sekarang (*eke baru sadar kalau sungai Han itu ternyata panjang *LoL), Do Woo berkata lagi tapi dipotong Soo A kalau ia tak mau melupakan apa yang ia pikirkan, Do Woo heran lalu bertanya apa yang dipikirkan Soo A, sambil membuka kaca jendela Soo A menjawab “Menakutkan dan Menyedihkan” membuat langkah Do Woo terhenti. Soo A merasa perjalanannya dalam waktu 30 menit di kota aneh sudah selesai, ia mengucapkan selamat tinggal lalu menutup telepon. Ia mencoba menghela nafas sambil tersenyum kecil menatap pemandangan malam sungai Han, sementara Do Woo termenung diam disana.


Sampai di caffe, temannya masih disana ternyata dan sedang membuat beer baru, ia menuangkan kedalam gelas dan memberikanya ke Do Woo yang langsung meminumnya. Hyun woo berkata kalau Do Woo berselingkuh ia tak mau jadi temannya lagi, membuat Do woo menoleh kearahnya. Hyun woo berkata lagi, memang zaman sudah berubah tapi tetap saja ia menentang hal itu.

Hyun woo lalu berkata lagi, kalau dulu ia percaya Do Woo bisa melakukan hal terbaik saat Do woo bekata kalau ia berrkencan dengan Hye Won, karena menurutnya Do Woo itu orang yang baik dan berpendirian. Dan ia juga tahu kalau Do Woo tidak suka wanita yang egois, dan semua orang tahu kalau Hye Wonitu  egois, tapi mungkin Hye Won lebih baik diantara banyak wanita egois lainya.

Do Woo terdiam berfikir, lalu ia menyebut nama Eun Woo, membuat Hyun Woo menghela nafas, sambil berkata lebih tepatnya menasehati kalau Hye Won memang pantas dan layak dicintai dan mendapat cintanya Do Woo. Dan tentang wanita tadi (Soo A)  jika Do Woo hanya tertarik dengannya karena ia merelakan beernya untuk orang lain, mendengar itu membuat Do Woo tersenyum. Hyun Woo tak habis pikir, wanita satunya menyerahkan beernya sementara wanita satunya mengambilnya begitu saja tanpa ragu-ragu.

Hyun Woo memincingkan matanya menatap tajam ke Do Woo, ia menebak kalau sebenarnya Do Woo ragu-ragu tentang apa yang ia rasakan. Do Woo menghela nafas sambil membenarkan temannya kalau ia tidak tahu, tapi ia tidak yakin apa yang akan terjadi nanti.

Sampai dirumahnya, Soo A langsung mengemasi barang-barangnya yang belum ke angkut kedalam koper, terutam perlengkapan terbangnya seperti seragam dan lain-lainya. Sampai dirumah mertuanya, Hyo Eun sudah menunggunya dan bertanya darimana ibunya sampai pulang malam sekali, Soo A menjelaskan kalau ia pergi mengemasi seragam kerjanya dan juga mengambil beberapa barang milik Hyo Eun.

Hyo Eun sengaja mengeraskan suaranya, tapi sepertinya neneknya sudah tidur. Hyo Eun merasa takut ditinggalkan ibunya, jadi ia minta maaf dan berjanji tidak merengek minta kembali ke Malaysia, membuat Soo A menghela nafas lalu meminta anaknya itu memeluknya, lalu keduanya berpelukan.


Keesokan harinya, Soo A duduk sambil mengawasi putrinya yang sedang merapikan buku sekolahnya kedalam tasnya. Hyo Eun bercerita semalam ia menunggunya sambil berkata kata ajaib “Dia akan datang”. Mendengar kata ajaib itu, Soo A ingat saat Hyo Eun kecil, Hyo Eun sedang les berenang, ia diusir teman-temannya karena jam belajar renangnya sudah selesai. Akhirnya Hyo Eun ganti baju lalu jalan pergi sendirian sambil mengingat perkataan ibunya, yang akan datang saat ia belum selesai les, tapi kenyataan sampai selesai dan sampai ia sudah diluar tempat les ibunya belum datang.

Beberapa lama menunggu, akhirnya Soo A datang dan kebingungan tak melihat Hyo Eun ditempat les, ia akhirnya pergi mencarinya dan menemukan Hyo Eun sudah duduk ditempat tinggi dekat tempat lesnya. Soo A sangat cemas, tapi Hyo Eun dengan polos tersenyum menyambut ibunya, dan berkata kalau ia percaya ibunya akan datang.

Kembali kesaat ini, Soo A memegang pergelangan tangan Hyo Eun dan meminta putrinya berjanji dimanapun ia berada percayalah kata-kata ajaib “itu akan terjadi” “akan ada” dan “Dia Akan datang”. Lalu Hyo Eun memejamkan matanya dan mempraktekan perkataan ibunya, ia berharap ia bisa masuk tim sepak bola dan akan ada tim sepak bola disekolahnya. Tapi saat melihat putrinya berdoa, Soo A malah teringat semalam saat tanganya dipegang Do Woo membuatnya mengerjap dan tanpa sadar mengatakan tidak, membuat Hyo Eun keheranan.

Selesai mengantar Hyo Eun sekolah, Soo A bersiap akan pergi dengan keluar dari kamarnya dengan menenteng tas. Tepat didepan kamarnya, ibu mertuanya sedang nyantai makan apel dan masih pakai baju tidur, ia terkejut melihat Soo A yang sudah rapi, membuatnya langsung lari terbirit-birit masuk kamar. *LoL


Selesai mandi dan ganti baju, ibu mertuanya mengajak Soo A berbicara empat mata. Ia meletakan kertas berisi catatan jadwalnya. Ia akan pergi cukup lama untuk sebuah acara, jadi ia meminta adik Soo A datang untuk mengurus Hyo Eun. Selain itu, dikertas itu juga dicatat kalau Soo A harus memberi 70% dari gaji bulanya untuknya sebagai gaji bulananya *HeoL. Lalu, setiap orang harus mengurus makan sarapanya masing-masing. Dan juga aturan-aturan yang lain, tentu membuat mata Soo A terbelalak.


Do Woo dan pamannya yang sudah rapi mengenakan baju berkabung, keduanya kaget saat melihat kamar Annie yang sudah kosong melompong. Paman Seok sudah marah-marah tidak jelas melihat situasi itu, tapi Do Woo hanya bisa diam dan mengira-ngira siapa pelakunya.

Soo A pergi mengunjungi Hyun Joo, ia meminta makanan manis karena ia sangat melelahkan sambil bercerita tentang ibu mertuanya. Tapi sesaat ia malah teringat ucapan Hyun Woo, disertai bayanganya saat gerhana, saat bersama dengan Do Woo semalam.  Membuatnya gelenge kepala, lalu ia menceritakan kalau banyak hal rumit yang terjadi, sambil ia menunjukan panduan yang dibuat Kapten Park ke Hyun Joo.


Hyun joo menyarankan agar Soo A memilih apa yang akan ia lakukan kedepan, apa ia mau menjadi Ibu Rumah tangga yang mengurus anaknya, atau memilih menjadi ibu pekerja untuk kepentingan pendidikan masa depan anaknya, membuat Soo A menghela nafas panjang.

Ia malah menjawab memilih terbang ke alaska, lalu keduanya tertawa, mengingat saat mereka masih menikmati masa mudanya menjadi pramugari pergi menikmati tempat baru dan makanan baru. Lalu, mereka mengingat saat mereka jalan-jalan kepandang pasir di dubai, mengingat jalan-jalan malah mengingatkan Soo A saat ia mengatakan perkataan perpisahan semalam dengan Do Woo, saat Hyun Joo bertanya apa Soo A ingat, Soo A menjawab tentu saja ia ingat semuanya, dan ia suka saat berdua bersamanya. (*ini ambigu sebenarnya, entah yang dimaksud Soo A sebenarnya itu Hyun Joo atau Do Woo)

Soo A membuyarkan angannya, lalu ia bertanya kenapa Hyun joo harus berhenti. Hyun joo menjawab kalau ia sudah punya anak 3, dan tidak tega melihat ibunya mengurus mereka. Dan sebenarnya, alasanya berhenti adalah saat ia pulang kerja dan didepan apartemen ia melihat seorang wanita sedang sibuk menjemur selimut, ia merasa itu sangat damai.


Membuat Soo A terhenyak membayangkan sendiri perkataan temannya itu, tiba-tiba Soo A tak mampu menahan kesedihannya, matanya berkaca-kaca. Membuat Hyun Joo tersentak dan bertanya ada apa dengan Soo A yang langsung dibantah Soo A sambil mencoba tersenyum. Ia mengipas-ngipas tanganya meredam airmata dan hawa panas, sambil berkata kalau ia sangat stress saat ini, Hyun joo lalu menawarkan beberapa waffle dan ice cream, setelah itu Soo A pamit pulang. Sampai diluar, Hyun joo menasehati Soo A agar tidak berhenti kerja lagipula sebentar lagi Hyo Eun juga akan tumbuh besar.

Tapi yang sangat dipikirkan Soo A saat ini sepertinya bukan yang dipikirkan Hyun joo. Akhirnya Soo A memilih untuk memberitahu secara langsung, kalau semua ini sudah selesai walau mereka tidak melakukan apa-apa. sepanjang jalan Soo A cemas reaksinya apa ia akan tertawa atau terkejut mendengar perkatannya, tapi ia sudah meyakinkan diri kalau ia harus mengatakannya.

Tapi sampai didepan caffe, ia cemas lagi bagaimana kalau dia tidak ada disana. Saat masuk kedalam terlihat Hyun Woo sedang menyiapkan meja kursi pelanggan dan terkejut melihat Soo A. Lalu dengan ramah ia menyambutnya, Soo A berkata kalau ia meninggalkan sesuatu diatas, tapi dipotong Hyun woo yang seakan tahu maksudnya, ia menjawab kalau Do Woo tidak ada diatas.

Soo A menarik nafas merasa lega, membuat Hyun Wo heran, ia bertanya kenapa Soo A seperti itu, ia datang karena ingin berbicara denganya tapi ia juga lega saat tahu Do Woo tidak ada? Soo A mencoba menjelaskan kalau ia memang benar-benar ingin mengambil barangnya yang ketinggalan, sekaligus ingin berkata sesuatu kalau Do Woo ada.

Tapi Hyun Woo tak percaya, ia bertanya apa Soo A sudah mempunyai keputusan? Membuat Soo A bingung, akhirnya Hyun Woo membiarkan Soo A naik keatas, tapi Soo A merasa tidak enak, ia meminta Hyun Woo untuk tidak menyimpulkan sendiri.

Sampai distudio kerja, Soo A melihat sekeliling mencari paper bagnya, dan saat ketemu ia jalan lalu mengambilnya. Dan tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, membuatnya menghentikan langkah.


Sementara Do Woo bersama keluarganya sedang menghadiri upacara pemakaman Annie, mereka berkumpul untuk berdoa didepan altarnya. Saat berdoa, Do Woo menatap photo Annie kemudian melirik kearah Hye Won yang memalingkan pandanganya enggan menatap photo Annie. Selesai acara, semuanya jalan pergi, Do Woo jalan sendiri dibelakang dan langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar, ternyata pesan dari Hyun Woo yang mengatakan kalau Soo A datang keatas. Membuat Do Woo terdiam sesaat, lalu ia menoleh dan menatap langit.

Ternyata model rumah tradisional yang membuat Soo A tidak jadi pergi, ia malah duduk didepan meja itu sambil asyik membuka pintu-pintu kecil rumah miniatur tersebut. Dan keasyikanya itu terganggu saat sms masuk, dan ternyata itu dari Do Woo yang bertanya apa dia masih dilantai atas. Tentu, membuat Soo A kaget ia langsung berdiri dan cepat membalas kalau ia pergi untuk mengambil hadiah yang tertinggal semalam.


Soo A bergegas mengambil tas dan juga paper bag dan melangkah pergi, tapi sms masuk lagi, Do Woo meminta Soo A untuk membuka tirai jendela, walau bingung Soo A menurut membukanya dan ternyata pemandangan kota yang sangat bagus membuat Soo A terkesima. Ia lupa akan pergi, jadi ia membuka semua tirai jendela. Sms dari Do Woo lagi yang meminta Soo A untuk duduk didepan jendela menikmati pemandangan yang tak mungkin ia temukan ditempat lain. Ia juga meminta Soo A jalan-jalan sebentar disana sambil menikmati pemandangan karena cuaca hari ini sedang bagus.

Sementara ditempat Do Woo, ia dan Hye Won mengantar Nenek annie pulang sampai masuk kedalam mobil. Setelah nenek Annie pergi, Paman Seok datang langsung bertanya ke Hye Won, karena ia baru saja mendapat telepon dari jasa konstruksi kalau mereka akan merenovasi kamar Annie. Dengan santai Hye won menjawan, kalau ia pernah bilang kalau ia akan membuat perpustakaan jadi ia akan merubah kamar Annie jadi perpustakaannya.

Membuat Paman Seok dan Do Woo terkejut mendengarnya, Paman Seok langsung berkomat-kamit marah tapi tak bisa berkata keras. Tapi Hye Won melihatnya dan ia tahu kalau pamanya Annie itu sedang marah dengannya, ia tak perduli dan meminta Do Woo segera mengantarnya pergi karena ia punya janji.


Do woo bertanya, kenapa Hye Won tak pernah cerita apapun kepadanya. Paman Seok menyarankan agar Hye Won memindah beberapa barang saja tidak perlu merenovasinya. Hye Won menjawab kalau ia ingin menghapus semuanya, membuat kedua orang itu kaget, Paman Seok semakin emosi, ia berkata kalau yang Hye Won lakukan tidak akan membuatnya lupa tentang Annie. Paman Seok berteriak kesal kenapa Hye won berusaha keras melupakannya, dengan tenang Hye won menjawab kalau hanya ibunya yang berhak membicarakan Annie jadi ia meminta paman Seok untuk menjaga perkataannya.

Didalam mobil, Hye Won terus mengomel kalau ia lelah harus kesal terus-menerus, ia sudah muak dan tak ingin melakukannya lagi, sementara Do Woo hanya diam tak komentar apapun. Sampai melewati bangunan, Do Woo melirik kearah jendela seakan ingin cepat pergi kepadanya.

Sampai tempat kerja Hye Won, keduanya keluar dari mobil, Hye Won merasa sedikit cemas pembicaraanya tadi dengan Paman Seok. Tapi Do Woo meminta untuk tidak mencemaskannya, ia hanya ingin Hye won sedikit menghormati Seok karena ia sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri, ia lalu pamit pergi dan meninggalkan mobil untuk Hye won.

Sampai didalam sebuah pameran seni, Hye won lari-lari kecil kearah rekan kerjanya, ia minta maaf terlambat karena ia harus menghadiri suatu acara. Temannya itu tak mempersalahkannya, lalu memberi Hye won brosur yang baru datang mengenai pameran mereka, dan sepertinya mereka akan berkerja sama mengadakan pameran diluar negeri seperti dibelanda, karena pameran di Asia tenggar kemarin bisa terbilang cukup suskses.

Temannya itu juga cerita, kalau Ji Eun sedang mempunyai masalah dengan ibunya yaitu nyonya Hong yang merupakan sponsor utama mereka, itu bearti nyonya Hong keluar dari kerjasama dengannya, membuat Hye won agak tidak suka mendengarnya.

Sementara, Do Woo berlari-lari (huwee kenapa gak nyari taxi bang?) dijalan ia menurunkan temponya sambil mengeluarkan ponselnya untuk sms Soo A, memintanya untuk keluar ke balkon karena pemandangan disana tak kalah bagus.


Dan akhirnya, mereka teleponan, Do Woo sudah dekat disana dan ia sedang jalan kaki, sementara Soo A sudah kembali didepan meja kerja Do Woo, ia bertanya apa Do Woo menggambar dengan pensil? Do Woo menjawab tidak, ia menggambar menggunakan komputer. Soo A heran kenapa ada banyak pensil runcing dan juga rautan? Mengingatkannya saat ia masih sekolah dulu, ia suka sekali meraut pensil.

Do Woo tersenyum, ia bercerita kalau sebenarnya saat ia berfikir keras ia meraut semua pensil-pensil itu. Soo A tersenyum senang, ia lalu berkata kalau ia merasa jauh lebih nyaman hanya berbicara dengan Do Woo seperti ini. Lalu Soo A juga mengajaknya tetap bicara seperti itu lewat telepon karena ia tahu mereka berdua sangat sibuk.

Do Woo bertanya untuk berapa lama? Apa sebulan? Yang langsung ditolak Soo A, ia ingin selamanya seperti ini. membuat keduanya tersenyum, Do Woo berkata kalau hubungan mereka terdengar aneh, sebagai teman bertelepon. Membuat Soo A ikut tersenyum juga sadar merasa aneh juga, ia lalu meletakan pensil yang ia bawa sambil pamit akan pergi.

Ia sebenarnya datang karena ia punya suatu rencana tapi lain kali ia bisa mengatakannya. Do woo bertanya apa harus ia datang? Tapi ditolak Soo A membuat langkahnya terhenti, Soo A menghela nafas berulang kali dan sesekali mengigit bibirnya, lalu berkata kalau sebenarnya ia punya dua rencana, pertama kalau Do Woo ada disana, kedua kalau Do Woo tidak disana.


Tanpa sengaja, Soo A mengambil mouse dan menyalakan layar proyektor dinding. Do woo bertanya apa rencana Soo A jika ia tidak disana? Tapi belum menjawab, Soo A melihat proyektor di dinding menampikan gambar Norigae yang hiasanya seperti ia mengenalnya.

Soo A lalu bertanya apa apa slide yang ada diproyektor itu pameran yang ada di Malaysia, Do woo membenarkanya kalau itu buatan ibunya. Soo A lalu mengingat kalau ia pernah mengunjungi pameran itu diMalaysia dengan Hyo Eun.

Lalu ingatanya berputar cepat, ia teringat dengan kelereng dari batu giok yang ia temukan saat ditabrak anak kecil waktu dibandara. Dan bentuknya mirip sekali dengan hiasan di Norigae yang ada di slide itu. Ia lalu ingat nama Seo Do Woo dan penumpang pesawatnya yang tidak datang yaitu Seo Eun Woo. Membuat Soo A sadar sesuatu, ia dengan takut lalu bertanya nama Korea Annie, Do woo lalu menjawab kalau namanya Eun Woo, Seo Eun Woo.

Mendengar jawaban itu membuat Soo A ketakutan, ia lalu meminta maaf karena ia harus menutup teleponya. Lalu ia menutup teleponya sambil mencoba menenangkan diri. Membuat Do woo heran, ia langsung mempercepat langkahnya. Sementara Soo A bergegas mengambil tas dan paper bag lalu jalan keluar, ia duduk sebentar di anak tangga paling atas untuk mengumpulkan kekuat setelah itu ia lanjut jalan menuruni anak tangga, sampai dibawah ia tak menggubris pertanyaan Hyun woo.


Dan sampai diluar, ternyata Do Woo sudah sampai diseberang jalan, Soo A hanya bisa menatap penuh kebingungan akhirnya ia menyetop taxi dan masuk kedalam taxi, membuat Do Woo semakin kebingungan, ia ingin berteriak memanggilnya tapi ia menahanya dan membiarkan Soo A pergi.

Sampai diatas, Do woo duduk didepan meja kerjanya sambil menelpon Soo A, tapi sepertinya Soo A mematikan ponselnya. Membuat Do woo menghela nafas panjang, lalu meletakan ponselnya dimeja, ia mengangkat kedua tanganya kebelakang sambil berfikir.

Sementara, Soo A jalan sambil melamun kesekolah Hyo Eun, sampai dipinggir lapangan sepakbola, Soo A jatug terduduk, ia bergumam apa yang harus ia lakukan. Tepat saat itu Hyo Eun memanggilnya, membuatnya mendongak dan ternyata sebuah bola mengarah kearahnya, ia berhasil menangkapnya, tapi badanya ikut terjatuh menengadah menatap langit.

Teman-teman Hyo eun mencemaskannya, tapi kata Hyo eun ibunya tidak apa-apa, dan meminta ibunya melempar bolanya. Soo A mencengkeram bola, sambil menatap langit yang samar-samar nampak bayangan pesawat, ia berkata dalam hatinya kalau ia layak mendapatkan lemparan bola diwajahnya, karena itu merupakan takdir.

Dibandara, suaminya pulang bertugas, ia sedang jalan dengan rombongan crew penerbangannya. Sebelum berpisah, Kapten Park berterima kasih atas kerjasamanya. Pramugari junior yang suka dengannya, menawarinya untuk bergabung dipesta perpisahan timnya, tapi ditolak Kapten Park.

Sementara dirumah mertuanya, Soo A mencoba mensibukan dirinya dengan membongkar isi lemari es, lalu membersihkan lemari es dan menata ulangnya. Dilanjut membersihkan seluruh ruangan didalam rumah itu, sampai kekamar anaknya. Sampai ia menemukan sebuah bangku dan ia kebingungan harus meletakannya dimana, akhirnya ia memilih meletakan di belakang dan ia duduk disana sambil merenung.


Suaminya menelpon memberi tahu kalau ia sudah pulang? Soo A bertanya apa dia tidak akan mampir? Yang ditolak Kapten Park dengan alasan ia lelah (*iyuh, selelah apapun suami kalau liat istri sama anaknya kan jadi hilang lelahnya?), Soo A seperti sudah mati rasa mendengar perkataan suaminya. Ia lalu bertanya apa meja riasanya ada disana? Kebetulan Kapten Park sedang jalan kearah meja rias, yang ia iyakan dan bertanya kenapa? Soo A menjawab tak apa, karena bangkunya ada bersamanya sekarang.

Agak aneh dengan jawaban Soo A, Kapten Park bertanya apa ada yang ia tanyakan lagi? Soo A menjawab tak ada. Kapten Park lalu berkata kalau ia sudah memutuskan untuk menggirim Hyo Eun kesekolah terbaik didaerah sana, setelah peringkat Hyo Eun naik ia akan mengirimkannya bersekolah keluar negeri.

Soo A hanya diam saja sambil mendengar, Kapten Park lalu berkata lagi kalau ini demi kebaikan mereka bertiga bukan salah satu dari mereka. Tapi Soo A tetap diam, membuat Kapten Park heran, ia bertanya kenapa Soo A diam saja? Soo A menjawab ia akan melakukannya. Kapten Park menyeringai tak percaya, ia sesaat melihat sesuatu didalam laci meja rias istrinya yang sedang ia duduki sekarang.

Ia lalu bertanya sambil mengambil kelereng batu giok dan bertanya ke istrinya apa itu dan kenapa istirnya menyimpanya? Dengan dingin Soo A meminta suaminya meletakan kembali benda itu ketempatnya, membuat suaminya langsung menutup teleponnya.

Malam hari, ibu mertuanya membuka kulkas dan kaget karena semua isinya berubah dan membuatnya kebingungan. Soo A buru-buru datang menjelaskan kalau ia menata ulang, dan memberi label semuanya. Mertuanya mengeluh kenapa Soo A memisah-misahkan antara Kimchi dan irisan Kimchi, ia juga bertanya apa Soo A selalu minum beer setiap malam, yang diiyakan Soo A.

Membuat ibu mertuanya heran kenapa Soo A selalu menjawab “ya” dan tak pernah menjawab “tidak”. Soo A lalu berkata kalau ia akan mengembalikan semuanya ketempat asal, tapi ditolak mertuanya, karena ia tidak ingin Soo A kecewa dan memilih pergi lagi seperti dulu.

Malam hari, Soo A memilih duduk ditempatnya tadi sambil minum beer, ia menelpon Mi Jin bertanya apa yang sedang ia lakukan. Mi jin menjawab kalau ia sedang berdoa, karena mereka punya jadwal baru besuk, ia berharap tidak akan mendapatkan tim terbang ke Sidney. Begitu juga dengan Soo A, karena ia tak mau setim dengan suaminya.

Mi jin bertanya tadi ia melihat suami Soo A pulang apa mereka tidak serumah? Soo A mengiyakan kalau mereka akan bertemu akhir pekan dan kata suaminya itu demi kebaikan mereka semua. Membuat Mi Jin tertawa mendengarnya, ia menduga suami Soo A sedang bersenang-senang dan menikmati masa lajangnya lagi.

Soo A tak tahu harus bagaimana lagi, karena ia merasa bersalah membawa pulang Hyo Eun tanpa seijin suaminya. Selesai bicara tentang keluarganya, Soo A memberanikan diri berbicara tentang Ayah Annie, mendengarnya membuat Mi jin heran kenapa dengan Seo Do Woo? Apa mereka bertemu jika iya, ia minta diajak *HeoL.

Soo A lalu membantahnya, dia bercerita kalau ia merasa bertemu Annie sebelum ia meninggal, sebelum penerbangan walau tidak yakin tapi Soo A merasa kalau itu adalah Annie. Mi Jin merasa aneh, Soo A membenarkan ia juga merasa dirinya sangat bersalah, andai saja waktu itu ia menghentikannya mungkin kecelakaan itu tidak terjadi.

Mi jin merasa kalau itu bukan kesalahnya, kenapa Soo A berfikir seperti itu? Atau Soo A merasa itu penyebab dia harus tinggal bersama mertuanya sekarang. Tapi, Soo A malah terisak-isak dan menangis, membuat Mi jin tambah kebingungan dan bertanya kenapa Soo A menangis? Membuat Mijin ikut sedih dan bertanya apa itu begitu buruk, Soo A mencoba berkata kalau hanya ia merasa kasihan dengannya, lalu ia menangis lagi, Mi Jin diam saja dan membiarkan temannya itu menangis.

Selesai berbicara, Soo A kembali kekamar putrinya yang sudah terlelap, ia berbicara dalam hati, kalau saja waktu itu ia bisa meraih pergelangan tangan Annie, mungkin sekarang ia dan Hyo Eun tidak harus tinggal dirumah mertuanya, Dan mungkin ia juga akan terus berteriak ke suaminya yang keras kepala. Dan, Dan... ia juga tak akan bertemu dengan pria itu. Do woo terus mengecek ponselnya, tapi tak ada sms atau panggilan dari Soo A, sementara Soo A kembali lagi duduk ditempat tadi sambil berkata kalau ia ingin berhenti.


Keesokan harinya, paman Seok mengajak Do Woo mengikuti kesuatu tempat, ternyata rumah mereka bersebelahan. Sampai di gasebo diantara rumah, keduanya lalu duduk, dan paman Seok memberi sebuah peti kayu ke Do Woo sambil berkata kalau itu milik Eun Woo. Do Woo heran, dan berkata kalau ia membawanya dari Malaysia tapi kenapa masih ada, apa Hye Won belum menghancurkan semuanya.

Paman Seok tersenyum kalau ia mengambilnya sebelum ketahuan Hye Won, perlahan Do Woo membukanya didalam ada beberapa pernak-pernik dan juga sebuah ponsel. Paman Seok mengambilnya dan bertanya apa ponsel itu milik Annie sebelum pergi ke Malaysia? Do Woo mengangguk tanda mengiyakan.

Dan diapartemen Mi Jin, ia melakukan peregangan lalu bersiap-siap menyalakan laptopnya sebelum mencari sesuatu ia berdoa terlebih dahulu. Lalu ia mengetik identitasnya di web perusahaan Air Asia untuk mencari jadwal terbarunya, dan trala dia dapat jadwal ke Sidney *Hahaa, membuatnya cemberut dan bergumam apa ini saatnya ia harus berhenti jadi crew awak pesawat.


Sama dengan Mi Jin, Soo A juga sedang was-was menunggu jadwal terbarunya. Dan membuatnya menghela nafas juga, akhirnya ia pergi menemui Hyun joo dan suaminya. Ia menceritakan jadwal terbarunya yang mendapat tim penerbangan ke Oakland? Membuat mereka kaget, dan merasa itu jadwal yang sangat berat, pasti ada orang dalam yang mencoba bermain-main dengan Soo A.

Hyun Joo menyarankan Soo A berbicara ke ketua kelompoknya agar ia bisa berganti jadwal dengan relawan atau lainnya. Tapi, seuami Hyun joo memotong dan bertanya apa ada perbedaan terbang selama tiga hari dan terbang selama 1 minggu, yang dijawab keduanya bersamaa ya tentu ada (*LoL ini yang tanya dagel :D.)


Dan akhirnya pasangan suami ini disidang, mertua Soo A tak habis pikir dengan jadwal terbang Soo A yang seminggu full. Mertuanya kesal karena ia sudah punya acara besuk, Soo A menjawab tidak apa mertuanya bisa pergi, karena besuk jadwalnya pulang-pergi ke dan dari Cebu, Dan juga adiknya akan datang mengawasi Hyo Eun.

Kini giliaran anaknya yang ditanya, apa anaknya itu sudah tahu kalau ini akan terjadi, makanya ia sengaja mengirim anaknya pindah kerumahnya. Eh, Kapten Park malah menyindir sambil menatap Soo A, kalau seseorang membawa Hyo Eun pulang, lalu seseorang lagi marah-marah dan sisanya menderita (*LoL)

Soo A mengantar suaminya pulang, sampai didalam mobil Kapten Park bertanya apa Soo A menyesal membawa Hyo Eun pulang, Soo A diam saja. Jadi, Kapten Park menyarankan agar istrinya itu baik-baik dengan ibunya.

Membuat Soo A tak bisa menahan emosinya, ia menahan pintu mobil suaminya dan berkata kalau ia tak mengapa kalau harus memuji mertuanya berulang kali, tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya suaminya itu tak pernah perduli, jadi ia mohon agar suaminya sedikit saja perduli. Kapten Park malah menjawab kalau ia terganggu dengan perkataan tolong Soo A, ia tidak suka Soo A berkata tolong terus menerus.

Jadi Kapten Park meminta Soo A bertanggung jawab sendiri atas apa yang ia lakukan, karena ia tetap pada pendirian rencana 6 bulannya. Soo A tak bisa berkata lagi dan memangil suaminya itu pria Sidney sambil membanting pintu mobil.


Dan akhirnya, Soo A dan Mi Jin memutuskan untuk pergi ke salon perawatan diri untuk mengobati stress keduanya. Mi Jin kaget dengan jadwal yang didapat Soo A lebih mengerikan darinya, ia lalu meminta Soo A untuk meninggalkan posnya, dan lebih baik mendaftar menjadi instruktur saja. Soo A menjawab kalau ia sudah melakukanya, tapi belum ada hasilnya. Mi Jin menyemangati Soo A, ia minta Soo A melakukan sesuatu kecuali berhenti, karena Soo A satu-satunya teman tersisa dari angkatannya.

Do woo pergi ketempat memperbaiki ponsel, seseorang membawa ponsel dan mengatakan kalau itu sudah diperbaiki. Setelah berteriam kasih, Do Woo sudah tak sabaran, ia langsung membuka dan mengecek isi ponsel Annie, tapi ia heran saat melihat folder pesan kosong, begitu juga folder panggilan. Ia tak putus asa, lalu mencari ke galeri, dan disana ada beberapa photo.


Tapi photo itu juga membuatnya tak mengerti, hanya deretan photo yang hampir sama, sebuah photo pemandangan hamparan rumput dan pepohonan. Karena tak paham, akhirnya ia memindahkan photo itu ketab dan memperlihatkannya ke Paman Seok yang menerka-nerka juga apa maksud dari photo itu.

Paman Seok lalu melihat tanggal photo itu diambil, dan meminta Do Woo memeriksa harinya, dan ternyata semua tanggal berbeda diphoto itu merupakan hari sabtu. Membuat Paman Seok ingat sesuatu, kalau itu merupakan hari dimana Annie selalu pergi untuk menemui Ayah kandungnya.


Keesokan harinya, Kapten Park sudah berada dipesawat dengan crew penerbangnya mereka melakukan briefing singkat sebelum memulai tugas mereka. Sementara Soo A pergi menemui ketua kelompoknya, ketuanya itu berkata kalau ia mendapat surat rekomendasi dari Chang Hoon (suamia Hyun joo bukan sih? :D) ia akan mempertimbangkannya dan akan memberitahu Soo A begitu lowongan itu (instruktur) dibuka.

Soo A lalu bertanya apa ada seseorang yang mau bertukar jadwal terbang ke Oakland, seakan mengerti maksud Soo A. Ketuanya berkata kalau awalnya seseorang bertanya tentang tukar jadwal, lalu mereka pada akhirnya berhenti. Yang langsung disangkal Soo A, kalau ia tidak akan berhenti, ketuanya itu seperti berpengalaman.

Dia berkata apapun alasan Soo A, pada akhirnya hasilnya sama saja, ketuanya menyarankan agar Soo A memprioritas satu hal yang memang utama dan mengabaikan lainnya, agar hidup Soo A lebih mudah.


Akhirnya Soo A hanya bisa pasrah menerima jadwalnya, ia lalu pergi dan saat sampai dibangku tunggu dibandara, ia teringat kenangannya bersama Do Woo malam itu membuatnya bimbang lagi. Akhirnya ia memilih duduk disana terlebih dahulu, sambil berfikir apa iya harus pergi? Atau tetap tinggal? Ini pilihan sulit baginya?. Tiba-tiba ia mendengar suara Do Woo mengatakan kalau ia senang Soo A ada disini, membuat Soo A menoleh kesamping tapi tak ada siapapun disana.

Ia lalu mengambil ponselnya, lalu memilih tombol contact, ia mengganti nama Ayah Annie menjadi Seo Do Woo, tapi ia hapus lagi dan mengganti menjadi Bandara. Sementara, Do Woo pergi ketempat yang ada di photo Annie, ia mengendari mobilnya ke sebuah lahan dan ditengah-tengah lahan itu berdiri sebuah bangunan.

Soo A melanjutkan langkahnya kembali, tapi berhenti saat ponselnya berdering ternyata itu dari ibu mertuanya, yang nampak cemas karena Hyo Eun belum juga kembali padahal hari mulai sore, padahal Soo A kemarin bilang kalau adiknya akan membawanya pulang. (*eh, tetap saja nenek ini cemas ama cucunya wkk).

Soo A lalu menelpon adiknya  yang terengah-engah berlari-lari mencari Hyo Eun, Soo A bertanya ke adiknya Jae A (oke selanjutnya kita panggil Jae A saja) apa dia sedang bersama Hyo Eun? Jae bercerita kalau ia harus pergi kerumahnya Soo A untuk suatu hal, baru ia pergi kerumah mertuanya Soo A, setelah itu baru ia pergi ke sekolah Hyo eun, tapi kata teman-teman Hyo Eun pergi bertanding sepak bola dengan sekolah lain, tapi ia tak tahu dimana tempatnya.

Soo A mulai cemas ia berkata kalau Soo A belum hapal daerah sana, Jae A lalu memberikan ponselnya ke anak-anak teman sekolah Hyo eun untuk meyakinkan Soo A kalau Hyo Eun memang benar pergi dengan anak-anak lebih besar untuk bertanding sepak bola.

Soo A lalu meminta Jae A kembali kesekolah Hyo Eun, Jae A langsung lari kesekolah sambil terus memangil nama Hyo Eun. Soo A lalu meminta Jae a mencari tempat yang lebih tinggi didekat sekolah, ia merasa yakin kalau Hyo Eun pasti ada ditempat seperti itu.

Soo A menutup teleponya, untuk mengurangi kecemasannya ia mengatakan kata-kata ajaib “dia akan datang, dia akan datang” sesaat sms masuk, ia segera melihatnya. Ternyata itu dari Do Woo, ia mengirim sms berisi photo pemandangan yang diambil Annie beserta penjelasan, kalau ia menemukan ponsel lama Annie dan ia menemukan photo yang tak bisa ia kenali.

Ditempat Do Woo, ia memberanikan diri masuk kedalam bangunan itu, seseorang membukakan pintu untuknya. Do Woo dengan sopan mengenalkan diri, kalau ia dulu sering mengantar Annie ketempat ini, tapi pria itu menjawab kalau Annie pergi ke Malaysia.

Do Woo tahu itu, ia bercerita kalau terjadi sesuatu terhadap Annie, jadi ia datang kesini untuk berbicara dengan Ayah kandung Annie. Dengan menghela nafas, pria tadi bertanya kenapa ia sudah lama sekali tak melihat Do woo, dan saat ini ia melihat Do Woo datang ia merasa sesuatu yang serius telah terjadi.


Do Woo menghela nafas, lalu minta ijin apa dia bisa bicara didalam, pria tadi mempersilahkanya masuk. Sampai didalam, ternyata bangunan itu pabrik pembuatan keramik. Pria tadi lalu bercerita kalau setiap kali Annie datang, ia selalu masuk dari pintu masuk lalau jalan lurus sampai ke pintu keluar.

Membuat Do Woo heran tak mengerti maksudnya, ia teringat saat dulu ia sering mengantar Annie ketempat ini, dengan cerianya Annie meminta Do Woo pergi dan menjemputnya setelah satu jam, Do Woo mengatakan kalau Annie bisa tinggal lebih lama lagi, tapi ditolak Annie, ia menjawab kalau ayahnya sangat sibuk jadi 1 jam saja cukup baginya.


Do Woo lalu mencoba melakukan apa yang sering Annie lakukan, ia berjalan dijalan sama sambil mengingat perkataan pria tadi, kalau Annie selalu bilang kalau Ayahnya berjanji akan menemuinya ditempat ini, Annie selalu menunggu dan menunggu, tapi pada kenyataanya tak ada yang datang, dan pria tadi menyimpulkan kalau Annie tak pernah mememiliki seorang Ayah. Sampai dipintu keluar, Do Woo perlahan membukanya dan setelah dibuka nampak pemandangan, ia lalu jalan keluar.

Akhirnya Jae A menemukan Hyo Eun yang sedang duduk ditempat tinggi ia berteriak memanggil pamanya itu. Jae A lega, ia mengatur nafas sambil melepon Soo A, kalau ia sudah menemukan Hyo Eun.


Selesai memberi tahu kakaknya, Jae A langsung mendekati keponakanya dan membantunya turun sambil mengomel. Ia bertanya kenapa Hyo Eun ada disana, dengan ceria Hyo Eun bercerita kalau ia mengikuti tim sepakbola dan meminta bergabung tapi mereka meninggalkanya, karena tidak tahu jalan Hyo Eun memilih menunggu disana, Jae A tak bisa berkata lagi, ia lalu meminta Hyo Eun berkata ke ibunya untuk membelikanya ponsel, yang diiyakan Hyo Eun.

Sedangkan, di Malaysia dirumah Marie, polisi Malaysia memberikan kotak berisi barang bukti atau benda-benda yang dipakai saat terjadi kecelakaanya Annie. Sambil bercucuran airmata, Marie membuka kotak itu, ia melihat satu persatu dengan perasaan sedih, ia menemukan ponsel Annie dan tanpa sengaja memencet tombol panggilan, nampak panggilan terakhir adalah “Ibu”.


Dan si ibu asli terlihat sedang mengawasi pekerja renovasi kamar Annie, ia melamun mengingat percakapan terakhirnya dengan Annie. Ia meminta Annie menepati janjinya untuk tidak kembali ke Korea. Tapi dengan sedih Annie meminta ijin untuk pulang karena ia merindukan keluarganya disana.

Tapi ibunya tetap kekeh meminta Annie menepati janjinya, Annie berusah membujuk ibunya untuk mengatakan sesungguhnya, Annie yakin kalau keluarganya tidak akan menyalahkan ibunya. Tapi dengan sinis, Hye Won menjawab kalau mereka itu keluarganya dan ia tak punya alasan untuk mengecewakan mereka (*Heol bener-bener egois ini orang). Hye Won meminta Annie untuk mandiri dan melanjutkan pendidikannya disana dan membangun masa depan juga disana. Dimana disana Annie bisa bebas dari tugas dan tanggung jawabnya.

Tapi Annie tetap menolak dan ingin pulang, karena ia sangat merindukan, nenek, ayah dan juga pamanya. Ia berjanji akan melakukan yang terbaik dan tidak mengacaukan semuanya. Hye Won lalu bertanya, apa Annie tidak ingin mengetahui dimana ayahnya? Jadi Hye Won meminta Annie menepati janjinya.

Annie menahan kesal, ia tidak perlu tahu itu, ia bisa mencarinya sendiri. Ia sudah membulatkan tekad untuk pulang hari ini dan menceritakan semuanya. Ibunya bertanya lagi, apa Annie bisa melakukannya sendiri? Dan Kenapa ayahnya mengirimkan Annie kepada dirinya? Karena ayah Annie sedang melakukan perjalanan untuk bekerja, karena ayah Annie terlilit masalah keuangan? Apa Annie percaya itu? Lalu.... (suara dibisukan... kita harus sabar menunggu alasan sebenarnya -_- di episode2 selanjutnya)

Kembali ke saat ini Hye Won masih berdiam diri melamun menatap pekerjaan renovasi, sementara Soo A sudah jalan dan sampai didekat eskalator, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia teringat saat Do Woo menunggunya dibangku dekat eskalator, membuatnya menatap bangku kosong didekatnya. Ia lalu membuka ponselnya, dan melihat kembali pesan dari Do Woo, ia mengamati satu persatu photo yang dikirim Do Woo.


Dan orang yang dipikirkan Soo A, sedang jalan perlahan-lahan kehamparan tanah lapang berumput, ia membayangkan saat Annie berdiri disana sendirian sambil memgambil gambar untuk mengisi waktu menunggu.

Soo A mengetik pesan balasan, kalau Annie sedang menunggu seseorang untuk datang, Dia menunggu ditempat yang sama, menunggu dan terus menunggu. Do Woo sendiri sedang teringat saat ia bertemu Annie terakhir kali di Malaysia, Annie berkata kalau sangat menyenangkan untuk merindukan sesuatu, kau hanya perlu menunggu dan menunggu, dan kau akan bertemu lagi itu namanya harapan, karena harapan memberikanya kekuatan.

Kembali kesaat ini, Do Woo mengingat perkataan pria tadi, saat pria itu bertanya kapan Annie akan bertemu ayahnya, Annie menjawab ia pasti akan bertemu dan hanya perlu menunggu dan menunggu, pada kenyataan Annie tidak pernah bertemu dengan ayahnya, karena Annie tak pernah mememilik Ayah.


Karena smsnya tidak dibalas, akhirnya Soo A memutuskan untuk melepon Do Woo, saat diangkat Do Woo dengan sedih bertanya apa Soo A melihatnya? Soo A tanya balik apa Annie sedang menunggu, yang dibenarkan Do Woo, Soo A lalu berkata kalau Annie sedang menunggu karena ia tahu tidak ada yang akan datang.

Do Woo dengan sedih malah bertanya apa mereka bisa bertemu sekarang? Membuat Soo A menghela anfas berat matanya sudah berkaca-kaca, tak ada jawaban dari Soo A, Do woo lalu berkata “aku merindukanmu” ...


Komen :
Episode 4, sedikit-sedikit mulai diperjelaskan ya, dimulai dari Soo A dulu ia pernah tinggal dengan mertuanya dan juga Hyo Eun juga disana tapi sepertinya terjadi masalah diantara kedua orang mertua dan menantu. Mungkin karena itu juga Kapten Park memutuskan mengirim anaknya sekolah keluar negeri, karena melihat sikon mereka yang tak bisa mengawasi Hyo Eun setiap hari.

Lalu, Do Woo dan teman-temanya ini tahu kalau Hye Won itu orang yang egois, jadi yang aku pikirkan alasan sebenarnya Do Woo menikah dengan Hye Won? apa dia benar dulu ada perasaan padanya, atau karena ia sudah merasa akrab dan kasihan dengan Annie? atau ada alasan lainnya?

Lalu Hye Won ini punya kesalahan dan hanya Annie yang mengetahui, tapi Annie ini anak mandiri dan ia juga sudah tahu betul ibunya bagaimana? jadi ia berjanji ke ibunya untuk menutupi masalah ibunya dengan pergi ke Malaysia.

Lalu Soo A, dia ini mencoba sabar dan setia ke suaminya yang keras kepala dan tidak mau perduli, dia selalu mengatakan kata-kata ajaib untuk menghibur dirinya sendiri, kalau ia menunggu, dan menunggu, mungkin ia menunggu untuk suaminya bisa berubah.

Dan mungkin karena terlalu banyak masalah yang terjadi, apalagi ia selalu berkerja dan ia tak pernah keluar dari lingkup bandara, lalu tiba-tiba ia bertemu seseorang yang care denganya bahkan mengerti dirinya, jadi mungkin membuatnya sedikit goyah pada pendirianya selama ini. Tapi ia tahu kalau yang ia lakukan itu salah ia masih punya rasa takut dilihat tangan dan kakinya yang gemetar dan ia juga ingin sekali mengakhirinya, tapi ia merasa sulit untuk mengakhirinya.

Di ending episode 4 ini, sebenarnya yang dirindukan Do Woo itu Annie atau Soo A?, ambigu juga sih. Dan juga Hyun Woo temannya, dia menentang perselingkuhan, tapi eh dia terkesan membantu menutupi, bahkan membantu memberitahu saat Soo A datang *LoL

No comments:

Post a Comment