Thursday, June 16, 2016

[Sinopsis] Mirror of The Witch Episode 10

Mirror of The Witch 10


Kembali adegan terakhir episode 9, Seo ri teringat saat menemui kakaknya yang sakit dan ketakutan melihatnya dan mengusir pergi Seo ri, dan membuat perlahan langkah Seo ri mundur dan langsung  lari pergi, Joon langsung menyingkirkan pedang Seol gae dan lari mengejar Seo ri, begitu juga Seol gae sementara Poong yeon masih syok berdiri mematung sesaat sebelum tersadar lalu lari mengejar mereka, ditengah jalan Poong yeon berpapasan dengan Yo kwang.

Joon menahan Seo ri dan bertanya kenapa Seo ri lari, apa karena kakaknya tidak tahu apapun? Seo ri bingung mau berkata apa? apa ia harus berkata kalau ia dikutuk dan ia kakaknya bisa mati jika didekatnya, tanpa mereka sadari Seol gae mendengar pembicaraan keduanya. Joon tak bisa memaksa lagi, tapi setidaknya Poong yeon pasti ingin mendengar penjelasan dari Seo ri, dan Joon juga menasehati Seo ri untuk tidak lari dan bersembunyi lagi, Seo ri melihat plakat harapan yang ia bawa tadi.

Sementara itu Poong yeon berbincang dengan Yo kwang, yang ia bersyukur melihat Yoon hee dan Yo kwang hidup. Sementara Yo kwang kelihatan khawatir, ia minta maaf tak bisa memberi kabar, dan ia juga memohon agar Poong yeon menganggap tidak bertemu mereka, mendengar itu membuat Poong yeon murka, sejak kecil ia selalu mendengar ayahnya bicara begitu, tapi kali ini ia tak mau tahu, ia akan melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Dikejauahan, Seo ri, Joon dan juga Seol gae jalan mendekat, tanpa berkata lagi Poong yeon langsung lari ke arah Seo ri dan langsung menariknya kedalam pelukan sembari bersyukur Seo ri masih hidup. Seol gae langsung membuang muka enggan melihat itu, sementara Joon menatap keduanya dengan sedih, perlahan Yoon hee menangis didalam pelukan kakaknya itu.

Disungsuncuhun, tiba-tiba para pasukan keamanan kerajaan datang dan langsung menangkap para ninja dukun, tinggal Hong joo sendirian didalam. Dari luar Hyun seo hanya bisa melihatnya sambil menghela nafas, Kasim park datang untuk menjelaskan, kalau semua ini perintah Ibu suri agar Hong joo bisa melakukan ritual doa dengan tenang, Hong Joo hanya tersenyum sambil meminta kasim park menyampaikan ucapan terimakasihnya pada Ibu suri.


Ibu suri senyum tak percaya mendengar laporan kasim park, dan beliau memintanya untuk terus mengawasi pergerakan Hong joo dan Raja, yang diiyakan Kasim park. Sementara dipinggir pantai pagi buta masih terlihat kabut disana,  terlihat Joon duduk dengan Seol gae sedangkan Yo kwang berdiri ketiganya menatap Poong yeon yang sedang bicara dengan Seo ri agak jauh dari mereka.

Joon bertanya apa hubungan saudara mereka sangat spesial? Tapi seol gae enggan menjawab dan hanya menatap tajam kearah keduanya. Sementara Poong yeon bertanya kenapa Yoon hee sampai ditempat itu, Seo ri bingung menceritakannya (*saya juga bingung mau manggil Yoon hee apa Seo ri :D), Poong yeon menduga apa karena Joon? Tapi Seo ri langsung menyangkal, dan menjawab kalau ada suatu hal yang harus ia urus.


Seo ri lalu bertanya tentang ayahnya? Tapi Poong yeon malah balik bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi lima tahun yang lalu, tapi Seo ri seperti masih berat untuk bercerita, dan Poong yeon tak mau memaksa dan menenangkan Seo ri tidak apa kalau masih belum bisa becerita, karena mereka akan bertemu kembali untuk membicarakan hal ini.

Saat itu dua orang pengawal kerajaan datang mencari Poong yeon membawa berita dari kerajaan, kalau Raja sedang mencari Poong yeon. Walau berat Poong yeon akhirnya pergi, sambil ia memperingatkan Joon tentang urusan mereka yang belum selesai.

Sampai diistana, Poong yeon langsung menghadap ke Raja, untuk mendengarkan curhatan Raja yang sedang merasa tak berdaya karena kekuasaannya diambil alih Ibu suri. Ia meminta Poong yeon mencari putri yang dikutuk, karena sumber penyakitnya itu berasal dari sanga putri. Poong yeon bertanya, apa Hong joo yang mengatakan hal itu? Membuat Raja tersinggung merasa direndahkan karena mendengar perkataan seorang dukun.


Melihat sikap Poong yeon, Raja langsung mengatakan kalau Ayah Poong yeon selamat dan sedang memanipulasi Ibu suri, mendengarnya membuat Poong yeon kaget, saat diantara kegamanangan itu, Raja terus menekannya dengan pertanyaan kesetiannya, Jika nyawa Raja terancam apa yang akan Poong yeon lakukan? Tentu Poong yeon menjawab akan menggunakan segenap jiwanya untuk melindunginya, membuat senyum Raja mengembang.

Ia lalu meminta Poong yeon untuk memutuskan hubungan dengan Ayahnya, demi melindungi dirinya dan juga demi negara. Jadi intinya Raja memerintahkan Poong yeon secara diam-diam menyelidiki ayahnya, dan jika si putri masih hidup, ia harus membawa kehadapan Raja, tentu perintah Raja kali ini membuat dilema besar bagi Poong yeon.


Sementara Yo kwang dan Seo ri jalan pulang melintasi keramaian kota, dengan Joon tentunya yang terus menatap keduanya yang jalan sambil diam. Ia mencoba mencairkan suasana sambil mengoceh tentang mereka yang merasa gagal, karena mereka berfikir akan bertemu dengan Si jubah merah, yang diiyakan Yo kwang. Saat asyik bercengkerama, tiba-tiba ada keributan yang menarik perhatian mereka.

Ditengah-tengah kerumunan orang ternyata, para pelayan Ok sedang menyeret Soon deok yang tubuhnya terikat tali, mereka lalu mengikatnya ke sebuah pohon didepan Ok, dengan tuduhan menghina seorang bangsawan. Joon langsung lari mendekati kerumunan warga yang menonton, begitu juga dengan Seo ri dan Yo kwang.

Soon deok meronta-ronta dan berteriak merasa tak bersalah, membuat Ok jengkel, ia berdiri lalu jalan mendekat sambil memeringatkan orang-orang agar mematuhi perintah, karena ia akan memebri contoh dengan menyeret keliling Soon deok dan menggantungkannya ke pohon karena telah menghina sistem kerajaan dengan menghinanya, warga langsung mengangguk mengerti.

Soon deok tak punya rasa takut, langsung menyumpahi Ok, dan berkata kalau percuma menjadikannya umpan karena Joon tak akan muncul. Mendengar nama Joon, langsung membuat Seo ri dan Yo kwang menoleh ke arah Joon yang sudah geram menahan emosi sedari tadi. Ok semakin kesal dihina seperti itu, ia langsung mengarahkan pedanganya, Yo kwang bertanya apa mereka memancing Joon keluar, tapi Joon langsung menundukan kepala berbalik pergi, tapi langkahnya tertahan.


Saat mendengar Ok mengumpat tentang rakyat jelata yang harusnya tahu diri, dan mereka baru sadar saat orang tua mereka dihukum, kata-kata itu menohon Joon yang sudah hilang kesabaran langsung berbalik berlari ketengah-tengah kerumunan menghajar anak buah Ok satu persatu untuk bisa sampai ketempat Soon deok dan menebas tali dengan pedangnya.

Ok dan anak buahnya masih kelimpungan berusaha berdiri, Joon meminta Soon deok siap-siap untuk lari, begitu juga Yo kwang memberi kode ke Seo ri untuk lari, dan saat waktu yang tepat keempatnya langsung lari dari kerumunan massa dan juga kejaran Ok beserta anak buahnya, Yo kwang ikut membantu menghalangi jalan Ok dan anak buahnya, sambil membantu Seo ri lari juga.

Akhirnya mereka lolos dari kejaran, dan bersembunyi dibalik sebuah dinding tinggi, sambil mengatur nafas, Yo kwang kesal kenapa Joon malah membuat kekacau seperti ini, Joon masih termakan emosi dan meminta ketiganya menunggu sementara ia langsung pergi lagi, Seo ri tanpa babibu malah ikut kemana Joon pergi membuat Yo kwang hanya bisa pasrah membiarkan keduanya pergi, tinggalnya dengan Soon deok yang saling menatap aneh *LoL

Sementara Ok jalan kepayahan sambil mengeluh kemana perginya Joon, dari belakang Joon memukul anak buah Ok sampai pingsan lalu ia memukul Ok dan membawanya ke suatu rumah. Ok jatuh tersungkur dengan wajah memar dipipi, Joon langsung keluar dan akan menutup pintu sampai Seo ri sampai, Joon meminta Seo ri untuk menunggu diluar lalu menutup pintu.


Joon yang dikuasai emosi, mengarahkan pedangnya ke leher Ok dan memintanya menghentikan semuanya. Ok mencoba duduk sambil menjawab, kalau ia juga berat melalui hidupnya karena Joon lahir, ia jadi dibanding-bandingkannya dengannya, dan juga ibunya tidak akan meremehkanya. Joon tak bergeming dengan alasan Ok, ia lalu bertanya apa itu sebab Ok membunuh Ibunya, yang langsung membuat Ok tersentak, ia mengelak kalau bukan ia yang membunuhnya.

Joon langsung meminta Ok melihat sekitar yang membuat Ok tersadar dimana ia berada sekarang, tak lain tempat dimana Ibu joon terbakar waktu itu. Joon yang sudah tak punya rasa takut, mengatakan akan menyelesaikan semuanya disini dan menaikan pedangnya membuat Ok ketakutan dan berusaha menghindar sambil memohon kepada Joon.

Tapi Joon tak perduli lagi, ia terus mendesak Ok sampai disalah satu dinding dan akan menebaskan pedangnya, diluar Seo ri berfikir ia meremas roknya untuk meyakinkan diri lalu masuk kedalam, untuk menghentikan langkah Joon. Seo ri memohon Joon untuk tidak melakukannya, begitu juga Ok memohon pada Joon tapi Joon tetap mengayunkan pedangnya, membuat Seo ri langsung menundukan kepala tak berani melihat.


Sementara itu, Poong yeon langsung lari ke kuil Taoist, dan didepan sudah berdiri ayahnya, dan keduanya saling menatap penuh keharuan. Dan kembali kekeadaan Joon yang ternyata tidak sampai hati membunuh Ok, kesempatan itu Ok gunakan untuk langsung lari kabur, Joon lemas jatuh terduduk sambil menyesalinya, dan saat itu perlahan-lahan seseorang jalan mendekatinya, yang ternyata itu arwah ibunya.

Joon perlahan mengangkat kepalanya dan terhenyak melihat Ibunya memandang sendu, Joon tak kuasa menjatuhkan airmatanya sambil berujar menyesal karena menjadi anak lemah yang tak bisa membalas dendam. Ibunya menghela nafas, lalu duduk didepan Joon dan mengusap airmata putranya itu, Joon mengulurkan lengannya yang ternyata bisa menyentuh tubuh ibunya, sesaat ibunya berdiri lalu tersenyum padanya sebelum pergi.


Saat arwah Ibunya menghilang, tanda dibelakang telinga Joon juga ikut menghilang. Tinggal Joon yang masih terisak, Seo ri yang berdiri dibelakangnya sedari tadi, perlahan duduk dibeelakang Joon dan menepuk-nepuk punggungnya Joon untuk menguatkan, di dalam kuil chungbin, salah satu dari delapan lilin yang tersisa menyala sendiri. 


Saat lilin harapan menyala, tentu berimbas ke Hong joo yang sedang melakukan ritual di Sungsunchun langsung meraung-raung kesakitan sampai muntah darah, pikirannya langsung menuju ke Seo ri yang pasti berhasil menyalakan satu lilin.

Sementara, poong yeon sedang berbincang-bincang dengan ayahnya bertanya kabar masing-masing setelah lama tidak bertemu. Hyun seo tidak bisa pulang, karena ada satu hal yang harus ia lakukan terlebih dulu. Hyun seo juga bertanya tentang Yoon hee, dengan tersenyum Poong yeon menjawab kalau ia sudah bertemu Yoon hee.


Hyun seo bertanya apa perasaan Poong yeon belum berubah, dengan yakin Poong yeon menjawab kalau ia tak akan penasaran lagi tentang yang terjadi lima tahun lalu, dan apapun yang terjadi perasaannya tak akan berubah, dan ia juga tidak akan melepas Yoon hee lagi. Ayahnya bertanya lagi, jika ia harus mati karena perasaannya itu? Apa dia tidak akan berhenti? Tanpa berfikir lagi Poong yeoon mengiyakan walaupun harus mati ia tak akan berhenti.

Di depan Sungsunchun banyak sekali pengawal yang berjaga, tiba-tiba sebuah bola asap berisi obat tidur menggelinding diantara mereka, membuat mereka langsung jatuh tertidur. Ternyata itu perbuatan Si Jubah Merah yang dipanggil Hong joo yang heran padahal tak ada yang menyalakan lilin, tapi lilinnya menyala, karena itu ia tak bisa menunggu lagi untuk bertemu sang putri, ia lalu pergi dengan Si Jubah merah sambil membawa guci PM.

Didesa, Soon deok jalan mendahului Joon, Seo ri dan Yo kwang sambil terus menggerak-gerakan tubuhnya. Joon bertanya apa dia baik-baik saja? Soon deok menjawab kalau ia cemas maka seharusnya ia memberinya 300 nyang sambil mendekati ketiganya. Soon deok melihati mereka satu-persatu sambil berkata kalau ia enggan terlibat perbuatan kotor tepat dimuka Yo kwang *bwahaa.

Joon masih cemas, apa Soon deok punya tempat bersembunyi dari Heo Ok yang mungkin akan lebih kejam, dan menawarkan tinggal bersama mereka (*beh Joon itu rumah siapa emang? Eh bukan rumah juga sich :P) Yo kwang langsung menolak dan mengatakan kalau rumahnya bukan penampungan pengemis, tentu perkataan Yo kwang membuat Soon deok kesal, ia merasa Yo kwang lebih pantas dianggap pengemis karena model  rambutnya *wkk.


Membuat Yo kwang langsung melirik kearahnya, dan mengomel siapa yang dimaksud pengemis? Soon deok santai dan memotong perkataan Yo kwang kalau ia tidak suka berhutang jadi santai saja, ia tak akan menginap ditempat Yo kwang, Soon deok juga berpesan kalau Joon butuh bantuannya, Ia bisa mencarinya ditempat penginapan Ban chon dengan uang tentunya, karena bantuannya tidak gratis, yang dijawab Joon dengan senyuman geli.

Dikuil Taoist, Hyun seo membuka lembar terakhir buku Grimoire dan melihatnya sambil berfikir sesuatu, tiba-tiba lilin diruangannya mati dan Hyun seo merasa gelagat buruk. Ternyata sebuah asap hitam melayang kekediaman Ibu suri yang tertdidur sementara semua dayang dan pengawal diluar jatuh tergeletak diluar.

Didalam asap itu berubah menjadi PM yang lalu jalan mendekati Ibu suri, sambil memanggil-manggil Ibunya yang terbangun dan kaget melihat anakanya. PM memohon ibunya menyelamatkannya, tapi Ibu suri memalingkan wajahnya dan berusaha tidak menghiraukan anaknya itu, merasa tidak dianggap PM berbalik jalan keluar, tapi Ibu suri akhirnya pergi mengikutinya juga.


Sampai diruang tengah, PM berhenti dan berbalik dengan wajah menderita memohon pada Ibunya untuk menyelamatkannya karena saat ini ia sangat menderita, membuat Ibu suri tersiksa bathinnya, apalagi saat dari belakang muncul Hong Joo dengan gucinya.

Hong joo marah dan mengeluarkan sihirnya ke guci yang membuat PM langsung berteriak kesakitan membuat Ibu suri emosional dan memaki Hong joo yang tak mau kalah merasa dikhianati karena Ibu suri berpihak ke Hyun seo, Hong joo semakin mengencangkan mantranya membuat arwah PM jatuh kelantai sambil berteriak menahan sakit, saat itu Hyun seo datang meminta Hong joo berhenti, dan sesaat Hon joo menghentikan mantranya.

Tapi hanya sebentar, Hong joo membaca mantranya kembali, membuat arwah PM berguling-guling terasa tercekik, Ibu suri dilema antara PM atau sang putri? Hyun seo meminta Ibu suri untuk tidak terpengaruh ucapan Hong joo, sambil ia menganyunkan pedang tapi sayangnya tangan kanan Hyun seo ikut terkena sihir Hong joo yang membuat tanganya lemah dan menjatuhkan pedangnya.

Saat kesempatan itu, Hong joo mengencangkan mantranya dan semakin membuat arwah PM histeris kesakitan, Ibu suri tidak tega melihat putranya sakit seperti itu, ia memohon Hong joo berhenti, sementara Hyun seo berusaha mengambil pedangnya kembali dan meminta Ibu suri untuk tidak kalah dari Hong joo, tapi Ibu suri tidak kuasa, akhirnya Hyun seo mengambil keputusan menebas arwah PM sehingga kembali kedalam Guci.


Membuat Ibu suri syok, dan tentunya Hong joo marah langsung mengulurkan guci PM mempersilahkan Hyun seo menghancurkannya, agar arwah PM bergentayangan selamanya dibumi tanpa memiliki badan. Tangan Hyun seo masih gemetaran, ia lalu memindahkan pedang ketangan kiri yang tak terkena sihir, ia lalu menaikan pedangnya siap menghancurkan Guci PM sambil berterimakasih karena Hong joo sudah menunjukan kartu Asnya.

Dan saat perang emosi tersebut, tentu yang kalah Ibu suri yang akhirnya mengaku kalah dan akan membebaskan Hong joo dari pengawasan. Membuat Hyun seo menjatuhkan pedangnya, Hong joo tersenyum menang dan menasehati Ibu suri supaya berfikir siapa yang sebenarnya akan menyelamatkan PM dirinya atau Hyun seo?

Sampai dikuil chungbin, Seo ri dan Yo kwang tertegun melihat lilinya menyala sendiri, padahal tak ada siapapun yang menyalakanya. Yo kwang bertanya atau mungkin tanpa sengaja, Seo ri mengambulkan permohonan seseorang, tapi Seo ri langsung menggeleng sambil berfikir, kalau ada seseorang yang meminum ramuannya.


Sementara Joon masih merenung sedih dikamarnya, saat akan menoleh ia kaget karena tiba-tiba didatangi Yo kwang dan Seo ri sekaligus, apalagi Yo kwang langsung menubruknya penuh gembira, ia bertanya apa yang terjadi sebenarnya? *hahaha. Seo ri menjelaskan kalau karena Joon lilinya menyala satu apalagi ngomongnya pakai senyum yang manis, duar bikin Joon ikut senyum-senyum sendiri.

Yo kwang senang karena mereka tak perlu plakat harapan lagi untuk menyalakan lilin, tapi Yo kwang berfikir lagi bagaimana caranya mereka mengetahui harapan mereka, apa mereka harus menanyakan satu persatu, sesaat membuat ketiganya muram lagi. Tapi Seo ri segera memotong dengan mengatakan itu nanti saja dipikirkannya, karena saat ini hatinya sangat senang sambil senyum manis lagi, membuat Joon curi-curi pandang ikut senyum juga *ciee ehem-ehem.

Dirumah, Poong yeon berdiam diri merenung perkataan Raja untuk diam-diam menyelidiki ayahnya yang menurut dukun telah menyembunyikan putri, jika benar Poong yeon harus mencari putri dan membawa kehadapannya. Sementara dikuil Taoist kerajaan, Hyun seo sedang meneliti tanggal lahir Raja dan juga PM yang ternyata cocok antara satu dan lainnya, jadi karena itu membuat Hong joo melakukan semua ini.

Hong joo kembali ke markasnya dulu ditengah hutan, ia meletakan Guci PM lalu jalan kesuatu tempat lalu melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum. Ditempat itu sudah terdapat Seo ri berambut putih yang terikat, lalu perlahan-lahan jalan Raja mendekatinya tapi sampai dekat Raja berubah menjadi PM dan dengan pedang ditangannya siapa membunuh Seo ri, yang ternyata semua itu mimpi Seo ri yang terbangun ketakutan.


Esok pagi, ternyata semalaman Seo ri tak kembali tidur, ia hanya duduk merenungi mimpinya, ia lalu mengambil kotak didekatnya dan menbukanya yang isinya lonceng emas, ia memanikan lonceng itu sambil berfikir sesuatu. Seo ri lalu keluar berbicara dengan Yo kwang yang akan pergi keluar mencari cara agar bisa menyalakan lilin kembali. Seo ri hanya ingin meminta ijin, membawa Poong yeo ke kuil Chungbin saat bertemu dengannya hari ini.

Sementara Poong yeon dan Seol gae pergi ke pasar, Poong yeon melihat penjual sepatu, tapi ia merasa tak cocok lalu ia pergi kepadang lain tapi tak cocok juga, sampai pergi ketempat penjual hiasan rambut, ia bingung memilih, akhirnya ia minta tolong Seol gae memilih mana yang paling cantik. Enggan-enggan Seol gae menunjuk satu yang langsung diambil Poong yeon, tapi Seol gae ternyata nampak tertarik dengan yang lain dan mengambilnya, Poong yeon melihat dan bertanya apa Seol gae suka, tapi Seol gae segera mengelak dan mengembalikannya.


Setelah mencari hiasan rambut, Poong yeon pergi ketempat penjual (pembuat) baju, setelah memilih-milih model dan kain, si penjual bertanya ukuran baju gadis yang akan dibelikan baju, tentu membuat Poong yeon bingung karena tak tahu, ia melihat sekeliling akhirnya ia melihat Seol gae dan lagi-lagi dijadikan kelinci percobaan, ia mendorong Seol gae memaksanya dijadikan model ukuran, sipenjual tadi langsung menarik dan mengukur tubuh Seol gae yang tak berkutik *hehehe.

Sementara dikuil, Seo ri heran kenapa tiba-tiba Joon tidak mau diajak pergi keluar padahal ia sudah janji akan menemaninya pergi bertemu kakaknya. Joon tiduran dengan tampang sedih menjawab kalau sesungguhnya ia tak sanggup melihat hantu-hantu yang gentayangan diluar lagi, Seo ri tak percaya bukankah Joon sendiri yang bilang kalau ramuan itu sudah hilang efeknya *LoL


Joon langsung pura-pura sakit perut dan bergulingan kesana-kemari, membuat Seo ri jengkel dengan sikapnya yang jadi aneh? *bwahaha Joon lagi merajuk enggan dijadikan obat nyamuk :P, akhirnya Joon tak punya alasan lagi, ia lalu duduk didepan Seo ri sambil meminta Seo ri tak usah bicara formal dengannya, bicara biasa saja. Langsung dijawab Seo ri kalau mereka itu tidak dekat jadi tak bisa berbicara banmal (alias informal) membuat Joon manyun kesal dan mengusir Seo ri pergi sendiri, tapi Seo ri kekeh mengajak Joon ia akan menunggunya diluar. *Wkk

Poong yeon jalan lurus saja sampai di pinggir sungai/laut? Sama seperti tempat kemarin ia ketemu Seo ri. Seol gae heran dan bertanya mau pergi kemana Poong yeon yang tersadar dan berbalik lagi, tapi ditahan Seol gae yang seakan mengerti maksud tuannya, ia usul agar Poong yeon tetap disitu, ia yang akan pergi mengambil baju ditempat penjahit, yang diiyakan Poong yeon.


Tapi sebelum Seol gae pergi, Poong yeon memberikan jepitan rambut yang dilihat Seol gae waktu itu, mungkin saat ini Seol gae tak butuh tapi suatu hari nanti Seol gae pasti menggunakannya, membuat Seol gae terhenyak sambil menerima. Sampai ditempat penjual, ia menunjukan hasilnya sambil meminta Seol gae mencobanya sudah pas apa belum, yang langsung ditolak mentah-mentah.

Tapi penjual itu terus memaksa Seol gae, yang akhirnya mau mencoba juga, ia tersenyum manis sambil mengenakan hanbok, dan terlihat dadanya yang penuh sayatan luka dan dibahu kanannya ada simbol yang mirip dengan simbol yang ditunjukkan Man weol waktu itu. Setelah selesai memakai hanbok, Seol gae mengambil jepitan rambut pemberian Poong yeon tadi dan mengenakannya, ia senyum sambil berkaca tapi perlahan senyum itu memudar.


Hyun seo melaporkan hasil analisisnya ke Ibu suri, ia menjelaskan kalau Hong joo tahu kecocokan tubuh Raja dan PM jadi sejak awal ia sudah mendekati Raja untuk hal itu. Ibu suri menyeringai, pasti Hong joo melakukan semua ini pada akhirnya ingin menguasai tahta kerajaan. Tapi Hyun seo punya pendapat lain, mungkin Hong joo melakukan ini untuk membunuh sang putri, membuat Ibu suri terhenyak kenapa putri harus dibunuh, PM?

Hyun seo menjelaskan, kalau Putri hanya bisa dibunuh saudara kembarnya yang tak lain PM, karena dengan begitu kutukan keluarga Kerajaan akan hilang. Ibu suri syok kenapa putranya harus menanggung beban mengerikan seperti itu? Ibu suri sakit kepala sambil meratapi nasib PM yang malang.

Hyun seo berkata lagi kalau nasib mereka akan ditentukan pada hari bersimbol ayam jantan dianatra pukul 7 sampai 9 malam, dan pasti Hong joo akan berusaha menangkap sang putri. Ibu suri cemas, lalu apa yang harus ia lakukan, Hyun seo terdiam sejenak sebelum mengatakan kalau ada seseorang yang mau mengorbankan nyawanya demi mematahkan kutukan sang putri, mendengar hal itu membuat harapan Ibu suri kembali.

Dilain pihak, Hong joo melapor ke Raja, setelah ia menangkap sang putri, ia akan segera melakukan upacara pembersihan kutukan. Dan ia meminta ijin menggunakan tubuh Raja, membuat Raja bertanya apa yang akan Hong joo lakukan, dengan senyum liciknya Hong joo menjawab kalau Raja hanya akan tidur selama beberapa hari, yang diiyakan Raja dengan iming-iming kesembuhan baginya.

Yo kwang pergi ke sebuah kuil, dan ia melihat lentera hitam dengan sebuah surat yang langsung ia ambil dan baca, setelah membaca isinya. Yo kwang langsung lari kedalam, yang ternyata Hyun seo sudah menunggunya, dan keduanya bertemu dalam haru. Yo kwang bersyukur melihatnya tuanya itu masih hidup, Hyun seo bangga karena Yo kwang berhasil menjaga Seo ri selama ini.


Yo kwang geleng kepala, ia merasa gagal karena segel jimat di Kuil Chungbin rusak karena ia tak bisa menjaganya. Tapi Hyun seo geleng kepala, dan berkata kalau yang merusakan segel itu dirinya, membuat Yo kwang heran tak mengerti. Hyun seo lalu bertanya tentang orang yang menjadi jimat hidup Yoon hee. Yo kwang tambah heran bagaimana Hyun seo tahu, tapi Hyun seo hanya mengangguk sambil meminta tolong sesuatu ke Yo kwang.

Sepanjang jalan, Joon terus merajuk pura-pura tak mood dengan sesekali memetik daun atau menendang-nendang udara kosong. Yoon hee menghela nafas, sambil bertanya kenapa Joon terus bersikap seperti itu? Joon manyun sambil meminta Seo ri tak usah menghiraukannya karena ia tidak sedekat itu *pftt. Seo ri mengalihkan pembicaraan dan bertanya apa Joon mau dibuatkan nasi bola lagi, tentu membuat Joon heran, Seo ri menjelaskan kalau saat orang sedih, terus membicarakan tentang hal menyenangkan misalnya makanan yang manis akan melupakan kesedihan itu, Joon menyeringai dan menjawab kalau itu tak akan memengaruhinya.


Seo ri berfikir lagi, ia lalu tiba-tiba berbalik menatap joon manis banget, sambil menawarkan arak beras manis, yang membuat Joon terpesona *bwahaha, Seo ri senyum senang rencananya berhasil dia bangga kalau memikirkan makanan manis bisa membuat seseorang senang, Joon senyum malu-malu sambil mengangguk-angguk *cielah Seo ri dia suka dirimu, bukan makanan manisnya hahaha

Saat-saat manis begitu datang perusak suasana :D, seseorang memakai pakaian gelap dan penutup wajah tiba-tiba dari balik semak-semak melempar pisau kecil kearah mereka, dan terkena bahu Joon yang langsung sigap berdiri didepan Seo ri untuk melindunginya, orang itu tak berhenti dan terus-terusan melempari mereka, membuat Joon menarik Seo ri lari menjauh.

Saat itu, Poong yeon sudah didekat mereka dan melihat Seo ri lari dengan Joon menghindari serangan, Poong yeon langsung cemas lalu ikut lari mengejar mereka, padahal Seol gae juga sudah tiba dan melihat tuanya tiba-tiba lari.

Sampai ditengah hutan, Joon mendorong Seo ri agar terhindar dari satu pedang kecil yang melayang kearahnya (sebenarnya itu suriken tapi aku merasa aneh nulisnya :P) dan saat keduanya berpisah, tiba-tiba bola asap muncul dan membuat keduanya pedih untuk melihat. Saat itu pria yang menyerang tadi, mendesak Joon semakin menjauh dari Seo ri sampai keduanya berguling jatuh ke dasar tanah landai, dan si pria penyerang berhasil bertahan berpegangan ranting dan mencoba untuk merangkak naik.

Seo ri berdiri sambil kebingungan melihat apa yang terjadi, sementara Joon berusaha naik sambil terus-terusan memanggil Yoon hee ia sangat cemas dengan keadaanya. Sampai diatas pria penyerang tadi kebingungan, ia mmebuka penutup wajahnya yang ternyata itu si Yo kwang.

Ternyata itu perintah dari Hyun seo, yang meminta Yo kwang memisahkan Seo ri dari jimat hidupnya, agar Poong yeon melihat kutukan pada Yoon hee (*aish saia bingung nyebutnya Seo ri or Yoon hee?), jika saat melihat kutukan itu hati Poong yeon tetap tak berubah maka Poong yeon bisa menjadi satu-satu harapan terakhir untuk mematahakan kutukan Seo ri, seperti tertulis dilembar terakhir buku Grimoire hanya pengorbanan cinta sejati yang mampu menyalakan lilin.

Jadi waktu itu Hyun seo sengaja menyobek buku terakhir untuk melindungi Poong yeon yang punya perasaan ke Seo ri. Tapi kali ini ia tak punya pilihan, terutama melihat tekad Poong yeon maka ia mau tak mau harus memilih pilihan ini, dan itu berarti membuat putranya sendiri mati.


Dan terlihat bungkusan berisi baju Yoon hee tergeletak bersama pedang, sedangkan sipembawa bungkusan itu sedang memakai baju berwarna merah terlihat simbol dibahu kanannya dan orang itu memakai topeng si Jubah merah. (*ok Si Jubah merah itu si Seol gae ternyata)


Seo ri berteriak memanggil Heo Joon tapi ia malah bertemu dengan Poong yeon yang kebingungan melihat Yoon hee bisa ada disana, ia cemas dan memegang tangan Yoon hee mengajaknya pergi. Tapi tiba-tiba Seo ri merasakan sesuatu, membuatnya menarik tangannya lalu mundur  beberapa langkah, membuat Poong yeon bingung, tiba-tiba secara perlahan rambut Yoon hee berubah menjadi putih, membuat Poong yeon terperanjat, tanda kutukan masing-masing aktif, melihat itu membuat Poong yeon mundur beberap langkah dan membuat Yoon hee sedih menitikan airmatanya.

Saat itu, Si Jubah merah datang mendekat, Poong yeon langsung menarik pedangnya, tapi tubuhnya lemah karena kutukan itu membuat Poong yeon terjatuh ketanah. Seo ri menoleh melihat Si jubah merah menarik pedangnya, Seo ri langsung menggunakan kekuatan matanya membuat tubuh Si jubah merah terpelanting keudara.


Poong yeon semakin ketakutan melihat kekuatan Seo ri, ia memanggil Yoon hee membuat fokus Seo ri memudar ia menoleh kearah Poong yeon yang merangkak menjauhinya. Si Jubah merah jatuh ketanah, saat lengah seperti itu, Si jubah merah melempar sebuah suriken dengan jimat kepunggung Seo ri yang langsung membuatnya jatuh tersungkur ketanah kedekat Poong yeon berada.


Yo kwang sampai ditempat mereka, tapi tinggal Poong yeon yang meringkuk kesakitan sementara Yoon hee sudah dipanggul dibawa lari Si jubah merah, Joon yang baru sampai langsung lari lagi sambil memanggil Yoon hee saat tahu Yoon hee dibawa kabur, Yo kwang langsung mengikuti Joon melewati Poong yeon yang berusaha keras untuk melawan rasa sakit.

Perlahan tanda kutukan itu menghilang, dan membuat kekuatan Poong yeon kembali lagi, ia lalu berdiri mengambil pedangnya lalu segera lari. Sampai dipersimpangan Joon dan Yo kwang bingung mencari kemana perginya Si jubah merah yang membawa Yoon hee, akhirnya mereka memilih satu jalan yang mereka yakini.


Yoon hee tersadar disuatu tempat, dengan tangan dan kakinya yang sudah terikat, ia berusaha meronta tapi sia-sia, sampai seorang datang melihatnya dan ternyata orang itu adalah Hong joo.


Komen :
Di episode 10 ini banyak misteri akhirnya terkuak, *ya iyalah tinggal enam episode lagi tamat yaelah nape jTBC enggak genepi buat 20 kek, karena buat ukuran Saeguk 16 episode itu apalah :(.

Jadi Hong joo ingin menghancurkan Joseon dengan memilih Raja sesuka hatinya, ia tak mau memilih Raja langsung dari keturunan ya *mungkin untuk membingungkan silsilah Raja atau membuat perpecahan dikeluarga Kerajaan sehingga rakyat tidak percaya lagi pada keluarga Raja.

Dan kenapa Hong joo mengambil arwah PM Soonhwe, ya karena itu satu-satunya senjata untuk bisa membunuh Putri Seo ri saudari kembar PM. Kenapa Hong joo ingin membunuh Seo ri? ya di episode2 awal sudah dijelaskan, kalau kutukan itu terikat dengan sihir hitam Hong joo, jadi kalau Seo ri bisa mematahkan kutukannya maka Hong joo mati, jadi sebisa mungkin Hong joo ingin menghentikan usaha Seo ri dalam menyalakan lilin, dan berusaha sebisa mungkin untuk membunuh Seo ri.

Dan ternyata Si jubah merah adalah Seol gae, aku sejak awal udah berfikir pasti si jubah merah ini cewek, kan anak buahnya Hong joo cewek semua, tapi enggak berfikir sampai ke Seol gae. setelah tahu identitas Si jubah merah timbul pertanyaan tentang arti yang ada pada bahu Seol gae, terus alasan Seol gae berkerjasama dengan Hong joo.

Perasaan Joon juga mulai terlihat di Episode ini ya, jadi enggak sabaran menantikan 6 episode selanjutnya, gak rela sebenarnya mau tamat hiks TT

4 comments:

  1. ooooh aduuh riweuh pisan. Makasih ah post'an nya. di tunggu eps selanjutnya. keren ��

    ReplyDelete
  2. Mbak, aku senang banget sama sinopsisnya apalagi cuplikan adegannya komplit banget. Aku bakalan ngikutin blognya mbak terus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ikut seneng pdhal tulisannya menurutku msh acak2an :D, terimakasih ^^

      Delete