Sunday, March 30, 2014

Memetik arti hidup dari Drama Korea


Sebenarnya kenapa Drama Korea bagus-bagus, mungkin dari sisi orang awam yang baru melihat yang pertama tertuju adalah para aktris dan aktor mereka secara fisik yang bisa dibilang memukau. Jika hanya melihat dari fisik tanpa melihat alur cerita mungkin jika pemerannya tidak sesuai, mereka tidak akan menontonnya lagi.


Didesaku saja, bisa dihitung jari bahkan satu tanganpun tidak full untuk yang benar-benar menyukai Drama Korea, mereka cenderung lebih menyukai sinetron ataupun FTV dan mereka mencotoh gaya hidup mereka, yang kontras sekali dengan kondisi hidup nyata yang mereka miliki.

Sering aku ditertawakan mereka yang main kerumah, hanya karena aku sering melihat Drama korea ataupun film animasi, mereka berkata dengan entengnya padaku "anak kecil" aku yang mendengarnya tidak aku tanggapi dengan santai aku balik menjawab "lebih baik jadi diri sendiri daripada tua belum saatnya" aku terkadang tergelitik mengapa mereka bangga dengan apa yang mereka lakukan.


Jujur semasa bodohnya seseorang, tetap saja dalam hatinya pernah bertanya "mengapa mereka mengusikku?"  -  "apa salahku pada mereka?" -  "Perasaanku, aku enggak pernah ikut campur urusan mereka?" -  "Kenapa mereka selalu ikut campur masalahku" aku juga seperti itu, aku tidak punya teman didesaku, aku tidak pernah bergaul dengan mereka, aku juga tidak pernah ikut organisasi apapun didesa.

Ada alasan mengapa aku seperti itu, aku tak pernah ikut menggosipi apa saja yang terjadi pada orang-orang didesaku. Banyak yang mengajakku membicarakan kejelekan seseorang, aku langsung memotong "bukan urusanku" dengan tegas, orang itu langsung kelihatan tidak senang dengan jawabanku. 

Aku terus berjalan dan melangkah, dan tidak aku percayai ternyata dibelakangku mereka membicarakanku, apapun itu, bahkan orang yang didepanku bermulut manis sekalipun. Hidupku seperti drama korea, mungkin aku melihatnya terlalu ketinggian, tapi aku merasa seperti itu.


Terkadang aku merasa sendirian merasa down dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sepi sendiri dan tak ada seorangpun yang bisa aku ajak bicara. Akhirnya aku melihat drama merenungi makna dibalik cerita, aku bertanya apa benar didunia itu seperti itu, apa benar semuanya akan happy ending? tetapi semakin aku banyak menonton drama semakin aku tahu semuanya tak happy ending.

Sekalipun tidak happy ending, jika ditilik ulang dari awal mungkin itulah jalan terbaik yang diberi Tuhan kepada kita. Mungkin kita melupakan suatu hal saat kita merasa paling menderita, kalau sebenarnya hidup kita sudah memiliki sutradara yang Maha Hebat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.


Terkadang hidup didunia ini seperti didalam Drama, sahabat yang paling mengerti kita paling kita sayangi malah menikam kita dari belakang meninggalkan luka lebih dalam dari orang yang jelas-jelas tidak suka pada kita.

Keluarga, tempat dimana kasih dimulai, tempat berbagi segalanya, tempat dimana kata "Pulang" sangat bermakna, tapi ketahuilah dari sanalah terkadang sumber masalah terbesar dalam hidup kita. Seperti didrama, keluarga saling menyerang, keluarga menjadi musuh karena "Uang" keluarga menjadi "Rival" karena merasa tersaingi dalam segala hal.


Terkadang juga orang lain yang tidak tahu apa-apa ikut mengolok-olok kita, jikapun kita mendengarkan semua perkataan mereka, kita tidak akan pernah benar dimata mereka. Semisal "Kok kamu gemuk?" kita berusaha diet agar kurus "ih kok kurusan, diet ya bla-bla-bla" dan seterusnya jika kita terus menanggapinya kita akan lelah sendiri.

Seperti didrama korea, bagaimana "Status" sangat berperan, bagaimana mereka berlomba-lomba menaikan status dengan segala cara. Hidup tidak semudah di Drama Korea yang hanya beberapa menit seseorang yang tidak memiliki apa-apa bisa jadi kaya raya.

Walaupun kita berusaha keras, sekuat tenaga jika kita melihat hasilnya tetap saja ada yang tidak menyukai kita, mereka akan mencari celah untuk menyerang kita. Seperti di drama, ketika kita sukses disitulah banyak orang yang akan menyerang kita bahkan orang yang terlihat seperti kawan sekalipun.

Tetapi seharusnya hidup berakhir seperti didrama korea, tak ada orang yang abadi didunia ini, Sejahat-jahatnya manusia tidak ada yang seratus persen jahat dan sebaik-baiknya hati manusia tetap saja ada sisi keberanian jika terus dihina dan ditertawai. 


Seperti di drama juga, bahkan Tuhan memberi kasihannya yang tak terduga dengan seseorang yang bukan siapa-siapa kita tapi mau menolong dan berkorban untuk kita tanpa harapan apapun. Saat kita terjatuh Tuhan mengulurkan tangannya lewat seseorang itu, menopang langkah kita dan menghapus airmata kita.

Dan mata pikiran kita terbatas, kita tak bisa menerawang rencana yang telah Tuhan siapkan untuk kita, Seperti di drama korea, kita sudah jalan dijalan benar tetapi kita tetap saja tidak sukses, kita tetap saja gagal dan menderita.

Bahkan orang lain yang menjadi musuh kita yang sering menjelek-jelekan kita dengan mudahnya mendapat kebahagian, dengan mudahnya berada diposisi mereka. Terkadang kita merasa hidup ini tidak "Adil" terkadang kita langsung menyerah dan ingin seperti mereka saja, ingin lari dari jalan yang dijalani.


"beruntung mereka lahir cantik" -  "senangnya mereka lahir kaya" -  "kenapa mereka lebih beruntung dari aku" sedari kecil aku bertanya itu pada diriku sendiri, semakin dewasa aku mulai menemukan titik terang atas pertanyaanku.

Semua yang kulihat membahagiakan belum tentu orang itu bahagia, kembali seperti mereka yang tidak tahu kehidupanku yang sesungguhnya, aku pun begitu tak tahu sesungguhnya apa mereka juga bahagia. Dibalik kesuksesan ada usaha dan kerja keras, "usahamu tidak akan mengkhianatimu" mungkin itu benar.


Seperti aktris dan aktor korea mereka bekerja keras, berlatih, diet mati-matian, perawatan yang memerlukan banyak modal, sebelum akhirnya jadi terkenal. Bahkan terkenalpun tidak menjamin kebahagian, tak sedikitpun aktris korea yang terbilang sukses, cantik, tampan kaya akhirnya mengakhiri hidupnya.


Aku paling suka kata-kata yang aku ambil dari Drama Korea Gu Family Book, yang diucapkan Jenderal lee Soon Shin "Mata babi melihat babi, Mata Budha melihat Budha, Jika seseorang mengatakan orang lain Monster berarti ada monster dalam hatinya" quotenya mengena dihatiku yang membuatku semangat menghadapi hidup ini.

Terkadang kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat saja, terkadang apa yang kita lihat mencerminkan siapa sebenarnya kita. Dari pekerjaanku ini, aku melihat banyak type dan sifat manusia, aku sendiri selama ini tak pernah melihat orang dari "fisik" mereka, karena aku pikir semua fisik manusia sempurna karena itu ciptaan Tuhan, aku melihat dari kesan pertama orang tersebut.


Ada yang sekali kenal saja langsung membicarakan orang lewat, satu orang dia dengan enteng bilang padaku "jalannya pincang, kakinya pendek satu" ujarnya kepada seorang yang lewat didepanku. Aku diam tidak mengomentari, dan beberapa saat aku baru ngeh ternyata orang yang bilang begitu juga cacat.

Satu lagi quote yang aku suka, "Jika kau tak bisa merubah dunia, maka aku akan merubah diriku" dalam artian berubah dalam hal baik, intropeksi diri menghilangi kebiasaan buruk hal-hal yang jelek dari kita sendiri, sebelum menyuruh orang lain untuk berubah. 

Mungkin bukan aku seorang saja yang merasa hidup seperti diatas tadi, bahkan lebih banyak kehidupan ini yang tak terduga. Selagi langit berlapis-lapis, begitu juga kehidupan ini, yang kaya masih ada yang lebih kaya, yang miskin lebih ada yang lebih miskin.


Bukan maksud apa-apa aku menulis, aku hanya ingin sekedar berbagi, sekedar mengurangi beban hatiku, karena aku merasa menuliskannya lebih bisa meringankan perasaanku yang sungguh berat saat ini.
-Salam-
Cr: Pict from Google

1 comment: