Friday, February 14, 2014

Kilas Balik

Belum aktif ngeblog, masih malas-malasan nulis belum tahu harus nulis apa juga, karena ditempat kerja ngga bisa kerja karena Ruang Depan terkena dampak dari Hujan Abu, akhirnya memilih nulis yang memang ingin banget aku bagi.

Ga mau nulis tentang apa, siapa atau apapun, tapi kali ini ingin menulis tentang diriku sendiri. Mungkin bisa berbagi pengalaman buat pembacaku, dan semoga bermanfaat, dan mengambil hikmahnya, trimakasih.

Kita mulai, aku lahir disebuah kota kecil perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat masih masuk Jawa Tengah yaitu Losari perbatasan Cirebon Jawa Barat, setelah lahir aku dibawa ke Cirebon tempat saudara Mami dan pesisir kota Cirebon kebanyakan dari mereka Keturunan Tionghoa termasuk mamiku.

Ketika aku umur 3 tahun, keluargaku pindah ke kota kelahiran Bapak di Jawa Tengah yaitu kota Klaten, kota kecil antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo, waktu itu aku masih anak-anak ga ngerti apapun kenapa dan mengapa harus pindah, ditempat yang berbeda hampir 360 Derajat dari segi budaya, bahasa dan adat istiadat juga sikap orang-orangnya.

Saat aku SD, baru aku menyadari sangat perbedaan itu, ketika sebuah ejekan terlontar dari mulut mereka, aku tidak sedih waktu itu hanya bingung apa yang salah denganku. Waktu berlalu dan aku juga semakin besar dan mulai berfikir, ejekan itu semakin sering terdengar tak hanya dari mulut teman, atau kakak kelas tapi bahkan dari Orang Dewasa sekalipun yang seharusnya memberi contoh bagi anak-anaknya.

Sejak saat itu aku mulai minder, tak percaya diri, jadi pendiam dan prestasiku menurun dulu aku yang selalu juara satu kini untuk 3 besar saja terasa sulit. Aku tak berani bercerita kepada siapapun, semua perkataan mereka aku terima sendirian, bahkan sampai saat inipun masih aku diam.

Mulai aku merasakan benci kepada diriku, kepada keluarga, kepada semua orang, aku bahkan lepas kendali memukul teman sekelasku yang mengejek diriku, membuat orangtua temanku tidak terima padahal teman yang mengejek itu cowok, karena badanku gemuk dan lebih besar darinya jadi sekali aku tinju dia jatuh dan menangis lalu mengadu keorangtuanya.

Tak hanya diriku yang membuat kedua orangtuaku didatangi tetangga yang mengadu karena anak-anak mereka dipukul, kedua kakak laki-lakiku ternyata sama mendapat perlakukan yang tak jauh beda dan karena mereka cowok merekapun lebih berani dariku yaitu mengajak mereka berkelahi sampai berdarah.

Pikiran anak-anak waktu itu seperti berubah dratis, tak lagi aku bisa bermain bebas dengan teman-teman sebaya, aku menjadi pemilih dan kadang tak punya teman, yang terngiang ditelingaku ejekan-ejekan mereka yang mungkin maksudnya bercanda, mengatakan 3 hal yang seharusnya bukan untuk dijadikan bahan lawakan.

3 kata yang dulu sangat aku benci, China, Gemuk dan Miskin, mengapa, mengapa dan mengapa aku sering bertanya pada Tuhan, dan marah padanya, kenapa aku terlahir keturuanan china hingga kulitku paling putih sendiri diantara teman-temanku, kedua kenapa aku memiliki tubuh sangat gemuk yang meurpakan keturunan dari nenek dan bapak dan terakhir kenapa keluarga kami miskin, mereka bilang kenapa keturunan china yang biasanya kaya-kaya kok keluargaku miskin.

Bahkan aku hentikan belajar mengaji di Masjid desa karena ga tahan dengan semua itu, aku hanya bisa pergi bermain dengan kedua kakak laki-laki saja, ingat waktu itu aku duduk didepan rumah kedua anak tetanggaku datang memakai baju baru kembaran yang bagus lalu memamerkannya didepanku, aku tak menangis dan hanya bisa diam.

Waktu berlalu saat SMP, area pertemananku lebih luas, pikiran mereka juga lebih luas tetapi aku terlanjur kurang percaya diri, iri sekali lagi iri menaungi pemikiranku, teman-temanku bisa gonta-ganti hp semau mereka, bisa gonta-ganti tas, jaket dan sepatu semau mereka, sedangkan aku mungkin tas saja satu untuk tiga tahun kedepan.

Aku benar-benar menjadi pendiam, aku hanya fokus belajar jadi lumayan prestasiku selalu mendapat ranking 2 dikelas, aku berfikiran mungkin mereka mau berteman denganku karena aku pintar, dan selalu memberi mereka contekan pr, aku tak perduli tentang semua itu pikiranku sudah tertutup, hatiku juga sudah tak bisa melihat kebaikan hati teman-temanku, banyak yang tak aku perdulikan dan membuatku menyesal kini dan ingin kembali ke masa SMP.

Dan waktu benar-benar berjalan dengan anggun, aku lulus SMP dengan nilai lumayan membanggakan, aku ingin sekali sekolah SMA, tapi apa daya kedua orangtuaku tidak mampu dan menginginkan aku sekolah di SMK agar lulus langsung bisa kerja.

Aku tururi kemauan mereka, mereka juga ingin aku ambil jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) aku juga menurut, karena tak ada niat setitikpun aku sekolah disana. Saat melihat sekitarku, anak-anak yang menurutku keren-keren diantar kedua orangtuanya dengan motor yang bagus-bagus, tas, sepatu ponsel dan dandanan mereka yang tak kalah bagus, membuatku semakin iri.

Saat pengumuman, tak ada orangtua yang mengantar aku berangkat malas-malasan dengan temanku, dan saat pengumuman aku dan temanku ditrima, tak ada seulas senyum dibibirku sama sekali dan Jahatnya aku tak ada ucap syukur terlontar dari mulutku. Temanku yang tertawa bahagia karena ditrima juga berlari memelukku dan aku lagi-lagi hanya bisa diam.

Dan saat hari pertama masuk, ternyata aku beda kelas dengan temanku itu, aku dikelas kedua dengan orang-orang baru yang sama sekali aku tidak kenal. Dikelas pertama aku merasa aku tak punya seorangpun teman, sempat aku meminta kekedua orangtuaku untuk pindah sekolah, dan mamiku dengan wajah teduhnya menjawab dengan alasan yang masuk akal, karena tidak ada biaya untuk menyekolahkanku ketempat lain, mamiku juga terus memberi dorongan kepadaku agar aku semangat sekolah.

Sampai kelas pertama berakhir aku benar-benar tak punya teman, aku yang pendiam, gemuk, kurang percaya diri, dan selalu mengikat rambutku bahkan membuat nilaiku benar-benar terjun bebas aku yang SMP tidak pernah namanya remidi sekalipun tidak pernah, kini aku harus berkali-kali remidi.

Tahun pertama disekolah berakhir dengan biasa saja menurutku, bahkan kedua orangtuaku mungkin kecewa dengan hasil yang kucapai, sempat mereka bertanya lagi apa aku benar-benar mau pindah sekolah. Aku terdiam tak bisa menjawab, sisi egosiku sangat tinggi waktu itu, aku menjadi pemarah dan menyalahkan kedua orangtuaku terus menerus, diawal tahun kelas 2 diadakan piknik bahkan aku meminta harus ikut tanpa memikirkan uang darimana.

Saat piknik itulah mungkin, pikiranku yang tersumbat dengan rasa benci perlahan tersapu angin, aku tak hanya melihat keatas, aku mulai melihat kebawah, anak-anak dijalanan yang mengamen mencari uang, anak-anak yang sudah larut malam masih menjajakan barang untuk mencari rupiah.

Disana aku juga menemukan ada teman-teman yang seperti hidupku tapi mereka mau menjalaninya dan mensyukurinya, aku mau mendengar cerita mereka, berbagi dan aku mulai menyukai mereka, dan menganggap mereka temanku, teman pertamaku.

Pertemanan kami berlanjut, sampai bulan Februari bulan dimana kasih bertebaran, saat itu kami akan PKL dan kami memilih PKL di Yogya aku mulai merasa bersalah sangat bersalah kepada orangtuaku dan kepada kedua kakaku demi agar aku sama seperti yang lain bahkan lebih mereka menyutujui keinginanku tinggal di JOGJA untuk PKL selama 2 bulan.

Saat jauh dari orangtua, saudara saat itulah aku benar-benar dibukakan pikiranku, melihat baju-baju bagus yang dibelikan mami, uang saku yang diberi bapak dan kakakku pertama, dan ponsel kakaku kedua yang keluaran terbaru diberikan padaku agar aku tampil seperti anak-anak orang mampu, padahal aku tahu kakakku juga menginginkan benda itu dan baru beberapa bulan bisa beli sendiri dengan hasil kerjanya.

Oh aku sangat bersyukur dan baru sadar benar-benar sadar, segala dosaku selama ini yang hanya bisa menuntut dengan marah-marah, aku sangat beruntung lebih beruntung dari saudara-saudaraku mungkin, akhirnya aku berhenti marah-marah, dan mulai rajin Sholat dan mengaji lagi.

Dan sejak itu, aku berkata pada mami aku tidak punya keinginan lagi untuk pindah sekolah karena aku punya teman-teman yang baik, dan mamiku tersenyum padaku. Aku tak perduli dengan teman-temanku yang setiap waktu ganti model hp, setiap saat kesana-kemari dengan motor.

Aku senang sangat senang, waktu hujan kami bertiga gila-gilaan dengan nyeker (tanpa alas) sepatu masukan kantung plastik, pakai jas hujan lalu naik sepeda bareng-bareng sambil cerita dan ketawa-ketiwi, betapa hidup ini indah jika kita berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Tiga tahun tidak terasa, dan akhir yang dulu pas awal aku rasa panjang kini berakhir juga, kami bertiga dinyatakan lulus. Dan akhirnya waktu datang menguji sekali lagi, kedua temanku memilih bekerja disukabumi dan meninggalkanku sendirian di kota Klaten karena aku tak mendapat ijin orangtua.

Sedih karena aku tak dapat-dapat pekerjaan, dan dua bulan kemudian aku kerja di konveksi, keberanianku diuji sekali lagi dan rasa minder selalu menghantui, dan akhirnya aku merasa tak betah apalagi terjadi konflik dan akhirnya aku berhenti kerja.

Sedih sangat sedih, lalu aku kuatkan tekad untuk mencari pekerjaan rajin berdoa, dan akhirnya aku dapat pekerjaan. Sempat merasa ga betah diawal tapi aku tak mau menyerah dan mau belajar dari kesalahan. Alhamdulilah dari bekerja disana, aku bisa beli hp sendiri bisa beli baju sendiri, bisa memberi orangtua, adik bisa membeli motor sendiri, dan membantu buat beli Laptop buat adik sekolah.

Dan tak terasa hampir 4 tahun aku kerja disini, dan aku meninggalkan bangku sekolah, masih punya satu asa yaitu aku ingin Kuliah tetapi dilema menghantui saat kebanyakan teman-temanku sudah berumah tangga, sebenarnya sih itu pilihan, dan aku sendiri memutuskan untuk memilih meneruskan mimpi, tak masalah ditengah jalan nanti bagaimana.

Aku ingin kuliah, ingin belajar lebih tinggi, ingin mewujudkan mimpi, dan sekarang ini jika aku mengingat masa kecilku, mengingat hinaan mereka aku menjadi tertawa sendiri, dan sekarang aku malah sangat bersyukur tentang apa yang terjadi waktu kecil.

Pertama karena aku keturunan jadi kini aku tak perlu mengeluarkan biaya mahal agar aku terlihat putih dan kini mereka bahkan iri dengan kulitku yang putih.

Kedua karena dulu aku gemuk, dan sekarang sudah turun karena aku berusaha diet, aku jadi tidak pernah terlintas untuk menghina orang, dan dalam hatiku kini aku melihat semua orang secara fisik itu sama, entah yang kurus, gemuk, canti atau jelek bagiku sama saja yang beda itu hati mereka baik atau jahat.

Ketiga atau terakhir, karena keluarga kami dulu miskin, membuat kami tahan banting, kerja keras dan nggak manja-manja, dan lebih bersyukur bisa membantu mereka yang kekurangab walau baru sedikit-sedikit.

Hembtt, kini aku benar-benar bersyukur, aku punya teman banyak, aku punya sahabat-sahabat yang baik, punya keluarga yang alhamdulilah tidak kekurangan kini, dan masih banyak lagi berkah yang Tuhan berikan.

No comments:

Post a Comment