Saturday, October 1, 2016

[Sinopsis] On The Way to the Airport Episode 3


Hujan masih turun diIncheon, sementara di Sungai Han ternyata tidak turun hujan, bahkan langit mulai terang karena sebentar lagi matahari terbit. Selesai semua abu yang digenggam Do Woo berterbangan tertiup angin dan jatuh ke air sungai, Do woo berusaha menahan tangis walau matanya sudah berkaca-kaca, ia segera berbalik badan dan terhenyak saat ia melihat Soo A menatap dirinya, keduanya sesaat saling menatap sebelum Soo A sadar diri lalu memalingkan pandangannya.


Episode 3

Sementara itu Kapten Park sudah sampai di Kuala Lumpur, dan sedang berada didalam pesawat untuk memberikan briefing singkat ke crew pernebangannya karena mereka akan melanjutkan penerbangan menuju Sidney (*tiba-tiba ingat Finding Nemo). Selesai briefing, Ia dan co-pilot mulai mengecek mesin pesawat dan menyalakannya.

Kembali ke Korea, Soo A sudah sampai dirumah dengan berbagai perasaan dibenaknya, ia masuk kekamar putrinya yang masih tertidur pulas. Saat akan keluar kamar Hyo Eun, Ia mendapat sms dari suaminya yang berisi kalau ia akan memberikan panduan mengenai Hyo Eun, membuatnya semakin dilema ia hanya berdiri mematung menatap tumpukan piring kotor, dalam lamunannya ia teringat ekpresi Do Woo membuat ia mengerjipkan mata untuk membuyarkan lamunannya, ia menggelengkan kepala membuang jauh pikirannya dan segera menggunakan sarung tangan untuk mencuci piring kotor.


Dirumah Do woo, pamannya sudah menunggu dirinya, terlihat saat mendengar suara deru mobil, ia bergegas berlari kepintu untuk menyambut Do woo yang baru saja masuk.  Ia bahkan membantu membukakan pintu mobil, Do woo seakan mengerti ia segera memberi ransel ke pamanya, yang langsung memeluk dan menyapa Eun Woo (Annie), sementara Do woo mengambil koper barang Annie, pamanya heran apa Do woo juga membara barang itu, Do woo tersenyum sambil menerangkan kalau temannya yang membantu membawakanya.


Sementara sampai dikamarnya ternyata istrinya masih tidur dengan nyenyak, membuatnya menghela nafas dan mengingatkanya dengan ekpresi Soo A yang memeluk erat ransel miliknya saat menunggunya mengambil mobil. Do woo memilih membasuh mukanya dengan air dikamar kecil, lalu ia bercermin sambil terus mengingat apa yang terjadi sepanjang perjalanan tadi.

Saat dimobil dengan Soo A yang hanya berdiam diri sementara Soo A sibuk menoleh kearahnya tetapi tak ada sepatah katapun terucap. Dan akhirnya mereka sampai di depan apartement Soo A, saat akan turun Soo A membuka obrolan kalau rasanya seperti ia terbang selama 3 hari, tapi Do woo malah bertanya apa mereka bisa bertemu lagi? Soo A mengiyakan tapi dengan Hyo Eun.


Begitu juga Soo A yang masih kepikiran, ia duduk termenung sembari menatap dua koper didepannya. Sementara Do woo menjemur payung dihalaman depan, dan ia jalan mencari ibunya yang menurut pamanya, ibunya membuat tempat untuk Guci Abu Annie sampai ia jatuh sakit.

Sesaat Hye Won datang membawa makanan, ia menatap payung itu dengan sedikit aneh. Tapi ia lanjut jalan sampai diruang makan ia lekas menyiapkan makanan sambil bertanya ke Do woo apa ditempatnya hujan, karena semalam dirumah tidak hujan, yang diiyakan Do woo, sesaat Hye won berfikir kalau Seoul luas, tapi ia langsung sadar kalau yang turun hujan itu di Incheon, menyadari itu ia langsung pergi kesuatu tempat.

Ia keruang kerja Do woo yang langsung mengambil ransel dan membukanya, ternyata firasatnya benar. Ia panik lalu melihat sekitar dan menemukan koper kecil ia bergegas mengambil dan membongkar isi didalamnya. Do woo datang dengan perasaan lelah melihatnya, ia berusaha menahan istrinya, tapi Hye Won meminta Do woo untuk membuang semuanya, ia cemas dan tak sanggup melalui semua ini, ia takut kalau Annie menulis sesuatu tentang masa lalunya di buku hariannya.

Hye won tidak bisa mengingat masa lalunya yang kelam saat ia melahirkan Annie diusia 20 tahun, sementara ia sendirian harus merawatnya, kuliah dan juga kerja karena ayah Annie meninggalkan mereka, berkali-kali ia memberikan Annie ke ayahnya tapi ayahnya selalu menolaknya. Sementara diluar Nenek Annie dan pamannya mendengar ucapan itu, membuat keduanya sedih.


Do woo tak bisa diam kali ini, ia berkata sedikit meninggi kalau ia tahu semua yang dilalui Hye won, ia juga merasa Annie tidak pernah menyalahkanya, jadi sekarang Do Woo meminta Hye won tidak terlalu merasa bersalah dan mencoba menerima semua ini. Membuat Hye won terdiam, Do woo berkata kalau ia akan membereskan semua barang Annie, tapi ditahan Hye won yang menjawab kalau ia akan mencoba menerima semua ini.

Sementara di kantor Air Asia didalam bandara, Mi Jin sibuk melakukan sesuatu tapi langkahnya terhenti saat mendengar perbincangan dua pramugari yang membicarakan Soo A yang membawa-bawa setrika, bahkan mereka mengejek Soo A dengan sebuta wanita penyetrika.

Sementara yang dibicarakan sedang sibuk membongkar isi koper, ia membuka satu persatu sampai ia menemukan photo Hyo Eun bersama dengan Annie.  Sesaat ponselnya berdering, ternyata itu dari Mi Jin yang melaporkan apa yang baru saja didengarnya, tapi Soo A seperti sudah kebal dan santai mendengar junironya membicarakan dirinya.

Ia malah mencemaskan, apa yang mereka katakan tentang setrika itu, membuat Mi Jin heran dan balik bertanya kenapa Soo A membawa-bawa setrika? Soo A lalu cerita kalau putri Do woo baru saja meninggal membuat Mi Jin terperajat, dan setrika itu milih putri Do Woo. Mi Jin bertanya apa Soo A sudah mengembalikan setrika itu, dengan hati-hati Soo A menjawab kalau ia sudah bertemu denganya dan mengembalikan setrika itu. Dan yang diingat dari pertemuannya itu adalah, Gonghang (bandara), Bi (hujan), dan Sae byuk (pagi).


Lalu ditempat pemakaman, Do woo membawa abu Annie yang sudah dibungkus dengan rapih ke altar yang sudah ia pesan. Setelah ia memasukan abu itu ke dinding tembok, ia lalu menutupnya dan diluar ia memasang photo Annie waktu kecil. Sementara Soo A sibuk membongkar koper yang ia bawa dan ia melihat sebuah peti kayu, saat dibuka ternyata isinya photo Annie dan juga Hyo Eun.

Soo A inisiatif memphoto photo itu dengan ponselnya lalu mengirimnya ke Do woo, yang merasa membutuhkan photo terbaru Annie, ia segera mencetak salah satu photo lalu menempelkannya dinding sambil membalas sms apa Soo A bisa melihatnya, karena kebetulan sekali ia butuh photo Annie, Soo A menjawab kalau ia hanya merasa banyak photo bagus yang sayang dilewatkan.


Sore hari, Soo A menemani Hyo Eun bermain sepakbola disebuah lapangan bersama adik laki-lakinya, sekalian ia bermaksud untuk menitipkan Hyo Eun ke adiknya itu. Adik laki-lakinya heran kenapa anak perempuan suka sekali bermain sepak bola, bahkan Hyo Eun nampak menguasai tekhnik-tekhnik bermain sepakbola, setelah mengiyakan permintaan kakaknya, adik Soo A bergegas menghapiri Hyo Eun untuk bermain sepak bola bersama.

Sementara itu neneknya Hyo Eun sedang pergi ketempat kursus membuat Norigae, tapi tempat itu sepi. Sampai seorang pegawai keluar, dan menjelaskan kalau hari ini tidak ada jadwal mengajar. Membuat nenek Hyo Eun adu mulut, sampai Hye Won datang dan menjelaskan kalau, Nenek Go (neneknya Anie) hanya mengajar saat ia ingin dan itu juga gratis, tapi nampaknya penjelasan mereka tidak diterima nenek Hyo Eun sampai ponsel nenek Hyo Eun berdering, ia lalu memutuskan pergi sambil mengangkat panggilan yang ternyata dari Kapten Park, yang inti pembicaraan keduanya membuat Nenek Hyo Eun terkejut dan frustasi.


Selesai memberitahu ibunya, Kapten Park lalu menelphone Soo A dan membuatnya terkejut juga, lalu ia bersama Hyo Eun bergegas pulang, tapi sayang didepan Apartementnya, mobil pemindah dari jasa pemindah sudah berjalan sambil membawa beberapa barang keduanya, nampak Hyo Eun sangat sedih, ia sampai jatuh lalu menangis, sementara Soo A hanya bisa pasrah.

Sambil mengatur nafas, Soo A menelphone suaminya untuk mempertanyakan kenapa barangnya dan Hyo Eun dibawa pergi? Kapten Park menjawab kalau ia sudah mengirim beberapa panduan, dan untuk sementara Soo A dan Hyo Eun akan tinggal bersama ibunya *toeng. Karena ibu Soo A sudah meninggal, dan Soo A tanpa ijinya membawa kembali Hyo Eun, jadi ia juga tanpa ijin keduanya mengatur semuan ini.

Soo A tak bisa berkata-kata lagi, sementara si suami sedang asyik-asyik minum beer di salah satu caffe yang ada di Sidney. Dirumah, ibu mertua Soo A duduk sambil menahan emosi, Soo A datang dengan hati-hati dan akan bertanya tapi di stop mertuanya dan meminta Soo A untuk tidak bicara apa-apa saat ini karena dia masih syok *LoL.

Soo A melihat sekeliling mencari barang-barangnya yang tak terlihat, tapi saat akan bertanya ibu mertuanya meminta Soo A diam. Akhirnya Soo A pergi sambil mengehela nafas, ia mengeluarkan ponsel bingung siapa yang harus ia hubungi sampai tangannya terhenti saat nama Ayah Annie muncul, tapi ia segera memasukan kembali ponselnya dan memilih kembali ke apartemenya.

Saat masuk, ia berpapasan dengan Mi Jin yang heran, akhirnya ia pergi ke apartemen Mi jin dan merebahkan badannya yang lelah dengan masalahnya, sambil menceritakan apa yang terjadi membuat Mi Jin ikut kesal mendengarnya.

Soo A memeriksa ponselnya, lalu ia menelphone suaminya dengan mode speaker membuat Mi Jin kesal, tapi saat Soo A akan mematikan mode speaker, panggilanya terjawab dan ternyata yang menjawab seorang gadis sambil tertawa mereka meminta Soo A tidak salah paham. Tentu membuat Soo A dan Mi Jin kesal, Soo A lalu menata emosinya, lalu mengangkat telphone terlebih dahulu mematikan mode speakernya, lalu dengan tenang ia menjawab tentu ia tak salah paham.

Sementara dua juniornya minum-minuman dicaffe sambil menertawainya, Soo A mencoba tidak negatif thingking, membuat Mi Jin kesal, apa sungguh ia merasa tidak apa, ia lalu mengatakan hal-hal buruk tentang hotel, Soo A santai menjawab tidak apa-apa. lalu ia bertanya lagi, bagaimana dengan berbicara semalam suntuk, dan jreng yang kepikiran malah percakapanya dengan Do woo dibandara waktu turun hujan itu.

Lalu Soo A tersenyum dan mengatakan itu juga tak apa asal masih diruang publik, membuat Mi Jin sedikit lega dan menyemangati temannya karena sikap masa bodohnya saat ini sangat diperlukan untuk menghadapi situasi saat ini. selesai mengobrol Soo A pamit pulang, sampai diluar Mi Jin mengingatkan Soo A lagi kalau suaminya tidak akan melakukan hal buruk, para juniornya hanya tertarik dengan kharismanya saja, Soo A tersenyum mengiyakan lalu pamit pergi.


Sementara di Sidney, Kapten Park yang baru datang kelihatan mencari sesuatu, ia akan bertanya ke waitress tapi sesaat ia melihat si pramugari junior yang melambai manis kearahnya, seakan menjawab apa yang akan ia tanyakan. Ia bergegas jalan kearah mereka, si junior pramugari yang membawa hp memberikannya ke kapten park yang mengatakan kalau ia menemukan hpnya dimeja tadi.

Pramugari junior tadi juga berkata kalau tadi ia tidak sengaja menjawab panggilan tak dikenal, dengan senyuman Kapten Park menjawab kalau itu pasti dari istrinya, membuat keduanya terdiam, Kapten Park bertanya lagi apa mereka berdua tahu siapa istrinya, yang diiyakan keduanya, membuat kapten Park bersyukur, ia akan pergi saat pramugari junior tadi menawarkan untuk bergabung, ia tidak mau dan sebagai gantinya ia akan membayarkan minuman keduanya.

Membuat si pramugari tadi kesal, ia segera mengambil ponselnya dan sms Kapten Park tapi diabaikan *bwahaha. Sepanjang malam, si pramugari sms menanyakan apa kesalahannya? tapi tetap diabaikan Kapten Park yang sedang asyik nonton konser di TV (*musiknya kek kenal? Mirip musiknya Golden Love *LoL aku belum move on dari Uncontrollably Fond kyaa >_<).

Si pramugari junior itu mengingat pertemuan pertamanya dengan Kapten Park, saat ia pertama kali terbang ke Sidney dan belum punya teman, saat pergi ke caffe sendirian ia bertemu dengan Kapten Park. Lalu keduanya minum bersama sambil mengobrol semuanya semalam suntuk dan merasa sudah akrab bagi si pramugari. Sementara si pramugari masih galau, Kapten Park sudah tertidur dengan nyenyak didalam kamar hotelnya.

Di korea, Hye Won membongkar isi koper Annie , ia mencari apapun yang menyangkut dirinya, sampai ia menemukan buku diary Annie, ia segera mengambil dan membaca halaman per halaman, tapi tak ada tulisan mengenai dirinya, membuatnya semakin penasaran ia lalu mencarinya lagi.


Di caffe sekaligus studio kerja Do Woo, pemilik caffe sudah akan menutup pintu caffe saat mobil Do Woo datang.  Membuatnya membuka kembali pintunya dan mengajak Do Woo masuk, sebelum masuk Do Woo mengingat pertemuan pertamanya dengan Soo A di caffe ini, ia menghela nafas padahal belum ada 12 jam dari ia bertemu Soo A tadi pagi tetapi rasanya sangat lama seperti musim telah berganti.

Begitu juga Soo A, ia melangkah dengan lelah dan stress kembali ke apartemen ibu mertuanya, ia merasa baru sehari tapi banyak sekali masalah yang muncul. Soo A masuk ke sebuah kamar dimana Hyo Eun sudah tertidur, didalam kamar itu ternyata semua barangnya tadi diletakan, Soo A menghela nafas berulang kali sambil menatap putrinya. Sementara Do Woo menatap photo pemandangan malam diruang kerjanya.

Pagi hari di Sidney, Kapten Park sudah bersiap merapikan dasinya didepan cermin, sementara dibelakangnya berdiri pramugari junior kemarin membawakan dua cup coffe hangat. Sambil menasehati pramugari itu, kalau wanita yang merasa akrab dengan pria hanya karena mengobrol semalaman dan membawakan coffe itu adalah jenis wanita yang buruk.

Kapten Park menghargai pramugari itu, karena ia merasa prmugari itu junior istrinya, ia lalu menasehatinya agar keluar setelah limat menit ia keluar, agar tak ada yang lihat dan curiga. Kapten Park lalu pergi duluan, membuat si pramugari tadi kesal meremas cup coffe lalu membuangnya ketempat sampah. Sampai didepan lift, crew lain sudah menunggu dan menyambutnya, saat pintu lift terbuka ia mempersilahkan lainnya masuk terlebih dahulu.


Pagi di Korea, dirumah Do Woo ibunya memberikan sebuah kain buatannya sendiri ia meminta Do Woo memberikannya ke temannya yang membantu membawa barang-barang Annie, membuat Do Woo terhenyak mendengarnya.

Sambil mengemas kain itu, ibunya berkata kalau orang-orang terhubung dengan cara khusus, seperti helai benang demi benang, ada alasan kenapa orang datang dan pergi, hubungan sangatlah berharga. Sementara itu, Soo A dan emaknya mertuanya sedang membaca panduang yang diberi Kapten Park yang membuat keduanya langsung sakit kepala. *hahaha

Akhirnya, Soo A mengantar Hyo Eun kesekolah dekat sana, walau Hyo Eun nampak kecewa, Soo A mencoba menyemangati putrinya itu. Setelah memastikan Hyo Eun masuk, ia berbalik akan jalan saat seorang ibu menatap dirinya, ia merasa tak kenal awalnya sampai akhirnya ia sadar ternyata itu Hyun Joo teman sesama pramugarinya dulu yang sudah berubah drastis bentuk tubuhnya.




Dirumahnya yang sepertinya ia membuka mini caffe, Hyun Joo langsung menyiapkan Ice Cream dengan aneka topping, lalu dengan lahapnya ia memakannya, sepertinya ia menikmati hidupnya, setelah berhenti kerja karena sekarang ia memiliki tiga anak yang harus ia urus. Melihat temannya itu, membuat Soo A kepikiran ingin berhenti kerja, membuat Hyun joo kaget dan melarangnya berhenti, karena Soo A sangat cocok dengan pekerjaan itu.

Keduanya sama-sama cocok, karena tidak pernah bertemu pria lain diluar bandara, jadi mereka bertemu jodoh masing-masing didalam lingkup kerja bandara.

Sementara itu, Do Woo sudah akan pergi kerja ia masuk kedalam mobilnya dan melihat paper bag berisi hadiah tadi. Selesai berbincang, Soo A bergegas kembali kerumah mertuanya, sampai didepan apartemen ia mendapat sms dari Do Woo yang bertanya apa Soo A ada waktu, membuat senyum tipisnya mengembang sebelum membalas ia melihat sekitarnya, lalu ia membalas sms Do Woo menanyakan apa Do Woo ingin bertemu dengannya, ia akan meluangkan waktu.

Sampai didalam kamar putrinya, Soo A duduk sambil menghela nafas menanti sms, tapi Ibu mertuanya duluan memanggilnya. Saat akan keluar, sms balasan masuk yang initnya Do Woo sudah ada didepan apartemen mertuanya, Soo A jadi dilema, ia keluar menemui mertuanya yang ingin berbicara dengannya, tapi Soo A memotongnya dan mengatakan kalau ada hal yang harus ia lakukan, jadi ia mohon ijin untuk keluar, membuat mertuanya tambah kesal *LoL.


Sampai diluar, tepat didepan pintu mobil Do Woo sudah menunggu, keduanya saling memandang sesaat, lalu Do Woo bergegas akan mengambil paper bag, tapi tiba-tiba malah jalan pergi membuat Do Woo sedikit bingung, ia memilih menyalakan mesin mobil lagi dan mengikuti pelan-pelan dibelakang Soo A sampai mereka agak jauh dan ada tempat parkir kosong. Dirasa “aman” Soo A jalan mendekati mobil Do Woo yang berhenti juga.

Soo A bertanya ada apa Do Woo ingin bertemu denganya, Do Woo lalu mengambil papar bag sambil menjelaskan kalau itu hadiah dari ibunya karena Soo A sudah membantu mengemas barang Annie. Belum menjawab, tiba-tiba seorang nenek lewat membuat Soo A refleks merunduk, membuat Do Woo bingung.

Sesaat Soo A berdiri kembali sambil berkata kalau ia mengira nenek tadi ibu mertuanya, ia sadar kalau yang ia lakukan tidak salah kenapa ia takut, seakan mengerti Do Woo hanya diam dan tidak mengomentari lebih lanjut. Ia mengulurkan kembali paper bagnya, Soo A mengulurkan tangan akan menerima paper bagnya, tapi ia menarik tanganya kembali dan berkata kalau ibu mertuanya ada dirumah sekarang, mungkin ia tidak senang melihat Soo A pergi hanya untuk mengambil hadiah. Jadi Soo A ingin lain kali menerima hadiahnya.

Do woo mengangguk mengerti, menjawab tidak apa-apa sambil meletakan kembali paper bagnya diatas kursi. Do Woo tersenyum sambil berkata kalau cara bicara Soo A menarik (mungkin Soo A ini kebawa pekerjaanya jadi dia bersikap sopan juga kekehidupan diluar pekerjaanya). Membuat Soo A kikuk mendengarnya, Do Woo terus menatapnya seakan bisa membaca pikirannya, ia menawarkan tumpangan kalau Soo A ingin pergi karena terlihat wajahnya sangat frustasi.

Soo A terhenyak sebentar, ia lalu menggelengkan kepalanya mencoba menyadarkan diri, ia langsung mengambil paper bagnya dan berkata kalau ia merasa tak ada alasan lagi untuk mereka bertemu lagi. Membuat Do Woo sedikit kecewa, tapi Do Woo mencoba memahami ia hanya mengiyakan lalu pamit pergi.


Do Woo menjalankan mobilnya, dan Soo A masih berdiam diam menatap mobil, Do Woo pun melirik kearah spion atas dan merasa Soo A masih melihat kearahnya akhirnya ia menghentikan mobilnya, ia lalu menoleh kearah spion samping membuat Soo A dilema, ia ingin melangkah tapi tidak ada keberanian, keduanya saling menunggu beberapa saat sampai akhirnya Do Woo menjalankan kembali mobilnya dan benar-benar pergi kali ini.

Mobil Do Woo melintasi sebuah terowongan, sementara terowongan satunya lagi nampak Soo A berlari (heol Tante Kim Ha Neul udah ibu-ibu lari pakai highheels) sampai diluar terowongan ia langsung menuju kepinggiran sungai han yang ada didepan terowongan tadi. Ia sambil mengatur nafas, berkata dalam hatinya, ia memanggil Annie dan bercerita kalau saat ini ia sangat frustasi, dan saat ia berbicara dengan ayah Annie ia merasa bersalah dengan suaminya, dan dia hanya ingin meminta maaf kepada seluruh dunia karena dengan begitu ia merasa punya kekuatan untuk melanjutkan hidup, ia bertanya ke Annie lagi apa ia boleh menjadi teman ayahnya? Walau ia tahu kalau itu alasan yang mengerikan.


Akhirnya Soo A tak jadi pulang, masih membawa-bawa paper bag ia pergi menjemput Hyo Eun. Didepan sekolah nampak anak-anak dengan ceria pulang sambil bercengkerama dengan temanya, kecuali Hyo Eun yang jalan merunduk sambil murung. Hyo Eun memberikan tas yang ia tenteng keibunya sambil mengeluh kenapa ayahnya tak mengijinkanya kembali ke sekolah lamanya.

Soo A mencoba menyemangati putrinya mungkin ayahnya nanti akan mengembalikan dia ke sekolah lamanya. Tapi tetap tak menghibur Hyo Eun yang melempar tas ranselnya ke ibunya supaya dibawakan ia jalan cepat karena kesal, sampai didepan apartemen.

Hyo Eun meminta ibunya untuk mengembalikanya sekolah ke Malaysia, membuatnya ibunya tambah stress, Hyo Eun merasa lebih baik sekolah disana dan ia kesal kenapa ibunya tak membujuknya agar tinggal di Malaysia waktu itu. Soo A menjawab kalau ia selalu mengambil keputusan apa yang paling penting untuknya, menambah kesala Hyo Eun dan ia enggan mendengarkan perkataan ibunya lagi.

Membuat Soo A semakin frustasi, ia menepuk-nepuk dadanya untuk meredakan emosi. Hari mulai malam, Soo A berlari ke jalanan raya ia menyetop taxi, didalam taxi ia menelpon Mi Jin menanyakan nama dan alamat caffe dimana ia mengajaknya pergi ke pesta Ji Eun temannya waktu itu, dengan alasan ia ingin pergi bersenang-senang dengan temannya.


Tapi setelah turun dan memandang caffe didepannya ia dilema kembali dan menyesal kenapa ia bisa sampai pergi ketempat itu, sementara pemilik caffe memandang aneh Soo A yang berdiri termenung lalu tiba-tiba berbalik melangkah pergi.

Sementara dia atas, Do Woo sedang berbincang dengan Ji Eun, yang sedang curhat kalau ia dapat peringatan dari ibunya yang memberi waktu ia 3 tahun, kalau bisnisnya tidak ada kemajuan ia meminta berhenti saja. Sementara bisnis mereka baru 2 tahun dan belum nampak hasil apapun, Do woo mengangguk mengerti sambil berfikir kalau ia melakukan bisnis ini juga sungguh-sungguh bukan mencari pengalaman semata.


Ji Eun juga paham, ia hanya merasa kesal karena keluarganya terus menekannya dan tidak menghargai hasil kerjanya. Tapi perbincangan mereka diganggu pemilik caffe yang berkata kalau ada seseorang yang sepertinya ingin menemui salah satu dari mereka. Keduanya penasaran langsung berlari ke balkon dan menatap ke bawah, nampa Soo A masih jalan disana, Ji Eun merasa tidak mengenal orang itu, sementara Do Woo setelah benar-benar yakin, ia langsung menarik dan meminta Ji Eun pergi *LoL, ia langsung kebingungan mencari ponselnya dan tak menggubris rentetan pertanyaan Ji Eun yang penasaran dengan wanita itu.

Tak kunjung menemukan ponselnya, Do Woo berteriak memanggil Hyun Woo (pemilik caffe) untuk minta bantuan. Akhirnya Hyun Woo yang lari-lari mengejar Soo A dan terkejar juga, ia memanggil Soo A yang membuatnya bingung. Sementara Do Woo masih sibuk mencari ponselnya, Ji Eun masih membuntutinya dan berbicara sendiri kalau ia selalu dipihak Do Woo padahal orang yang diajak bicara mengusir-ngusirnya *LoL, akhirnya ia pergi juga.

Bertepatan Soo A sampai didalam caffe, Hyun Woo menunjukan kemana Soo A harus pergi saat Ji Eun keluar keduanya berpapasan. Tapi Soo A terus jalan masuk, sementara Do Woo merasa tak kunjung menemukan ponselnya, ia memilih pergi keluar pas Soo A akan jalan menaiki tangga lalu keduanya bertemu pandang.


Sementara ditempat lain, Hye Won sibuk dengan pekerjaannya bersama seorang temannya, awalnya mereka berbicara tentang pekerjaan. Sampai temanya itu bercerita tentang suami Hye Won yang berbisnis dengan Ji eun yang kelihatanya tidak berkembang sama sekali, temanya juga bercerita kalau saat ini semua orang sedang membicarakanya karena tiba-tiba ia menikah lalu ia mengatakan punya seorang anak lalu ia kembali belajar dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa? temannya bertanya apa Hye Won baik-baik saja, merasa terganggu Hye Won tidak ingin menceritakan apa yang dirasakanya saat ini karena itu menyakitkan baginya, jadi ia meminta bicara tentang pekerjaan saja.

Sampai diatas distudio kerjanya, Do Woo mempersilahkan Soo A yang masih ragu-ragu untuk masuk kedalam. Do Woo bertanya seharusnya Soo A tidak berpergian sambil membawa-bawa hadiahnya, membuat Soo A semakin bingung ia masih nampak ragu-ragu dengan apa yang ia lakukan. Do Woo mencoba ceria dan menawarinya minum? Yang diiyakan Soo A dengan ekpresi frustasi.


Do Woo menatap Soo A sesaat lalu ia tersenyum lalu duduk sambil berkata kalau ia merasa senang melihat Soo A disini. Membuat Soo A menghela nafas dan mengerjipkan mata, ia lalu sedikit berani cerita masalahnya, yang tiba-tiba saja suaminya memindahkan semua barangnya ke rumah mertuanya, Do Wo mengangguk mengerti sekarang kenapa waktu ia mengantar Soo A pulang, ia salah pergi kerumah dan harus berbalik arah lagi.

Soo A lalu cerita sambil terus menghela nafas berat, kalau ia sudah berpergian membawa-bawa hadiah karena ia merasa terlalu banyak hal rumit yang terjadi. Ia tadi ingin mengiyakan saat Do Woo mengajaknya berpergian tapi ia tak memiliki keberanian melakukan itu. Do Woo menatap Soo A lagi-lagi ia mengatakan kalau ia senang Soo A ada disini, seakan mengerti apa yang dimaksud Soo A membuat Soo A terhenyak dan merasa aneh.

Soo A berkata kalau ia setiap hari bekerja, mengurus rumah tangga dan juga anak, diluar sana banyak orang yang melakukan hal sama dengannya, tapi entah mengapa ia merasa sulit. Saat melakukan penerbangan ke kota asing, ia menyempatkan diri untuk pergi jalan-jalan dan saat angin bertiup kearahnya ia merasa semua kekhawatiranya ikut terbang bersama angin.

Sementara Soo A bercerita, Do Wo tak sedikitpun mengalihkan pandangannya. Soo A lanjut berkata, kalau Saat seperti itu membuat Soo A berfikir kenapa ia merasa khawatir, setelah itu ia merasa semangatnya kembali lagi, dan perasaan seperti itu ia rasa sama saat ia bersama dengan Do Woo.

Membuat Do Woo terus menatap Soo A sambil berfikir, ia menghela nafas dan hati-hati menyimpulkan, kalau ia sekarang juga mengerti apa maksud itu sekarang adalah pujian terbesar yang pernah ia dengar, ia berkata sambil tersenyum. Keduanya saling menatap satu sama lain, sementara diluar sebuah mobil nampak masuk kedalam dan ternyata itu Hye Won.

Setelah turun dari mobil, Hye won mengeluarkan ponselnya menelphone Do Woo, dan getar ponsel menyadarkan Soo A yang melongok-longok mencari sumber getaran, sambil bertanya ke Do Woo ia merasa mendengar dering telepon, dan Do Woo masih enggan menyudahi suasana itu dengan santai mengatakan kalau itu bukan apa-apa.

Hye Won terus menelpon sambil menaiki anak tangga dan kebetulan Hyun Woo keluar hendak membuang sampah ia kaget dan ikutan cemas, untung Hye Won ketinggalan brosurnya dan memilih kembali kemobilnya, kesempatan itu Hyun Woo gunakan untuk menelpon Do Woo.

Diatas keduanya masih asyik menatap satu sama lain, tapi deringan kedua kalinya, membuat Soo A akhirnya pergi mencari telepon dan tanpa sadar meletakan paper bagnya diatas meja dan akhirnya ketemu (*Heol naluri emak-emak ya selalu bisa menemukan barang yang hilang). Setelah ketemu ia memberikannya ke Do Woo yang langsung mengangkatnya.

Hyun Woo berkata kalau ia tidak tahu kalau ia membantunya atau mengganggunya, tapi Do Woo menjawab kalau tak ada hal mendesak... tapi Hyun Woo memotong dan berkata kalau Hye Won ada disini sekarang. Membuat raut wajah Do Woo berubah, ia lalu menutup telepon dan langsung memegang kedua pergelangan tangan Soo A yang kaget dan bingung.


Dengan hati-hati Do Woo berkata kalau ia memperbolehkan Soo A kembali kapanpun yang ia mau, tapi saat ini sepertinya istrinya datang jadi ia meminta Soo A untuk pergi menemui Hyun Woo. Membuat Soo A tersadar kembali, ia menuruni anak tangga dengan mengumpulkan sekuat tenaganya walaupun nampak kecemasanya menjalar kekakinya yang gemetaran.

Sementara dibawah, Hye Won sibuk membongkar bagasi mobilnya mencari sesuatu, Hyun Woo mencoba menutupi pandangan Hye Won sambil bertanya apa yang dicarinya untuk mengulur waktu, sesekali ia melirik kearah Soo A dan memastikan situasi aman. (*sampai disini aku tidak bisa menentukan sikap dimana harus berdiri membela siapa, rasanya semuanya salah kyaaa >_<).

Dan akhirnya Soo A sudah sampai duduk dididepan bar, Hyun Woo menyajikan segelas beer untuknya, lalu Do Woo turun lewat tangga dari dalam, ia berhenti melangkah, lalu menatap Soo A yang duduk membelakangi dan saat itu Hye Won masuk dan menyapanya.

Do woo menjawab kalau ia hendak keluar, tapi ditahan Hye Won dan mengajaknya untuk minum beer tapi ditolak Do Woo. Hye won mencoba mengerti sambil meminta Hyun Woo satu gelas beer untuk dibawa pulang, tapi Hyun Woo menjawab kalau beernya sudah habis, membuat Hye Won sedikit kecewa, dan saat itu dengan refleks Soo A menggeser gelas beernya dan mengatakan ia tak apa-apa, membuat kedua pria tadi langsung menatap tajam ke Soo A.


Sementara Hye Won yang tak tahu apa-apa, jalan saja lalu mengambil beer dan berkata kalau ia akan membawanya dan meminta Do Woo untuk membayarnya nanti. Setelah itu Hye won langsung pergi dengan segelas beer ditanganya diikuti Do Woo dibelakangnya. Sebagai gantinya, Hyun Woo memberi segelas slopy kecil minuman lain untuk Soo A lalu pergi meninggalkannya, Soo A mencoba menenangkan diri ia lalu meminumnya.

Lalu, ia teringat semua kejadian saat terjadi gerhana bulan, lalu hujan dibandara waktu itu, saat ia pertama kali berkenalan dengan Do Woo, lalu keduanya semalaman mengobrol sambil menunggu barang Annie, lalu hal yang terjadi malam ini saat ia menceritakan semua masalahnya. Lalu kembali lagi saat terjadi  bulan, pilot yang memberitahunya ada gerhana mengatakan kalau saat gerhana bulan terjadi rasanya seluruh tubuh rasanya terbakar... tetapi...


Kembali ke saat ini, Soo A bergumam, apa yang ia rasakan ia samakan dengan saat ia melihat gerhana bulan, rasanya seluruh tubuhnya terbakar tetapi tidak ada yang terjadi padaku.

Next : On The Way to the Aiport Episode 4

Komen :
Ini jenis Melodrama yang diawal saja sudah memberikan banyak teka-teki, di episode 1-2 aku harus mengulang beberapa kali untuk mengerti, tapi masih belum yakin mengerti, tapi setelah episode 3-4 sedikit yakin apa yang kumengerti hohoho.

Yang masih bingung, jadi Perajin Nona Go itu ibunya Hye Won? jadi Do Woo itu menantu gitu ya? terus Hye Won punya anak pas ia masih mudah sekitar umur 20 (umur korea) berarti habis lulus SMA dia punya anak.

Dan anaknya itu Annie (Eun Woo) dan ayah Annie yang masih Misteri itu enggak bertanggung jawab dan enggan mengasuhnya. Dan mungkin Hye Won membesarkan sendiri Annie sembari dia melanjutkan sekolahnya dan juga bekerja mencari uang, sampai ia ketemu Do Woo sekitar lima tahun lalu dan menikah. Hembt?

Lalu keluarga Soo A, jadi dulu saat ibu kandungnya masih hidup Hyo Eun diasuh ibunya jadi Soo A dan suaminya bisa menikmati pekerjaan mereka yang jarang dirumah itu. Tapi masalah muncul ketika ibu kandungnya Soo A meninggal, lalu mereka mencoba menitipkan Hyo Eun ke mertua Soo A yang ternyata enggan mengasuhnya.

Jadi, akhirnya Kapten Park mensekolahkan Hyo Eun ke luar negeri yang ada asrama dan juga sekolah yang bagus. Pertama Kapten Park mengirim Hyo Eun sekolah ke Selandia Baru tapi Soo A membawa kembali Hyo Eun, lalu ia memutuskan mengirim Hyo Eun ke Malaysia dan hal itu terulang lagi.

Ya baru itu sih yang ngeh aku tangkap sebatas asumsi ku sendiri hahaha 

No comments:

Post a Comment